CIREBON | duta.co — Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mendorong para pengasuh pesantren untuk melakukan transformasi pendidikan agar mampu menjawab perubahan zaman sekaligus menjadi pionir kemajuan Indonesia.

Hal tersebut disampaikan Zulkifli Hasan saat menjadi pembicara puncak dalam rangkaian lokakarya transformasi bagi 5.000 pengasuh pesantren se-Indonesia di Joglo Agung Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon, Jawa Barat, Jumat (7/8/2026).

Pada kesempatan itu, Zulkifli Hasan hadir didampingi Irfan Asy’ari Sudirman Wahidi atau Gus Ipang Wahid.

Lokakarya yang digelar selama tiga bulan, mulai Juni hingga Agustus 2026, tersebut diinisiasi untuk membekali para pengasuh pesantren dengan strategi transformasi di berbagai bidang.

Peserta angkatan terakhir berasal dari sejumlah wilayah Indonesia bagian tengah dan timur, mulai dari Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Maluku, Papua Tengah, Papua Selatan, Nusa Tenggara Barat (NTB), hingga Nusa Tenggara Timur (NTT).

Lebih dari 400 peserta mengikuti angkatan terakhir tersebut. Seluruh kebutuhan peserta selama tiga hari, mulai dari perjalanan hingga kembali ke daerah asal, ditanggung Imam Jazuli Foundation.

Dalam kesempatan tersebut, Zulkifli Hasan mengapresiasi Pesantren Bina Insan Mulia dan Kiai Imam Jazuli yang dinilai konsisten mendorong transformasi pendidikan pesantren.

“Sebuah kehormatan bagi saya. Apa yang dilakukan Kiai Imam Jazuli ini luar biasa. Waktu saya Ketua MPR, saya datang kemari, saya lihat waktu itu pendidikannya maju sekali. Dan, saya datang lagi sekarang, jauh lebih hebat, lebih maju lagi, dan luar biasa,” ujar Zulkifli dalam siaran pers, Senin (10/8/2026).

Menurut dia, materi yang disampaikan Kiai Imam Jazuli memberikan gambaran mengenai peta jalan pengelolaan pesantren agar mampu beradaptasi dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan perubahan dunia.

“Ini sesuatu yang baru, ke depan perlu jadi program nasional untuk tranformasi pesantren,” kata Zulkifli.

Ia menilai, peta jalan tersebut dapat membantu para pengasuh pesantren memahami cara menyesuaikan lembaga pendidikan mereka dengan perkembangan zaman.

Dengan demikian, pesantren diharapkan semakin diminati generasi muda, menjadi sumber inspirasi, pusat peradaban keilmuan keislaman, serta mengambil posisi sebagai pionir dalam mendorong kemajuan Indonesia.

*Pesantren perlu memahami pentingnya branding*
Selain transformasi pendidikan, lokakarya tersebut juga membekali para kiai dengan pemahaman mengenai branding. Materi ini disampaikan Gus Ipang Wahid.

Menurut Gus Ipang, branding bukan sekadar upaya mempromosikan sebuah lembaga, melainkan cara menyebarluaskan kebaikan dan berbagai hal positif yang telah dilakukan pesantren kepada masyarakat.

“Branding adalah usaha untuk menyebarkan kebaikan yang kita lakukan kepada orang lain sebanyak mungkin. Branding melahirkan persepsi dan persepsi menghasilkan reputasi,” jelas Gus Ipang.

Ia juga menekankan pentingnya memahami karakter masyarakat di era digital.

Menurut Gus Ipang, sekitar 80 persen penduduk Indonesia telah melek digital. Kondisi tersebut membuat pesantren perlu memahami perilaku masyarakat digital agar mampu menyampaikan nilai dan keunggulan pesantren secara relevan.

“Masyarakat lebih menyukai yang orisinal, hal-hal yang menghibur, dan tidak membosankan,” tambah putra alm Gus Sholah ini.

Dengan pemahaman tersebut, para pengasuh diharapkan tidak hanya melakukan transformasi dari sisi internal, tetapi juga mampu mengomunikasikan perubahan dan keunggulan pesantren kepada masyarakat luas.

