SURABAYA | duta.co  – Pola pembelajaran dalam dunia pendidikan kian menghadapi tantangan kedepan. Perubahan kurikulum seharusnya ditekankan berdasar kepada minat dan skill.

Hal tersebut disampaikan oleh Wakil Wali Kota Surabaya Whisnu Sakti Buana saat menjadi pembicara dalam Seminar Nasional Pendidikan: Kebebasan Pendidikan Indonesia Mewujudkan Indonesia Merdeka Dalam Belajar. Seminar ini digelar di auditorium UINSA dalam rangka haflah miladiyah Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, Selasa (3/11/2019).

Turut hadir sebagai pemateri selain Wakil Walikota Surabaya, Whisnu Sakti Buana, Nunuk Hariyati, selaku Dosen Fakultas Ilmu Pendidikan Unesa Surabaya.

Menurut Nunuk, kebebasan belajar merupakan kunci perubahan pendidikan. “Khususnya dalam menghadapi era society 5.0,” terangnya.

Saat ini, metode pendidikan yang sudah berjalan di era 4.0 dirasa masih membebani bagi siswa dan mahasiswa. Menurut alumnus Universitas Negeri Malang ini, pola kedepan pendidikan seharusnya memperhatikan dari perubahan revolusi industri.

“Jika melihat kedepan, seharusnya yang menjadi titik tolak pendidikan harus sudah dibawa kepada metode minat dan bakat serta soft skill siswa,” terang Nunuk.

Dengan begitu, lanjut Nunuk kebebasan belajar para siswa diharapkan bisa mampu merubah pendidikan kedepan. Selain itu, negara harus hadir dalam menuntaskan sekaligus memberikan pemerataan pendidikan di masyarakat.

Hal tersebut direspon positif oleh Whisnu Sakti. Ia menerangkan, implementasi ini jauh hari sudah diterapkan sejak di masa pemerintahan Bambang DH.

“Surabaya satu-satunya kota pertama di Indonesia yang sudah menerapkan pendidikan gratis mulai SD, SMP, SMA, dan SMK. Kemudian di masa pemerintahan Risma-Whisnu penganggaran APBD kita lebih dari 30% untuk pendidikan,”  terang politisi PDI Perjuangan yang akrab disapa WS ini.

Bahkan, penambahan fasilitas pendidikan berupa taman baca di Surabaya sudah mencapai 70% di setiap RW. “Ini bentuk negara hadir dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan. Khususnya budaya literasi,” katanya.

Pejabat yang digadang-gadang meneruskan kepemimpinan Walikota Risma dalam Pilwali Surabaya 2020 mendatang ini menambahkan, dalam gagasannya program Rp 100 juta per-RT juga bisa digunakan dalam pengembangan pendidikan di wilayah kampung.

“Nantinya bisa untuk penambahan fasilitas, memanggil tenaga pendidik, serta program-program pelatihan bagi masyarakat. Artinya, pendidikan kedepan juga difokuskan pada skill dan minat warga,” tandasnya. azi

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry