Podcast yang dipandu Wakil Rektor 2 Untag Surabaya, Supangat. DUTA/ist

SURABAYA | duta.co – Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya kembali menghadirkan ruang diskusi inspiratif melalui Podclass Warta 17, pada Rabu, 21 Januari 2026, di lantai dua Gedung R. Ing Soekonjono.

Mengangkat tema ‘Green Patriotism, Merah Putih di Tangan Gen-Z’. Podclass ini menghadirkan sosok muda visioner, Revalina Fernanda, Eco Student (Junior) of The Year 2025.

Podclass Warta 17 merupakan ruang dialog edukatif yang digagas oleh Yayasan Perguruan 17 Agustus 1945 Surabaya, sebagai bagian dari komitmen yayasan untuk mendukung literasi kebangsaan, pembangunan karakter, dan penguatan nilai-nilai Merah Putih di kalangan pelajar, mahasiswa, dan masyarakat luas.

Melalui diskusi ini, Untag Surabaya mendorong generasi muda untuk mendefinisikan ulang makna cinta tanah air. Jika patriotisme pada masa lalu diwujudkan melalui perjuangan fisik, kini bentuk baru cinta bangsa hadir melalui kepedulian terhadap lingkungan hidup dan keberlanjutan alam sebagai bagian dari tanggung jawab warga negara.

Revalina Fernanda, pelajar dari SMP Negeri 1 Surabaya yang aktif di Ashoka Young Changemakers, Pelajar Pelopor Kota Surabaya, Duta Internet Sehat dan Aman UNICEF, Duta Lingkungan Hidup Surabaya, dan Duta Pemantik Surabaya, hadir sebagai narasumber utama. Deretan perannya menegaskan bahwa kepemimpinan lingkungan kini tumbuh dari usia yang sangat muda dan bergerak ke arah perubahan sosial yang berkelanjutan.

Dalam sesi diskusi, Revalina mengisahkan awal kepeduliannya terhadap isu lingkungan. “Saya tinggal di lingkungan penuh pabrik industri. Setiap berangkat sekolah, masih pagi udaranya panas dan berpolusi. Itu karena pemanasan global semakin meningkat. Salah satu cara menguranginya adalah melalui aksi nyata menanam pohon. Karena itu, saya memilih untuk bergerak langsung melalui kegiatan penanaman sekaligus memberdayakan masyarakat,” tuturnya.

Salah satu kiprah Revalina yang menjadi sorotan publik adalah budidaya puluhan ribu tanaman bunga telang yang kemudian dikembangkan menjadi produk pangan bernilai ekonomi. Inisiatif ini memperlihatkan bahwa kepedulian lingkungan dapat berjalan beriringan dengan kewirausahaan sosial yang produktif dan berdampak bagi warga.

Ibu Revalina, Yuki Aprianova, menyampaikan apresiasinya. “Saya mengucapkan terima kasih kepada Untag Surabaya yang telah memberikan penghargaan dan dukungan kepada anak saya sebagai pegiat lingkungan. Dukungan tersebut menjadi motivasi besar untuk terus bergerak,” ucapnya.

Podcast ini turut menghadirkan Presiden Organisasi Tunas Hijau, Mochamad Zamroni, yang memberi perspektif tentang lingkungan kampus Untag Surabaya. “Saya melihat Untag Surabaya memiliki gedung-gedung bergaya futuristik namun tetap memperhatikan aspek lingkungan. Air hujan dikelola melalui tanah resapan, pemanfaatan cahaya matahari untuk efisiensi energi, jalur pejalan kaki yang rindang, serta pengelolaan hidroponik yang hasilnya dijual kepada masyarakat. Itu menunjukkan komitmen nyata terhadap keberlanjutan,” jelasnya.

Wakil Rektor II Untag Surabaya – Supangat, Ph.D., ITIL., COBIT, CLA., CISA. menyampaikan bahwa kegiatan ini sejalan dengan arah kebijakan kampus. “Bagi kami, Patriotisme tidak hanya berbicara soal sejarah, tetapi juga tentang masa depan bangsa. Menjaga lingkungan adalah bagian dari menjaga bumi tempat generasi Indonesia tumbuh. Karena itu, Untag Surabaya terus mengembangkan ekosistem eco campus agar nasionalisme mampu hadir dalam bentuk yang relevan, ilmiah, dan berdampak,” ungkapnya.

Kehadiran Eco Student (Junior) of The Year 2025 dalam Podclass Warta 17 menegaskan bahwa program eco campus bukan slogan, melainkan proses menanamkan karakter kebangsaan baru: nasionalisme yang berwujud kepedulian terhadap bumi tempat bangsa ini berpijak. “Dari ruang diskusi ini, Green Patriotism dipahami bukan sebagai konsep abstrak, tetapi praktik keseharian yang dapat dimulai dari lingkungan terdekat,” imbuhnya.

Sebagai Kampus Merah Putih, Untag Surabaya terus memperkuat arah strategisnya melalui pendidikan, riset, pengabdian kepada masyarakat, dan pengembangan kampus yang ramah lingkungan. Cinta tanah air diterjemahkan ke dalam bentuk yang modern dan berkelanjutan sehingga generasi berikutnya tidak hanya mencintai bangsanya, tetapi juga menjaga kelangsungan hidupnya. ril/lis