*Kiai Imam Jazuli ajak pesantren berani bertransformasi*
Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia Kiai Imam Jazuli mengatakan, transformasi pesantren diperlukan untuk merebut peluang sekaligus menjawab tantangan yang muncul akibat perubahan dan disrupsi.

Ia menilai, potensi pengembangan pesantren di Indonesia masih besar. Salah satunya terlihat dari jumlah anak usia sekolah yang memilih pendidikan pesantren.

“Jumlah penduduk usia sekolah dari SD sampai SLTA yang menjadi santri tidak lebih dari 5 persen di Indonesia. Ini peluang untuk berkompetisi. Pesantren jangan bersaing dengan pesantren karena ceruknya masih terbuka lebar,” ujar Kiai Imam.

Dalam lokakarya tersebut, Kiai Imam Jazuli menjadi narasumber tunggal dan membedah berbagai strategi transformasi pesantren.

Materi yang diberikan mencakup perombakan kurikulum, peningkatan layanan pendidikan, brand dan branding, strategi memperoleh beasiswa luar negeri, serta strategi masuk perguruan tinggi negeri (PTN) di Indonesia.

Menurut Kiai Imam, pengalaman Pesantren Bina Insan Mulia menunjukkan bahwa transformasi dapat dilakukan dengan keberanian untuk mengambil terobosan.

“Melalui transformasi pesantren, saya mengajak 5.000 pengasuh ponpes untuk menyiapkan diri menjadi penggerak utama Islam Indonesia sebagai episentrum peradaban Islam di dunia,” tutur Kiai pengusaha ini.

Ia menyebut, sekitar 70 persen lulusan Bina Insan Mulia melanjutkan pendidikan ke luar negeri di 16 negara, sedangkan 30 persen lainnya melanjutkan pendidikan ke sejumlah PTN terkemuka di Indonesia.

“Saya yakin, 5.000 pengasuh pesantren peserta workshop ini bisa menghasilkan transformasi asalkan punya keberanian melakukan terobosan.” kata Kiai Imam.

*Pengalaman peserta buktikan Proses Transformasi*
Dampak strategi transformasi dan branding juga dirasakan oleh peserta lokakarya.

Salah satunya adalah Kiai Haji Reza Aristo dari Maluku. Ia menceritakan pengalamannya setelah memberangkatkan sejumlah santri untuk melanjutkan pendidikan ke Al-Azhar, Kairo, melalui Bina Insan Mulia.

Keberhasilan tersebut kemudian dikomunikasikan kepada masyarakat melalui strategi branding.

Hasilnya, jumlah pendaftar baru di pesantrennya meningkat hingga sekitar 100 santri.

Kiai Imam Jazuli menilai pengalaman tersebut menjadi salah satu contoh bahwa keberhasilan program pendidikan dapat menjadi bagian dari strategi pengembangan pesantren apabila dikomunikasikan secara tepat kepada masyarakat.

*Apresiasi Kiai Imam Jazuli untuk Zulkifli Hasan*
Adapun hubungan baik Kiai Imam Jazuli dengan Zulkifli Hasan telah terjalin sejak kunjungan Zulkifli ke Pesantren Bina Insan Mulia pada 2021.

“Dari situlah, kami intens berkomunikasi melalui berbagai forum dan membahas banyak hal, mulai dari pesantren, Nahdlatul Ulama, politik, dan masalah kebangsaan,” ujar Kiai Imam.

Ia menilai, Zulkifli Hasan merupakan sosok yang rendah hati, humoris, ramah, sekaligus visioner.

Kiai Imam juga mengapresiasi kiprah Zulkifli di bidang pangan. Menurut dia, pengalaman dan kebijakan di sektor tersebut menjadi salah satu kontribusi penting dalam mendorong ketahanan pangan Indonesia.

“Saya bangga memiliki sahabat seperti beliau. Prestasinya di bidang pangan cukup membanggakan. Dengan tangan dinginnya mengurus pangan, Indonesia berhasil swasembada pangan,” pungkas Kiai Imam. (*)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry