Anggota Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) Jawa Timur saat berziarah ke makam Gus Dur.

JOMBANG | duta.co – Semangat toleransi dan kebangsaan yang diwariskan Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) kembali dikenang. Puluhan anggota Himpunan Indonesia Tionghoa (INTI) Jawa Timur berziarah ke makam Gus Dur di kompleks pemakaman masayikh Pondok Pesantren Tebuireng, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Sabtu (7/3/2026).

Kegiatan bertajuk Memori Masyarakat Tionghoa terhadap Gus Dur ini digelar untuk memperkuat nilai toleransi, kebangsaan, serta mempererat persaudaraan lintas budaya dan agama.
Ketua Pengurus Daerah INTI Jawa Timur, Stefanus Budy, mengatakan kegiatan tersebut menjadi momentum mempererat silaturahmi kebangsaan sekaligus mengenang jasa Gus Dur bagi masyarakat Tionghoa di Indonesia.

Menurutnya, peserta kegiatan berasal dari berbagai daerah di Jawa Timur. Sekitar 45 orang datang dari Surabaya, sekitar 20 orang dari Jombang, serta enam orang dari Malang.

“Rangkaian kegiatannya meliputi ziarah ke makam Gus Dur, anjangsana ke pimpinan Pondok Pesantren Tebuireng, serta wisata budaya ke Klenteng Hong San Kiong di Gudo dan workshop Museum Wayang Potehi,” ujar Stefanus di sela kegiatan.

Ia menilai sosok Gus Dur memiliki peran penting dalam membuka ruang kebebasan bagi masyarakat Tionghoa di Indonesia. Kebijakan dan pemikiran Gus Dur dinilai mendorong kehidupan masyarakat yang lebih inklusif dan menghargai keberagaman.

“Bagi kami, Gus Dur adalah tokoh kemanusiaan dan pluralisme. Beliau berani membuka sekat-sekat di antara anak bangsa sehingga masyarakat Tionghoa bisa lebih bebas mengekspresikan budaya, termasuk merayakan Imlek dan menggunakan identitas budaya secara terbuka,” katanya.

Selain ziarah, rombongan juga melakukan kunjungan budaya ke Klenteng Hong San Kiong di Kecamatan Gudo serta melihat workshop kesenian wayang potehi yang menjadi salah satu warisan budaya Tionghoa di Indonesia.

Ketua panitia kegiatan, Phoa Anditya, mengatakan kunjungan tersebut juga menjadi sarana mengenalkan budaya Tionghoa, terutama dalam momentum perayaan Tahun Baru Imlek dan Cap Go Meh.

“Di sana kami melihat workshop wayang potehi. Menariknya, ternyata ada banyak santri yang belajar kesenian ini. Ini menjadi contoh bagaimana budaya bisa menjadi jembatan persaudaraan,” ungkapnya.

Setelah rangkaian kegiatan tersebut, rombongan INTI Jawa Timur juga melanjutkan agenda sosial dengan membagikan sekitar 1.000 paket makanan berbuka puasa kepada masyarakat di kawasan Alun-Alun Jombang.

Bagi komunitas Tionghoa, Gus Dur bukan sekadar tokoh nasional, tetapi simbol keberanian membuka sekat sosial yang pernah membatasi identitas budaya. Melalui berbagai kebijakan di masa pemerintahannya, masyarakat Tionghoa kembali bisa mengekspresikan budaya secara terbuka.

Karena itu, mengenang Gus Dur bagi INTI bukan sekadar nostalgia sejarah, melainkan upaya merawat semangat kebangsaan yang inklusif.
“Harapannya kegiatan seperti ini tidak terputus.

Kami ingin terus merawat memori tentang Gus Dur sekaligus memperkuat kerukunan lintas agama, suku, dan budaya di Indonesia,” pungkasnya. (din)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry