
(Belajar dari Hadratus Syekh dan KH. Faqih Mas Kumambang Merawat Persaudaraan dalam Perbedaan)
Oleh: *Abdur Rahman El Syarif* *)
SETIAP menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama, perbedaan pandangan selalu hadir sebagai bagian dari dinamika organisasi. Para kiai berdiskusi, para pengurus bermusyawarah, warga Nahdliyin bertukar pandangan tentang arah perjalanan jam’iyah. Semua itu merupakan sesuatu yang wajar. Sebab organisasi sebesar NU memang tidak pernah dibangun di atas keseragaman pikiran.
Namun ada satu pertanyaan yang layak kita renungkan bersama.
Mengapa para muassis mampu berbeda pendapat tanpa kehilangan persaudaraan, sedangkan kita hari ini terkadang kehilangan persaudaraan hanya karena berbeda pilihan?
Jawaban atas pertanyaan itu sesungguhnya tersimpan dalam teladan para pendiri Nahdlatul Ulama sendiri.
Salah satu kisah yang hidup dalam tradisi pesantren menceritakan perbedaan pandangan antara Rais Akbar Nahdlatul Ulama, Hadratus Syekh KH. Hasyim Asy’ari, dengan Wakil Rais Akbar, KH. Faqih Mas Kumambang, mengenai penggunaan kentongan sebagai penanda masuknya waktu salat.
Hadratus Syekh berpandangan bahwa penggunaan kentongan tidak dapat dibenarkan. Pandangan tersebut bahkan disampaikan melalui tulisan beliau di surat kabar pada masa itu. Sehari kemudian, KH. Faqih Mas Kumambang menyampaikan pendapat yang berbeda. Beliau berpendapat bahwa penggunaannya diperbolehkan.
Bayangkan. Dua ulama terbesar di tubuh NU. Dua pendapat yang berbeda. Tetapi sejarah tidak mencatat adanya permusuhan di antara keduanya.
Yang dikenang justru kebesaran adab mereka.
Khawatir masyarakat awam menjadikan perbedaan itu sebagai sumber pertikaian, Hadratus Syekh kemudian mengundang para kiai kampung di Jombang. Banyak orang mungkin menduga beliau akan memerintahkan seluruh kiai mengikuti pendapat Rais Akbar.
Ternyata tidak. Beliau justru memberikan kebebasan kepada para kiai untuk mengikuti pendapat yang mereka yakini paling kuat.
Betapa agungnya pelajaran itu. Seorang Rais Akbar tidak menggunakan kewibawaannya untuk memaksa keseragaman. Beliau memilih menjaga persaudaraan.
Kisah itu ternyata memiliki sambungan yang lebih indah lagi.
Ketika KH. Faqih Mas Kumambang mengundang Hadratus Syekh memberikan tausiyah Maulid Nabi di lingkungan pesantrennya di Gresik, beliau mengirimkan surat kepada para pengurus masjid dan langgar agar seluruh kentongan diturunkan sementara selama Hadratus Syekh berada di Gresik.
Perhatikan baik-baik. KH. Faqih tidak sedang mencabut pendapat fiqihnya. Beliau juga tidak sedang menyatakan dirinya salah. Beliau hanya sedang menunjukkan sesuatu yang jauh lebih tinggi daripada kemenangan sebuah pendapat. Yaitu adab kepada guru. Beliau mengajarkan bahwa menghormati ulama jauh lebih mulia daripada mempertontonkan siapa yang benar.
Di sinilah letak kebesaran para muassis Nahdlatul Ulama. Mereka tidak pernah mengajarkan bahwa semua orang harus memiliki pandangan yang sama. Mereka justru mengajarkan bagaimana menjaga hati ketika pandangan berbeda.
Mereka tidak membangun NU di atas keseragaman ijtihad. Mereka membangunnya di atas keseragaman akhlak.
Pelajaran ini terasa sangat relevan menjelang Muktamar NU ke-35.
Hari ini, warga Nahdliyin boleh memiliki pilihan yang berbeda tentang siapa yang paling layak memimpin jam’iyah.
Perbedaan itu bukan masalah. Yang menjadi persoalan adalah apabila perbedaan pilihan berubah menjadi perpecahan hati. Ketika loyalitas kepada kelompok lebih tinggi daripada kecintaan kepada Nahdlatul Ulama. Ketika kemenangan seorang calon dianggap lebih penting daripada persaudaraan yang telah diwariskan para kiai.
Padahal, bila kita menengok kembali perjalanan para muassis, mereka justru memberikan teladan yang sebaliknya.
KH. Hasyim Asy’ari tidak mewariskan kelompok. KH. Wahab Chasbullah tidak mewariskan faksi. KH. Bisri Syansuri tidak mewariskan polarisasi. Yang mereka wariskan adalah manhaj Ahlussunnah wal Jamaah, ukhuwah Nahdliyah, dan khidmah kepada umat.
Sebab mereka memahami bahwa organisasi akan tetap kokoh bukan karena semua orang memiliki pendapat yang sama, melainkan karena semua orang memiliki adab yang sama dalam menyikapi perbedaan.
Dalam tradisi tasawuf dikenal satu ungkapan yang sangat indah.
“Al-adabu fauqal ‘ilm.” Adab berada di atas ilmu. Ilmu tanpa adab melahirkan kesombongan. Kekuasaan tanpa adab melahirkan kesewenang-wenangan Organisasi tanpa adab melahirkan perpecahan.
Mungkin karena itulah para kiai terdahulu lebih dahulu mendidik santri agar berakhlak sebelum menjadi alim. Sebab mereka tahu, ilmu dapat dipelajari dalam beberapa tahun.
Tetapi adab sering kali membutuhkan latihan sepanjang hayat. Menjelang Muktamar ke-35, barangkali inilah saatnya kita kembali bertanya kepada diri sendiri.
Apakah kita sedang memperjuangkan kemenangan calon Ataukah sedang menjaga amanah para muassis? Apakah kita sedang membangun kubu? Ataukah sedang merawat rumah besar Nahdlatul Ulama?
Sebab pada akhirnya, siapa pun yang akan terpilih hanyalah pelanjut estafet khidmah. Jabatan akan berakhir. Kepengurusan akan berganti. Tetapi persaudaraan harus tetap tinggal.
Dan jika ada satu warisan paling berharga yang patut kita bawa memasuki abad kedua Nahdlatul Ulama, barangkali bukanlah nama seorang pemimpin. Melainkan keteladanan Hadratus Syekh KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Faqih Mas Kumambang.
Mereka mengajarkan kepada kita bahwa berbeda pendapat tidak pernah menjadi alasan untuk kehilangan penghormatan. Berbeda pilihan tidak pernah menjadi alasan untuk memutus persaudaraan. Karena sesungguhnya para muassis tidak mewariskan kubu. Mereka mewariskan adab. Dan dari adab itulah lahir ukhuwah. Dari ukhuwah lahir kepercayaan. Dan dari kepercayaan itulah Nahdlatul Ulama tumbuh menjadi rumah besar yang selama lebih dari satu abad menaungi umat, bangsa, dan kemanusiaan.
Jakarta, 1 Juli 2026







































