SEMANGAT: Tampak ratusan siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan Madrasah Persiapan Tsanawiyah (MPTs) NU Tasywiquth Thullab Salafiyah (TBS) Kudus, Jawa Tengah saat mendengar kisah-kisah heroik para kiai. (FT/MUSEUM NU)

SURABVAYA | duta.co – Wajah-wajah sumringah memenuhi ruang perpustakaan Museum Nahdlatul Ulama (NU), di Jl Gayungsari Timur 35 Surabaya,  Kamis (31/1/2019).

Tak ada capek, meski telah menepuh perjalanan panjang. Itulah para siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan Madrasah Persiapan Tsanawiyah (MPTs) NU Tasywiquth Thullab Salafiyah (TBS) Kudus, Jawa Tengah, yang tetap antusias mendengar kisah-kisah heroik para kiai.

Kisah Alquran yang memanjang dari Timur Tengah

Saifuddin SPd, petugas Museum NU memberikan pejelasan pentingnya generasi NU mengetahui kisah perjuangan para kiai. Para Kiai, pada saat itu, tidak hanya berkutat di pesantren, para suhada ini juga angkat senjata (pusaka) melawan penjajah, merebut kemerdekaan RI.

Saifuddin juga menceritakan benda-benda kuno yang berhasil diselamatkan Museum NU. Termasuk bagaimana para kiai Indonesia melawan rencana pemberangusan makam Nabi di Madinah, Arab Saudi. Museum NU juga menyimpan surat balasan Raja Saudi Arabia saat itu.

Militansi warga NU dalam menghidupi organisasi tercermin dari ianah syahriyah.

“Ini menjadi bahan edukasi (penting) bagi anak-anak kita. Ke depan mereka lebih paham bagaimana perjuangan para kiai dalam merebut kemerdekaan republik ini,” jelas Mas Udin, panggilan akrabnya saat mendampingi pelajar TBS Kudus melihat satu persatu peninggalan kiai NU.

Hal yang sama disampaikan Zainal Fahmi, salah satu Guru Pendamping kegiatan ziarah dan wisata edukasi 2019. Menurut Z Fahmi, hasanah (perjuangan) NU ini harus terus disampaikan kepada generasi muda NU.

Menyaksikan pusaka dan benda-benda antik kiai yang masih tersimpan rapi.

“Dengan mengunjungi Museum NU,  anak-anak menjadi tahu, kisah perjuangan para kiai. Baik dalam merebut kemerdekaan Republik Indonesia, maupun dalam kegigihannya menjaga paham ahlussunnah waljamaah,” jelasnya.

Selain sejarah perjuangannya, Museum NU juga menyimpan benda-benda kuno yang memiliki nilai penting dalam ke-NU-an. Sejumlah pusaka kiai juga tersumpan dengan  baik, ada sepeda kuno Mbah Wahab, Alquran Raksasa, Batu petir, Kiswah (penutup Ka’bah) pemberian tokoh Sunni Arab Saudi,  juga seragam Banser A. Riyanto yang menjadi korban bom di gereja Mojokerto.

“Yang terakhir ini merupakan jejak konkret, betapa besar kepedulian NU dalam menjaga kerukunan bersama,” jelas Udin.

Ikut mendampingi ratusan siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan Madrasah Persiapan Tsanawiyah (MPTs) NU Tasywiquth Thullab Salafiyah (TBS) Kudus, Jawa Tengah adalah KH Muharrori, Kiai Salim Sag, MPd, Kiai Muslim, KH Muchlas Hannan dan Kiai Ahmad Yunus.

Usai dari Museum NU, rombongan melanjutkan perjalanan ke Atlantis Land Surabaya, kemudian melanjutkan ke Makam Sunan Bonang. (mus)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.