SIDOARJO | duta.co  – Pasangan Calon Bupati dan Calon Wakil Bupati (Cabup-Cawabup) Pilkada Sidoarjo 2024, Subandi-Mimik ziarah ke makam Aulia Mbah Sono, Selasa (12/11/24) sore. Foto-fotonya beredar di media sosial. Pun tanggapannya, beragam. Rata-rata memberikan apresiasi atas ziarah ini.

“Ini makam Buyut Mbah Ud (KH. Ali Mas’ud Pagerwojo, Sidoarjo red.). Di sini pula para kekasih Allah SWT banyak belajar. Jarang orang paham, bahwa, inilah pendiri Pondok Pesantren Sono, Buduran yang menjadi rujukan para kekasih Allah. Pak Bandi dan Bu Mimik, tampaknya tahu itu,” demikian komentar Samsul Huda, lelaki Sidoarjo yang gemar ziarah ke makam para wali terlihat duta.co, Selasa (12/11/24).

Sebagai calon bupati dan wakil bupati Kabupaten Sidoarjo, lanjutnya, memang, sebaiknya melakukan ziarah ke makam auliya, terkhusus yang berada di Sidoarjo. “Istilahnya pamit sekaligus mendoakan beliau, kirim doa. Karena hakekatnya beliau-beliau itu tidak mati secara ruh,” tegasnya.

Sebelumnya, memang, tidak banyak yang tahu tentang kewalian Mbah Sono. Kemudian tahun 2022, dilakukan pembangunan ulang makam. Dan, peresmiannya oleh Jenderal TNI Dudung Abdurachman. Pasca direnovasi, Makam Aulia Sono mulai banyak dikunjungi masyarakat Sidoarjo dan sekitarnya.

Keterangan foto www.liputanjatim.com

Area makam Aulia Sono ini luasnya mencapai 3.956 m2 di dalam komplek Guspujat Optronik II Puspalad Desa Sidokerto, Kecamatan Buduran, Sidoarjo. Ada lima makam di dalamnya, yakni makam pendiri Pondok Pesantren Sono, Buduran KH Muhayyin, Hj Asfiyah (istri KH Muhayyin), KH Abu Mansur (putra), KH Zarkasi (putra), KH Said (cucu), dan KH Ma’shum Ahmad (cicit).

Di depan pendopo Makam Aulia Sono, peziarah bisa meluangkan waktu untuk membaca silsilah KH Muhayyin yang tersambung hingga Rasulullah SAW. Pendopo sangat bagus dan bersih sehingga nyaman untuk membaca tahlil. Letak makam berada di sisi timur pendopo, makam juga sangat bersih dan sisi-sisi makam mengunakan rumput sintetis.

Aulia Sono ini menjadi bukti sejarah bahwa Sidoarjo termasuk salah satu pusat keilmuan Islam di masa lalu. Hal ini pun ditegaskan oleh KH Muhammad Abdurrahman Al Kautsar atau Gus Kautsar dalam sebuah kesempatan yang menyebutkan bahwa Sidoarjo di zaman dulu merupakan tempatnya orang alim.

Di samping itu, sejumlah ulama besar pernah nyantri di Sidoarjo. Sebut saja di antaranya Hadratussyeikh KH M Hasyim Asy’ari Pondok Pesantren Tebuireng Jombang sekaligus pendiri Nahdlatul Ulama (NU). Selain itu, ada pula KH Abdul Karim dari Pondok Pesantren Lirboyo dan KH Ahmad Djazuli Utsman Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri.

Di komplek makam ini, almaghfurlah KH Muhayyin dimakamkan bersama istri dan dzurriyahnya (keturunannya). Nyai Hj Ashfiyah (istri), KH Abu Mansur (Putra), KH Zarkasyi (Kakek Mbah Ud), KH Said (Ayah Mbah Ud), KH Ma’sum Ali (Cicit) dan dzurriyah lainnya. “Jadi, ziarah pasangan Subandi-Mimik ini, penting untuk pamit leluhur sekaligus mendoakan arwah para masyayikh,” pungkas Samsul. (loe)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry