ISTIMEWA: Mohammad Taufik Ali (tengah), salah satu wisudawan ‘istimewa’ UMG bersama keluarganya. Duta/Humas UMG

GRESIK | duta.co – Sosok Mohammad Taufik Ali dipastikan akan mencuri perhatian pada Wisuda Sarjana XXXII Strata I (S-1) Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG) 2018, Kamis (15/1) pagi. Wisudawan satu ini sangat istimewa, mengingat dia satu-satunya wisudawan berkebutuhan khusus yang mampu menuntaskan pendidikan S-1 dari Fakultas Teknik, jurusan Informatika.

Ali, begitu remaja ini biasa disapa mengakui, sebelum akhirnya bisa menamatkan kuliahnya, dia harus beradu argumen dengan orang tuanya hanya demi mewujudkan mimpinya untuk meraih gelar sarjana. Rasa sayang orang tuannya membuat Ali dilarang berkuliah dan memilihkan untuk menjalankan usaha toko. “Saya harus berargumen, bahwa saya mampu untuk mengikuti perkuliahan,” akunya.

Setelah adu argumentasi, orang tuannya pun menyerah, Ali pun diizinkan kuliah. Namun adu argumentasi kembali terjadi begitu mengetahui jurusan kuliah yang dipilih adalah informatika. “Kata ayah jurusan informatika itu masuknya gampang tapi keluarnya sulit. Belum lagi orang masih berpandangan jurusan informatika akan menjadi tukang memperbaiki laptop,” ceritanya.

Namun lambat laun kegigihan Ali membuat orang tuanya, Kusnadi dan Mariyam Yunari pun luluh. Keinginan kuliah pun terwujud. Dan pilihannya masuk di Teknik Informatika UMG menurutnya pilihan yang tepat. Pasalnya di kampus inilah anak pertama dari tiga bersaudara ini seperti menemukan rumahnya.

“Selain dosen yang baik, saya juga memiliki teman-teman yang hebat. Bayangkan saja, tempat kuliah saya ada di lantai 3 dan tidak dilengkapi lift, namun teman-teman hebat saya itu ngotot tidak akan masuk ke kelas jika saya belum datang. Jadi mereka menunggu saya di bawah, dan beramai-ramai mengangkat saya ke ruang kelas. Yang bikin saya terharu, mereka melakukan semuanya dengan tulus tanpa pamrih, membuat saya semakin bersemangat untuk belajar,” ceritanya dengan mata berkaca.

Dan berkat mimpinya itu, Ali kita mulai memiliki harapan akan masa depannya. Dia merasa bisa menjadi mandiri dengan ilmu yang dimilikinya. Kini dia mulai aktif menekuni kerja remote. “Alhamdulillah kerja remote membuat saya bisa kerja di mana saja dengan seseorang atau perusahaan yang jaraknya jauh bahkan sangat jauh. Dengan bermodal empat hal saja, koneksi internet, listrik, skill serta tanggung jawab maka kita paling tidak sudah bisa melakukan kerja remote,” yakinnya.

Karenanya, Ali  berusaha memotivasi mereka yang memiliki kekurangan fisik sepertinya untuk berani bermimpi, dan berusaha mewujudkan mimpi itu. “Saya yakin jika kita punya mimpi pasti akan berusaha untuk mewujudkan mimpi itu. Karenanya jangan takut bermimpi,” pesannya. rum

 

Tinggalkan Balasan