Sempat Viral di Medsos jamaah yang overload, sehingga tidur saja susah. Benarkah demikian? (FT/IST)

MAKKAH | duta.co – Memang! Memuaskan ratusan ribu orang, bukan pekerjaan gampang. Pun demikian menyaksikan jemaah terlunta-lunta: WC manpet, antre 2 jam, tempat istirahat sempit –menjadi manusia seperti pindang – tidak dibenarkan. Itulah ‘potret tebal’ jemaah haji kita tahun ini.

Sebagian orang mengatakan bahagia bisa menunaikan ibadah haji 1445 H/2024 M. Syifa (32) bersama suami Ainun Naim (34) asal Surabaya misalnya, tak menyangka dapat menikmati berbagai kemudahan dan layanan selama menjalankan ibadah haji.

“Saya merasakan banget, udah dienakkan sama pemerintah. Apalagi untuk ke Haram, bus salawat 24 jam dan gratis. Makan gak kurang-kurang, intinya meski ikut reguler fasilitas vip lah,” ujarnya kepada Tim Media Center Haji (MCH) pada Senin (24/6/2024).

Syifa bercerita, bahwa ia belajar dari kisah para pendahulu yang mengatakan bahwa ibadah haji itu berat. Semua dilakukan sendiri, dari mulai memasak sendiri, makan sendiri, jalan kaki sendiri, semua serba sendiri. Lain halnya dengan saat ini, lanjut Syifa, semua fasilitas tersedia.

“Bener-bener kita di sini dimanjakan. Makan tiga kali, minum tumpah ruah, disediakan mesin cuci gratis. Tinggal ibadahnya dikencengin, karena semua sudah terfasilitasi,” ungkapnya.

Ia memiliki kesan khusus pada layanan yang tersedia di hotel tempatnya menginap di daerah Misfalah. Menurutnya, petugas sangat sigap melayani jemaah apalagi bagi jemaah lansia. “Setiap hari ada kunjungan petugas kesehatan di kamar untuk memastikan bahwa jemaah sehat, ini sungguh luar biasa,” sambungnya.

Tetapi, tidak semua orang bernasib seperti Syifa (32) dan suaminya, Ainun Naim (34). Banyak jemaah yang terlunta-lunta. Ada yang harus kencing seenaknya, ini lantaran antre toilet bisa 2 jam sendiri. Bahkan Tim Pengawas Pelaksanaan (Timwas) Haji dari DPR memberi sorotan tajam terhadap penyedia layanan haji (mashariq).

Timwas meminta agar mashariq jemaah haji Indonesia dievaluasi menyeluruh akibat jemaah banyak yang terlunta-lunta karena terdampak terlambat dijemput hingga tenda yang overkapasitas. Di Mina misalnya, mereka tidur saja susah, karena saking sempitnya.

Beragam masalah mendera mereka, misalnya di Arafah, Muzdalifah hingga Mina yang disebut menjadi tanggung jawab dari pihak Mashariq dan pihak Saudi.

Kemenag sendiri mencatat ada sejumlah masalah yang dialami jemaah haji Indonesia, antara lain keterlambatan pemberangkatan jemaah dari Muzdalifah ke Mina. Jemaah terakhir bisa diberangkatkan ke Mina pada pukul 13.30 waktu Arab Saudi. Ini bikin jemaah kepanasan saat di Muzdalifah. Mashariq yang bertanggung jawab dalam mobilisasi jemaah gagal memenuhi target untuk segera membawa jemaah haji Indonesia dari Muzdalifah ke Mina.

https://duta.co/tidak-cermati-kalimat-tahun-lalu-duta-co-disomasi-kemenag-ri-redaksi-mohon-maaf

Di Mina, sanitasi di sejumlah maktab yang dihuni jemaah haji Indonesia sangat buruk. Air bersih di dapur di sejumlah maktab tidak keluar. Hal ini berakibat pada keterlambatan penyiapan makanan dan distribusinya.

“Kalau pandangan saya, layanan haji tahun ini semakin kacau, semrawut. Sibuk dengan koncoisme, boloisme, sehingga abai terhadap kewajiban melayani jemaah. Amirul hajjnya sibuk dengan WA. Maka, harus ada koreksi total, mutlak,” demikian catatan Tjetjep Mohamad Yasien atau Gus Yasien, praktisi hukum di Surabaya kepada duta.co, Selasa (25/4/24).

Ada video jemaah menjerit. Durasinya 5 menit. Jemaah tampak benar-benar seperti ikan pindang. Saking padatnya orang, untuk ganti baju saja susah. Mereka seperti pengungsi yang berada di barak-barak.

“Pemerintah harus investigasi untuk mendapatkan jawaban yang benar. Kalau seperti itu dibiarkan, maka, saya usul, lepaskan layanan jemaah haji dari Kemenag RI. Jangan biarkan mereka jadi sapi perah,” pungkas Gus Yasien alumni PP Tebuireng, Jombang ini.     (kmg,mky)