TERBAIK: Wisudawan terbaik, dari kiri: Onny Kartika Waluya, Intan Destianti, Eka Yunita Wulandari, Ni’matul Karimah, dan Taufiq Fannani. Duta/Humas UMG

Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG) berkomitmen mencetak mahasiswa berprestasi dengan penekanan pada peningkatan kualitas dan karakter. Jangan heran bila mahasiswa yang dihasilkannya mampu berkontribusi di masyarakat berkat kecerdasan intelektual, spiritual, emosional, dan kecerdasan sosial.

BAGI lima wisudawan terbaik UMG ini bukan sekedar melakukan kegiatan perkuliahan. Pasalnya, lingkungan yang nyaman, dosen-dosen yang berkualitas juga civitas akademika yang ramah memacu mahasiswa berlomba meraih prestasi akademik.

“Iklim di kampus UMG mendorong kita berlomba-lomba dalam prestasi. Dan itu memotivasi kita untuk mempunyai kemampuan dan kecerdasan akademik yang secara tidak langsung mendorong kita dalam peningkatan kualitas diri dan siap  mengaplikasikan ilmu ke masyarakat,”  kata Onny Kartika Waluya, wisudawan terbaik UMG dengan IPK 3.92 ini.

Dan terdongkraknya prestasi itu lanjut mahasiswa Teknik Informatika ini berkat pelibatan mahasiswa dalam kegiatan penelitian dan pengabdian masyarakat yang dilakukan para dosennya. “Dari proyek-propyek penelitian dosen inilah ketika kita dilibatkan maka di situ kita ambil ilmunya,” ungkap remaja yang semula tidak disetujui orang tuannya mengambil jurusan Teknik Informatika ini.

Senada diungkap Eka Yunita Wulandari. Mahasiswa Budidaya Perikanan ini mengaku banyak dilibatkan dalam hibah penelitian dosen. Dan berkat itu pula, dia bersama dengan dua temannya  berhasil mengembangkan rumput laut yang dapat dibudidayakan di air payau. “Budaya meneliti para dosen menular juga ke saya. Bersama Dani Yusril dan Sabbih Fatkumudin, saya melakukan budidaya  rumput laut jenis gracilaria, yang biasa digunakan untuk bahan kosmetik,” jelasnya.

Bukan hanya penelitian, iklim pengabdian masyarakat dosen juga menular ke mahasiswa Pendidikan Matematika Ni’matul Karimah. Berkat ketulusannya melakukan pengabdian ke masyarakat Bawean, ia pun  akhinya ditawari mengajar di MBI Mambaul Fatah Bawean. “Saat itu saya baru semester tujuh, dan tengah melakukan kegiatan magang,. Tidak tahunya selesai magang malah saya diminta untuk terus mengajar di sana,” ujarnya bangga.

Dan sampai saat ini, aku Ni’matul, meski sudah berada di dunia kerja, tiap ada kesulitan dalam mengajar selalu berkmomunikasi dengan para dosennya. “Sampai saat ini saya masih berkomunikasi lo dengan para dosen. Tiap ada kesulitan mengajar saya konsultasikan,” pamernya.

Dan soal komunikasi juga diakui  Intan Destianti dari Psikologi. Komunikasi dosen secara tidak langsung memacunya untuk secepatnya menyelesaikan kuliah. “Bagi saya yang sudah bekerja, tentunya harus bisa memaksimalkan waktu. Makanya salah satunya dengan tetap menjalin komunikasi dari para dosen sehingga terapan ilmu itu mampu diikutinya,” ujarnya.

Jangan heran dengan komunikasi yang baik, target untuk  selesai kuliah tepat waktu pun mampu diwujudkannya. “Alhamdulillah semua sesuai target. Dan semua itu tidak akan berhasil tanpa bantuan banyak pihak, mulai dari satpam hingga dosen yang ramah sehingga memberi kenyamanan saat menempuh pendidikan,” ujarnya karyawati di PT Gamindo Perkasa, perusahaan kontraktor di Manyar Raya Resort ini.

Begitupun Taufiq Fannani mahasiswa Pendidikan Agama Islam (PAI) yang juga merasakan ‘nikmatnya’ berkomunikasi dengan dosen. “Komunikasi itu saya akui menjadi kunci sukses saya menamatkan pendidikan. Karena berkat komunikasi kesulitan berkuliah berubah menjadi kemudahan, membuat saya terpacu untuk berprestasi secarta akademis,” ujarnya.

Untuk itulah, Taufiq berharap ke depan, dimana UMG terus memperbanyak prodi-prodi baru sesuai tuntutan masyarakat, maka keberadaanya juga harus diikuti dengan peningkatan mutu. “Jadi jangan sekedar prodi abal-abal,” tambahnya.

Sedangkan Onny mengingatkan, mahasiswa mendatang jangan puas hanya mengikuti kuliah saja melainkan  juga harus dikenal dosen, dan dikenal kemapuannya, Karena dari situlah awal  kesuksesan.

“Tuntutlah ilmu sebagaimana passionmu. Terbukti saya tidak salah pilih kuliah di Teknik Informatika, bukan karena sejak SD saya  suku teknologi informasi lebih dari itu karena yakin jurusan yang saya ambil punya masa depan cerah. Terbukti saya mulai terlibat membuat website di kelurahan-kelurahan,” pesannya yang diamini Ni’matul dan Eka Yunita. rum

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.