SURABAYA | duta.co – Sejak mewabah pada awal tahun 2020 lalu, hingga kini Indonesia masih terus berjibaku melawan pandemi Covid 19.

Bukan hanya soal kesehatan, dampak sosial yang ditimbulkan akibat serangan virus tersebut begitu mengakar sampai saat ini.

Salah satunya adalah terhentinya sebagian aktifitas perekonomian. Jika pun tak berhenti, para pelaku usaha konvensional nampak terseok untuk bisa bertahan mengikuti kebijakan -kebijakam yang dibuat oleh pemerintah.

Melihat kondisi itu, seorang pengusaha muda, William Kevin Yudianto merasa prihatin. Gelombang besar kenaikan kasus Covid akhir-akhir ini, dampak buruknya lebih terasa dibanding awal pandemi, terutama bagi masyarakat menengah ke bawah.

“Pandemi ini, faktanya memang membuat sebagian besar orang dalam ketakutan dan keresahan. Selain menyangkut kesehatan, di sisi lain masalah perekonomian juga muncul terutama bagi kaum menengah ke bawah,” kata Kevin.

Meski melihat dampak disease Covid-19 itu memiliki sisi buruk, Kevin justeru mengingatkan bahwa selalu ada hikmah dibalik peristiwa.

Soal kesehatan, selama tetap menjaga protokol kesehatan dan tetap patuh kebijakan pemerintah, masyarakat tetap bisa produktif meski di rumah saja.

“Ini soal prespektif. Kalau kita melihat sisi buruknya saja, maka lambat laun pasti akan terpuruk. Sementara kita dikaruniai akal,pikiran,intuisi dari Tuhan untuk bisa kita manfaatkan menjadi sebuah kreatifitas yang menghasilkan,” terangnya.

Ya, bagi pemuda 27 tahun yang kini sukses berbisnis likuid vape itu, kreatifitas adalah kunci untuk keluar dari belenggu pandemi.

“Terutama buat milenial ya. Saat ini mungkin sektor konvensional sedang mengalami krisis. Namun jangan salah, era digital saat ini begitu banyak peluang. Semua tetap bisa dilakukan meski di rumah saja,” imbuh Kevin.

Kevin menyebut, peluang itu hampir setiap saat bisa kita temui asal telaten dan jeli melihatnya.

Ia yang dilahirkan dari keluarga sederhana, bisa membangun sebuah bisnis dengan mempekerjakan puluhan karyawan di industri vape dan industri kreatif miliknya saat ini.

“Keluarga saya bukan keluarga yang kaya raya. Itulah yang membuat saya semangat untuk survive,” imbuhnya.

Sebelum menggeluti dunia vape, pemuda asal Surabaya itu pernah mencoba berbagai usaha sejak masih bersekolah menengah pertama.

Berjualan binder, bulpoin, obat pelangsing hingga beternak anjing pernah ia geluti meski akhirnya tak semua berhasil.

Di tahun 2012, penggunaan vape di Indonesia dilihatnya sebagai peluang. Mulanya ia menjual device vape dan beralih membuat industri likuid hingga saat ini.

“Semua ini proses kreatif. Bagaimana kemudian menggunakan desain, mempromosikan melalui platform digital selain itu di Youtube juga bisa jadi ajang promosi sekaligus mendapat pundi dari adsense. Saya rasa di era saat ini, kreatifitas tidak akan pernah habis jika orang tidak bermalas-malasan,” terangnya.

Kevin adalah seorang pemuda yang tak lalai pada asalnya. Setidaknya,puluhan karyawan itu berada di lingkar pertemanannya sejak ia kecil.

Bahkan, perusahaan bernama Riot yang diinisiasi olehnya itu merupakan perusahaan bersama dengan sebagian sahamnya dimiliki oleh teman-temannya.

“Bagi saya keluarga dan teman adalah ruh. Saya berpikir kalau saya bisa maju sekeliling saya juga harus terima manfaat. Maju bersama. Berkembang bersama. Karena proses kreatif itu lebih mudah dilakukan ketika kita ada sparing partnernya,” tandas Kevin. tom

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry