Ketua LPPM Unusa, Dr Istas Pratomo. DUTA/dok

SURABAYA | duta.co – Sebagai universitas yang baru lima tahun berdiri, Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) patut berbangga. Karena banyak prestasi yang diraih baik oleh dosen dan mahasiswa serta lembaga.

Prestasi kali ini adalah lolosnya 47 proposal penelitian dosen yang mendapatkan hibah dari Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti).

Ditambah 3 pengabdian masyarakat (pengmas) yang juga mendapatkan dana dari kementerian pimpinan Mohammad Nasir itu. Pada 2018 lalu, ada 27 proposal dosen yang disubmit dan yang diterima 18 proposal.

Ini sebuah prestasi luar biasa. Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Unusa, Dr Istas Pratomo  mengatakan tahun ini sungguh luar biasa. Lonjakan kenaikannya sangat besar.

“Tidak menyangka, kerja keras ini membuahkan hasil,” ujarnya kepada Duta, Senin (4/3).

Diakui Istas, tahun ini Kemristekdikti memang menerapkan syarat yang sangat ribet bagi para dosen yang hendak mengajukan proposal penelitian dan pengmas untuk bisa mendapatkan hibah.

Kemristekdikti menerapkan Science and Technology Index (SINTA). Di mana untuk bisa memiliki akun SINTA ini ada banyak syarat lainnya.

SINTA ini standar yang dimiliki Kemristekdikti, yang sudah disesuaikan dengan kondisi di Indonesia. Yang sama seperti scopus, google scholar dan sebagainya.

 “Harus punya akun SINTA itu yang bikin ribet. Untuk punya akun SINTA harus punya akun google scholar dan juga email institusi, tidak boleh gmail atau sejenisnya,” tukas Istas.

Karena itu, dosen-dosen Unusa akhirnya dibantu untuk memenuhi syarat itu. Sehingga pada 2018 lalu, ada 145 dosen yang sudah memiliki akun SINTA. Dan tahun ini sudah 183 dosen Unusa yang memiliki akun SINTA itu.

“Kalau punya akun facebook kan untuk profil diri pribadi, kalau akun SINTA ini profil publikasi dosen. Makanya bagaimana mau dapat hibah kalau tidak memiliki akunnya,” tandasnya.

Selain itu, yang membuat ribet adalah proposal harus memuat nominal dana yang dibutuhkan. Serta merinci dana tersebut untuk keperluan apa saja.

“Ini yang kadang masih sulit dilakukan dosen. Akhirnya dengan pelatihan, dosen Unusa bisa melakukannya,” kata Istas.

Dengan lolosnya banyak proposal penelitian ini, diharapkan dosen Unusa bisa memenuhi target yang sudah ditetapkan Kemenristekdikti.

Istas mengaku kini dirinya berupaya untuk terus memacu dosen agar segera melakukan penelitian sesuai dengan yang tertulis dalam proposal.

Selanjutnya para dosen membuat laporan dalam bentuk artikel dari setiap progress penelitian yang dilakukan.

“Setiap progress ditulis. Karena kalau hanya meneliti tanpa menulis itu nanti akan menjadi beban di belakangnya,” imbuhnya.

Karena, pada Agustus mendatang, Kemenristekdikti akan melakukan monitoring pertama. Di bulan itu, dana 70 persen dari yang diajukan akan cair.

Di sinilah dosen harus bisa menunjukkan progress yang sudah dilakukannya.  Jika tidak bisa menunjukkan progresnya jangan harap dana akan cair.

“Menulis itu butuh waktu, antara satu bulan hingga tiga bulan. Kalau sampai deadline di November tidak diselesaikan, kapan akan di-submit. Dari di-submit itu untuk diterbitkan juga butuh waktu,” ungkapnya.

Pelaporan atau output dari program ini memang menjadi keharusan.  Oututnya kata Istas bisa dalam bentuk jurnal, artikel seminar, HAKI, buku, buklet dan sebagainya. Tapi yang paling disukai Kemristekdikti berupa jurnal dan artikel seminar.

“Kalau sampai batas waktu tidak menghasilkan output yang ditetapkan maka yang terjadi dosen itu akan diblacklist. Dua tahun dia tidak bisa mengajukan proposal. Bagi lembaga kalau yang memberikan output hanya separuh misalnya maka tahun depannya jatahnya akan dikurangi. Jangan sampai ini terjadi,” tuturnya. end

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.