Oleh Hasyim Wahid*

LIRBOYO sangat layak menjadi tempat pelaksanaan Muktamar NU ke-35. Semua orang sepakat itu. Namun untuk menentukannya tentu harus melalui proses yang prosedural.

Komisi organisasi yang di dalamnya ada KHR Aza’im Ibrahim, Gus Taj Yasin Maimoen, Amin Said Husni, Ulil Absar Abdallah, Gus Fahrurrozi dan kyai2 besar lainnya, telah membahas dan memutuskan 5 tempat sebagai calon lokasi pelaksanaan Muktamar untuk dimintakan pengesahan di dalam rapat pleno.

Kelima alternatif lokasi tersebut akan dilakukan peninjauan oleh tim khusus yang dibentuk oleh PBNU dengan pertimbangan aspek kesiapan, sarana, keamanan dan spiritual. Berdasarkan kajian tim khusus inilah PBNU selanjutnya menentukan lokasi definitif pelaksanaan Muktamar.

Sayangnya setelah pimpinan sidang komisi organisasi menyampaikan hasil musyawarah pada sidang pleno, KIai Said Asrori secara serampangan, otoriter dan dengan gaya preman, mengambilalih forum dan tanpa babibu memutuskan Lirboyo sebagai tempat Muktamar. Tentu seluruh musyawirin, terutama anggota komisi organisasi, kaget. Maka terjadilah kisruh sebagaimana kita lihat.

Alhasil, kelayakan Lirboyo sebagai tempat pelaksanaan Muktamar telah dinodai oleh hawa nafsu dan ketergesa-gesaan KH. Said Asrori. Sosok ini sepertinya layak untuk dievaluasi sebagai Ketua SC Muktamar.

Mensitir kaidah masyhur di pesantren:
مَنْ اسْتَعْجَلَ الشَّيْءَ قَبْلَ أَوَانِهِ عُوقِبَ بِحِرْمَانِهِ
“Barang siapa tergesa-gesa terhadap sesuatu sebelum waktunya, maka ia dihukum dengan terhalang dari sesuatu itu.”

Sikap sembrono Katib Aam PBNU tersebut, telah menghalangi Lirboyo itu sendiri untuk menjadi pilihan terbaik lokasi Muktamar.

Sikap KIai yang juga kerabat Gus Yahya itu, telah memicu pro kontra mengenai Lirboyo sekaligus fitnah yang mengarah kepada Rois Aam, KH. Miftachul Akhyar.

Saya jadi teringat pernyataan ikonik Gus Dur yang menyebutkan bahwa pesantren adalah “NU kecil”, sedangkan NU adalah “pesantren besar”. Ungkapan ini menggambarkan hubungan yang sangat erat dan tidak terpisahkan antara Nahdlatul Ulama dan pondok pesantren.

Oleh karenanya, jangan sampai Lirboyo sebagai pesantren merasa paling NU dibanding pesantren lain. Sudah menjadi rahasia umum, ulah oknum Gus yang satu klik dengan petinggi PBNU harus diakhiri oleh kebijaksanaan para dzurriyah mulia Lirboyo. Adanya indikasi penggalangan dukungan dan aski menebar kebencian plus fitnah yang dilakukan tim Gus Yahya bersama oknum Gus tersebut agar Lirboyo dijadikan tuan rumah Muktamar ke-35 NU merupakan cerminan bahwa cara seperti ini sudah keluar dari pakem pesantren.

Kini kita menunggu sikap bijak Lirboyo untuk mengakhiri polemik ini. Sebagai Pesantren yang pernah sukses menjadi tempat pelaksanaan Muktamar, selayaknya Lirboyo keluar dari pro kontra ini dengan menyatakan ketidaksiapannya menjadi tempat Muktamar NU ke-35. Kita percaya di Muktamar mendatang, tanpa dipaksa pun, Lirboyo akan dipilih PBNU sebagai tuan rumah Muktamar NU.

Mundurnya Lirboyo dari calon lokasi Muktamar tidak akan mengurangi nama besar Lirboyo. Sebaliknya, pernyataan ketidaksiapan Lirboyo akan memantabkan Lirboyo sebagai salah satu jangkar NU yang belakangan mengalami guncangan. Dan Lirboyo akan dicatat sejarah sebagai bagian yang mempersatukan keutuhan jam’iyyah dan jamaah NU bersama pesantren lain di awal abad kedua organisasi pewaris para nabi ini. Al-Fatihah.

*Hasyim Wahid adalah alumni Pesantren Tremas Pacitan.
Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry