
SURABAYA | duta.co – Universitas Negeri Surabaya (Unesa) mengukuhkan 1.511 lulusan dalam Wisuda ke-123, Selasa (27/10/2026).
Rektor Unesa, Nurhasan, menekankan bahwa kelulusan bukanlah akhir dari proses pendidikan, melainkan awal pembuktian kompetensi dan tanggung jawab sosial.
Gelar akademik harus diikuti kemauan untuk terus belajar, mengembangkan kreativitas, serta menjaga integritas ketika menghadapi tantangan di dunia kerja dan kehidupan bermasyarakat.
“Kita berharap agar lulusan Unesa nantinya mampu menjembatani ilmu pengetahuan dan kebutuhan publik, baik melalui pengembangan riset, inovasi industri, pelayanan pemerintahan, maupun pemberdayaan komunitas. Dengan demikian, keberhasilan pendidikan tinggi juga tercermin dari manfaat yang dapat dirasakan masyarakat,” ujarnya.
Jangkauan mahasiswa abroad turut mewarnai wisuda Unesa kali ini. Dua wisudawan internasional hadir langsung, yakni Yusra Ali Idris dari program S-2 Manajemen, Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB), asal Sudan, serta Fameela Lateh dari program S-1 Pendidikan Bahasa Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni (FBS), asal Thailand.
Sementara itu, enam wisudawan program S-2 Manajemen Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP), mengikuti prosesi secara daring dari China. Mereka ialah Tan Shiyi, Liang Baihan, Huang Kuidong, Li Xingyin, Gui Sijie, dan Gui Simei.
Salah satu mahasiswa asing dari Sudan bernama Yusra menempuh pendidikan S2 di Unesa untuk Program Studi Manajemen. Dia memilih Unesa ini dinilai memiliki reputasi yang sangat kuat di Indonesia dan direkomendasikan oleh beberapa temannya dari negara-negara Arab.
‘Pada awalnya, ia menghadapi berbagai kesulitan, terutama terkait perbedaan sistem akademik dan tantangan bahasa,” katanya saat ditemui usai prosesi.
Beruntung Unesa memiliki staf internasional dan para dosen sangat membantu mereka dalam mengatasi berbagai kendala tersebut. Selama masa perkuliahan dan ujian, ia mendapatkan banyak keringanan dan dukungan, seperti diperbolehkan menjawab ujian dalam bahasa Inggris serta dibantu dalam memahami bahasa Indonesia.
Penelitian tesisnya berfokus pada kondisi krisis yang terjadi di Sudan akibat perang. Mengambil bidang manajemen, ia meneliti bagaimana cara warga Sudan dapat bertahan hidup (survive) di luar negeri setelah kehilangan harta benda, tabungan, dan tempat tinggal akibat perang.
Ia menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada dosen pembimbing serta Kepala Kantor Internasional yang telah bekerja keras dan banyak membantu dirinya beserta mahasiswa asing lainnya.
Meskipun berstatus sebagai pendatang baru ia merasa sangat nyaman dan diperlakukan seperti berada di negara sendiri berkat dukungan penuh dari para dosen dan staf kampus.
Pada momentum bahagia ini, Unesa memberikan penghargaan berupa tabungan pendidikan dan beasiswa lanjut studi kepada wisudawan terbaik dari masing-masing fakultas dan jenjang pendidikan.
Komisaris PT Pelindo Terminal Petikemas, Yoke Candra Katon, dalam orasi ilmiahnya menyoroti pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk memperluas dampak keilmuan dan kepemimpinan.
Melalui visi From Connection to Collaboration, From Reputation to Impact, ia mendorong alumni membangun hubungan strategis antara perguruan tinggi, dunia industri, dan pemerintah.
Menurutnya, jejaring profesional harus dikembangkan menjadi kolaborasi yang menghasilkan manfaat konkret. Alumni perlu memiliki integritas, keberanian mengambil peran strategis, serta kemampuan membuka peluang dan menciptakan solusi yang dibutuhkan masyarakat.
“Melalui lima pilar kepemimpinan, yakni merawat jejaring, menjaga integritas, aktif berbagi, berani mengambil peran strategis, serta menciptakan warisan kebermanfaatan, para alumni diharapkan tidak sekadar mengejar karier pribadi, melainkan membuka peluang kerja dan solusi bagi publik,” tuturnya. ril/lis





































