
JOMBANG | duta.co — Dunia modern harus disambut generasi milenial dengan ilmu dan agama secara seimbang. Terutama dalam membekali diri dalam memahami ajaran Islam dari al-Qur’an. Bahkan jika diperlukan untuk menghapalkannya (tahfidz).
Ini yang tersaji dalam wisuda Madrasah Aliyah Nurul Jadid Desa Bandung Kecamatan Diwek, Minggu (10/5). Sebanyak delapan murid yang diwisuda sudah hapal al-Qur’an 30 juz.
Kedelapan murid itu M Shiddiq Al-Hikam, M Adam Ibnu Sina, M Rizky Pratama dan M Sabiq Muhassin. Termasuk Adzinu Abiyyul Chakam, M Imam Suyuthi, M Ahsanul Sya’abi dan Naila Al Farihah Habibah.
Keberhasilan tahfidz ini tidak terlepas dari sinergi madrasah dengan pondok pesantren di sekitarnya. Empat murid pertama merupakan santri Pondok Pesantren Hamalatul Qur’an (PPHQ) Jogoroto. Sedangkan empat lainnya merupakan santri Pondok Pesantren As-Salam Diwek.
Pengasuh kedua pesantren tahfidz ini juga hadir saat wisuda digelar. Baik KH Ainul Yaqin dari PPHQ maupun Kiai Badrus dari PP As-Salam.
Wisudawan terbaik tahun ini diraih oleh Lintang Laila Isnaen, murid asal Provinsi Papua Tengah. Ia menerima piagam penghargaan serta tali asih yang diserahkan langsung oleh Kepala Madrasah, Hj Miswatul Jannah bersama Ketua Yayasan, Anang Fauzi.
“Kemarin, dalam rangka menyambut wisuda, kita juga menggelar jalan sehat di mana 95 persen dana hadiahnya bersumber dari kontribusi alumni,” ujar kepala madrasah, Hj Miswatul Jannah.
Dia menambahkan sebagian wisudawan tahun ini telah dipastikan lolos seleksi di berbagai Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKIN) ternama. “Seperti UIN Kediri, UIN Malang hingga UIN Jakarta,” tambahnya.
Acara puncak wisuda diisi dengan tausiyah dari KH Abdul Karim El-Muna. Dia menekankan peran pendidikan yang krusial bagi kebangkitan peradaban.
“Kaisar Hirohito setelah Jepang dibom, dia menanyakan jumlah guru yang tersisa, kenapa? Karena untuk membangun kembali sebuah negara, pendidikan adalah faktor utama,” ujarnya. ” Sehingga tidak heran menjadikan Jepang bangkit menjadi Macan Asia,” tegasnya.
Selain pendidikan, lanjutnya, juga menyoroti pentingnya disiplin dan etos kerja yang tinggi. “Dalam Islam, rutinitas bangun dini hari itu diisi dengan qiyamul lail dan dzikir,” jelasnya. “Kalau etos kerja umat Islam bisa setinggi dan sedisiplin ini, insya Allah umat akan meraih kesuksesan di masa depan,” pungkasnya. (har)
Kontributor: Hari Prasetia, pengurus LTN MWCNU Diwek





































