MAKKAH | duta.co – Ketua Majelis Syura PKS, Habib Salim Segaf al-Jufri berziarah ke pemakaman umum Ma’la, sekitar 10 kilometer pusat kota Makkah, kemarin. Di sini, banyak makam ulama besar Indonesia. Ada makam Syaikh Ahmad Khatib Sambasi (wafat 1875), Syekh Nawawi Bantani yang menulis 115 kitab dalam bidang fiqih, tafsir, tauhid dan tasawuf.

Juga Syekh Junaid Betawi, selain menjadi Imam Masjidil Haram, juga menjadi rujukan mazhab Syafi’i. Syekh Yasin Padangi merupakan ahli sanad hadits dengan 700 jalur, sehingga mendapat gelar Musnid Dunya, sekaligus pendiri Darul Ulum al-Diniyah Makkah.

Tak terlupakan KH Maimoen Zubair (Mbah Moen) pimpinan Ponpes Al-Anwar Sarang, Rembang yang menjadi penasehat di PBNU dan PPP. “Sosok kecendekiaan dan kepemimpinan menyatu dalam diri para ulama. Ini yang jarang kita temui saat ini,” demikian Habib Salim bersama Ketua Fraksi PKS DPR RI Jazuli Juwaeni dan Bendahara Umum DPP PKS Mahfudz Abdurrahman.

Menurut Habib Salim, kontribusi para ulama asal Indonesia telah mendapat pengakuan masyarakat dunia, termasuk di Masjid al-Haram dan kota Makkah al-Mukarramah. “Ulama asal Indonesia tidak hanya dikenal karena kedalaman dan keluasan ilmunya. Tetapi juga karena sikap dan keteladanannya sehari-hari. Sehingga murid-muridnya tersebar di seluruh wilayah nusantara, bahkan banyak dari negara-negara lain,” tambah Habib Salim.

Sejalan dengan Kebangsaan

Beberapa ulama Indonesia yang dimakamkan di Jannatul Ma’la adalah Syaikh Ahmad Khatib Sambasi (wafat 1875), Syaikh Nawawi Bantani (1897), Syaikh Junaid Betawi (akhir abad 19 M), Syaikh Abdul Haq Banten (1903), Syaikh Ahmad Khatib Minangkabau (1916), Syaikh Abdul Hamid Kudus (1916), Syaikh Mahfuzh Tremas (1920), Syaikh Mukhtarudin Bogor (1930), Syaikh Umar Sumbawa (1930-an), dan Syaikh Abdul Qadir Mandailing (1956). Ulama kontemporer yang belum terlalu lama wafat di kota Makkah adalah Syaikh Yasin Padang (1990) dan KH Maimoen Zubair (2019).

Pengakuan masyarakat dunia antara lain terbukti dengan penunjukan selaku Imam Masjidil Haram dan Khatib kepada Syekh Nawawi Bantani, Syekh Ahmad Khatib Minangkabawi, dan Syekh Junaid Batawi. “Ketiga tokoh tersebut mewakili wilayah yang berbeda di Nusantara, namun memiliki standar keilmuan dan kesalehan yang istimewa. Khusus kepada sosok Kiai Nawawi Bantani, makamnya ada tanda semacam nisan tersendiri,” ujar cucu dari Gurutua SIS Al-Jufri, pendiri Perguruan Alkhairaat ini.

Masyarakat sering keliru, nama Syekh Ahmad Khatib ada dua orang. Pertama yang berasal dari Kabupaten Sambas, Kalimantan kita kenal sebagai guru tarekat Qadiriyah dan Naqshabandiyah, muridnya tak hanya di Makkah, namun juga di Kalimantan dan Singapura.

Sosok kedua, Syekh Ahmad Khatib dari Kabupaten Agam, Sumatera Barat, guru dari para ulama di Sumatera dan Jawa, termasuk KH Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah) dan KH Hasyim Asy’ari (pendiri Nahdlatul Ulama).

Para ulama bersatu dalam nasab keilmuan. Mereka juga bersatu komitmen untuk memperjuangkan Indonesia merdeka dari belenggu penjajahan. “Karena itu, semangat keagamaan sangat sejalan dengan semangat kebangsaan. Tidak ada pertentangan antara kedua aspek perjuangan itu. Generasi sekarang harus mewarisi semangat yang sama dari para ulama,” demikian Habib Salim berharap. (net)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry