KOMANDO : Prajurit Kodim 0809 Kediri belajar menanam bibit padi (duta.co/Pendim)

KEDIRI | duta.co -Selain tugas utama Prajurit TNI untuk menjaga keutuhan NKRI, namun dibalik seragam doreng harus memiliki keahlian sebagai bekal hidup bersama keluarga.

Seperti dilakukan 125 Prajurit Kodim 0809 Kediri, mendapatkan pelatihan khusus dari Dinas Pertanian Kabupaten Kediri, pada Selasa (30/04/2019) bertempat di wilayah Kecamatan Plemahan.

Terbagi dalam dua tempat dengan dua materi yang berbeda, para prajurit diajari bercocok tanam bibit padi, di lahan sawah milik Wagino seluas 7.000m persegi di Desa Sukoharjo dan bibit jagung di lahan milik Nur Rokim seluas 3.500 m persegi di Desa Kayen Lor.

Pihak Kodim melalui Danramil Plemahan Kapten Arh. Ajir menjelaskan lahan yang digunakan untuk pelatihan tersebut berstatus milik warga setempat dan atas seijin pemiliknya.

“Lahan seluas 1 bahu atau 7.000 meter persegi di Desa Sukoharjo berstatus milik Bapak Wagino dan lahan seluas 0,5 bahu atau 3.500 meter persegi di Desa Kayen Lor berstatus milik Bapak Nur Rokim,” terang Kapten Ajir, disela-sela pelatihan. Adapun terkait bibit padi dan jagung serta Alat Mesin Pertanian (Alsintan) disediakan Dinas Pertanian.

Program pelatihan ini tidak lepas dari upaya mensukseskan program ketahanan pangan di Kabupaten Kediri, khususnya untuk para Babinsa sebagai Bintara pendamping para petani di desa-desa. Pernyataan ini disampaikan Joko Tri Raharjo, Koordinator Kelompok Jabatan Fungsional Penyuluh (KJFP) Dinas Pertanian Kabupaten Kedirii.

“Dinas Pertanian bekerjasama dengan Kodim Kediri mengadakan pelatihan tanam padi dan jagung. Pelatihan  ini diadakan dalam rangka mensukseskan program ketahanan pangan di Kabupaten Kediri,” jelasnya.

Kegiatan pelatihan digelar sehari, para prajurit diajarkan penggunaan Alsintan, pemilihan bibit berkualitas, teori tanam padi, holtikultura maupun jagung hingga pemahaman tentang jenis pupuk, cara pemakaian dan dosis yang tepat.

“Pelatihan ini diikuti 125 orang dan kita dari Dinas Pertanian menerjunkan orang-orang sesuai bidangnya. Kita disini menyampaikan teori secara benar dan tepat, dari tanam, pemakaian Alsintan sampai pupuk,” sambungnya.

Khusus untuk teori tanam holtikultura, lebih difokuskan pada tanam dasar, dan dilakukan di Desa Kayen Lor, bersamaan dengan teori tanam jagung. Sedangkan tanam padi dan jagung, lebih difokuskan bagaimana tanaman tersebut bisa tumbuh secara normal sesuai jarak antar bibit dan kedalaman tanah.

Tanam padi di Desa Sukoharjo, dilakukan secara manual alias tanpa penggunaan alsintan. Saat praktek, bibit padi ditanam serempak dari arah yang sama. Tanam serempak tersebut dilakukan secara bergelombang dan tiap gelombang diikuti 25 orang. (nng)