Wisuda SLB Nur Rahmah "Titi Laras Tumraping Cahaya" di Creative Room Royal Plaza, Surabaya, Selasa (3/6/25). (FT/LOETFI)

SIDOARJO | duta.co – Suasana haru dan kebahagiaan menyelimuti puluhan siswa SLB Nur Rahmah dalam acara wisuda yang digelar pada Selasa (3/6/25), bertempat di Creative Room, Lantai 2 Royal Plaza, Surabaya.

Sebanyak total 12 siswa dari TKLB, SDLB, SMPLB dan SMALB, mengikuti prosesi wisuda SLB yang berlokasi di Rewwin, Kecamatan Waru, Sidoarjo, yang menyelenggarakan perpisahan tahun ajaran 2024-2025, dengan disaksikan sekitar 150 tamu undangan, termasuk orang tua, wali murid, dan dewan guru dan Ketua dan pengurus yayasan.

Acara tersebut juga menampilkan pertunjukan seni dari anak-anak berkebutuhan khusus (ABK), yang menunjukkan bakat dan kemampuan mereka yang luar biasa.

Mengusung tema “Titi Laras Tumraping Cahya” (Langkah Selaras Menuju Cahaya), acara ini mengusung makna bahwa langkah kecil anak-anak dengan kebutuhan khusus adalah cahaya dengan kemampuan istimewa.

Kepala Sekolah SLB Nur Rahmah, Farhat Indana Lazuzfa, S.S., M.Psi., atau yang akrab disapa Bu Fara, mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk apresiasi kepada anak-anak istimewa yang telah menempuh pendidikan dengan penuh perjuangan.

“Mereka layak diperlakukan seperti anak-anak lainnya. Wisuda di mall atau hotel bukan hanya untuk anak TK, SD, atau SMP reguler, tapi juga untuk anak-anak SLB. Mereka juga berhak mendapatkan penghargaan dan apresiasi atas usaha dan karya seninya selama setahun,” ujar Bu Fara kepada duta.co.

Tahun ini, SLB Nur Rahmah memiliki 50 siswa, dengan 12 di antaranya mengikuti wisuda. Bu Fara juga menyampaikan kebanggaannya terhadap dua siswa tunarungu, Vizah dan Fefe, yang mengikuti kelas make-up profesional dan berhasil meraih predikat terbaik dari yang terbaik, mengungguli peserta lain yang mayoritas adalah orang dewasa non-disabilitas.

“Alhamdulillah untuk tahun ini prestasi yang diperoleh mereka yang terkecil, tangan mereka yang terhalus dan tertelaten kesabaran mereka, menjadi nilai lebih. Mereka layak mendapatkan pengakuan atas kerja kerasnya,” lanjutnya.

Namun, Bu Fara juga mengungkap tantangan yang dihadapi dalam mengelola SLB. Menurutnya, faktor ekonomi menjadi kendala utama.

“Mohon maaf saya itu sering mencari donatur kesana kesini karena sebagian besar orang tua siswa berasal dari kalangan menengah ke bawah. Kami sering mencari donatur agar pelayanan pendidikan tetap berjalan maksimal. Selain itu, tantangan mental juga besar, karena tidak semua orang tua siap menerima kondisi anak disabilitas,” jelasnya.

Ia berharap para orang tua tidak malu memiliki anak dengan kebutuhan khusus. “Anakmu adalah kunci surgamu. Tinggal kita mau menggali potensinya atau tidak. Jangan disembunyikan. Berikan hak mereka seperti anak-anak lainnya, untuk bermain, belajar, dan bersosialisasi,” tegas Bu Fara.

Salah satu wali murid, Jamiah, ibu dari Janeeta Fathiya Aulia Nisa, mengaku sangat terharu dan berterima kasih atas dedikasi para guru.

“Dulu anak saya tidak bisa apa-apa. Sekarang bisa mengikuti wisuda. Saya sangat berterima kasih kepada Bu Fara dan seluruh guru yang sabar dan telaten mendidik anak-anak,” ungkapnya haru.

Sementara itu, salah satu donatur tetap SLB Nur Rahmah, Nene Purwaningsih, menyampaikan alasannya mendukung pendidikan anak-anak disabilitas.

“Awalnya saya berbagi sembako, tapi sekarang saya fokus ke pendidikan. Saya merasa lebih bermanfaat membantu biaya sekolah mereka. Insyaallah saya akan menanggung SPP beberapa siswa yang membutuhkan entah anak yatim entah ada orang tuanya tapi tidak mampu,tentu sesuai kualifikasi dari Bu Fara,” ujarnya.

Ia berharap anak-anak disabilitas tetap bisa melanjutkan pendidikan yang saat ini SD,ke SMP trus SMA hingga ke jenjang tertinggi.

“Saya ingin mereka yang punya keterbatasan tetap bisa mendapatkan pendidikan yang layak. Saya kagum dengan guru-guru SLB yang begitu sabar. Semoga mereka diberi kekuatan dan keikhlasan dalam mendampingi anak-anak spesial ini,” ungkapnya.

Kepada Bu Fara selaku kepala sekolah, ia mengaku sangat kagum sekaligus kepada para guru pendidik yang luar biasa sabar. “Kita yang memiliki anak normal saja sudah kewalahan, apalagi mereka yang setiap hari mendampingi anak-anak berkebutuhan khusus. Itu sungguh luar biasa perjuangannya,” imbuhnya.

“Saya sangat mengapresiasi mereka yang dengan ikhlas mendidik anak-anak spesial ini. Semoga mereka selalu diberikan kesabaran dan keikhlasan dalam mendampingi anak-anak tersebut. Karena kalau bukan mereka, tidak semua orang mampu dan mau merawat anak-anak istimewa ini,” tutup Nene Purwaningsih. (loe)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry