Mural teroris jancok menunjukkan kata ini lebih cenderung negatif.
SURABAYA | duta.co – Masyarakat masih berpolemik terkait pemberian julukan “Cak – Jancuk” kepada capres petahana Joko Widodo (Jokowi) saat menghadiri Deklarasi Forum Alumni Jatim. Pasalnya, julukan “jancuk” sangat negatif dan terkesan porno, serta mengumpat. Julukan “jancuk” bagi warga Surabaya sudah biasa tapi diberikan untuk sesama teman sebagai ekspresi sikap egaliter.
Meski demikian masih banyak yang merasa tidak enak dengan julukan itu. Lebih dari itu, di Surabaya baru saja ramai pemberian julukan “jancuk teroris” segera setelah Kota Pahlawan dilanda serangkain teror bom maut.
“Kan tidak baik, lha wong habis ada teroris jancuk, sekarang mosok dimunculkan Jokowi jancuk, rek!. Ini tidak pas, tidak etis, ada kesan menghina, meski saya sendiri melihat Jokowi sering kali membuat kesalahan, kekeliruan, sebagai presiden yang suka mengklaim hasil kerja presiden yang dulu-dulu, seperti soal pembangunan infrastruktur dan lain-lain. Yang paling baru dia bilang propaganda Rusia dilakukan tim sukses capres, ini kan kalau orang jengkel melihatnya, bisa saja bilang mengumpat seperti itu. Jokowi jancuk tidak tepat diberikan untuk presiden atau calon presiden, kecuali untuk budayawan Sujiwo Tedjo ndak apa-apa,” kata Ustad Sulaikan Arief, warga Surabaya, Senin 4 Februari 2019.
Sumarno, warga Surabaya lain, mengatakan, penyebutan itu pasti disengaja agar nama Jokowi semakin popular di Jatim.
“Itu kalau melihat secara positif, tapi penyebutan kata jancuk lebih kental negatif. Jancuk koen, ojok ngaku-ngaku mbangun jalan tol bro, iku wis onok kit biyen, kit jaman Gus Dur, Habibie, SBY, Mega, malah sejak Pak Harto, misalnya begitu, bagi yang tidak setuju Jokowi. Tapi, itu juga menunjukkan nama Jokowi kurang popular di Jatim sehingga diangkat dengan “jancuk”. Kita lihat saja nanti, apakah Jokowi terangkat dengan jancuk atau sebaliknya,” katanya Senin pagi tadi.
Bukan hanya warga Surabaya, Panitia pun mengaku kaget dan menyayangkan sebutan Jokowi “jancuk” tersebut. “Kami hanya memberikan sebutan Cak saja bagi Pak Jokowi kemarin. Itu saja titik,” kata Sekretaris Deklarasi Alumni Jawa Timur Teguh Prihandoko saat dikonfirmasi detikcom, melalui sambungan telepon, Minggu (3/1/2019).
Teguh menjelaskan, pihaknya menyayangkan sikap pembawa acara (MC) Djadi Galajapo yang saat itu memberi gelar ‘Cak-Jancuk’ kepada Jokowi. Meski saat itu oleh pembawa acara, kata ‘Jancuk’ diberikan kepanjangan sebagai “Jantan, cakap, ulet, dan komitmen”.
“Untuk sebutan Jancuk itu keluar dari Pak Djadi Galajapo sendiri, kami tidak tahu. Mungkin saat itu dia terlalu emosional dan terbawa suasana. Ini dari pihak alumni Unair sendiri menyayangkan dan kaget keluar kata-kata Jancuk itu kemarin,” kata Teguh.
Menurut Teguh, kata Jancuk itu bisa salah persepsi jika disampaikan untuk orang luar Surabaya. “Acara ini kan acara orang-orang intelektual, yang tidak hanya dihadiri oleh orang-orang Surabaya saja, melainkan dari alumni dari Kota Solo, Semarang dan lainnya. Jadi semuanya kaget. Intinya kami hanya menyayangkan saja keluar kata-kata itu,” ujar Teguh.
Sementara itu, perwakilan Almuni SMAK Santa Maria Gama Andrea mengaku juga menyayangkan keluarnya sebutan ‘Jancuk’ yang disebut Djadi Galajapo, dan itu dianggap keluar dari kontek acara. “Harusnya dilewati dan dihindari perkataan itu, jika disampaikan kepada orang yang tidak kenal akan memiliki konotasi yang berbeda. Meski waktu itu sudah dikolaborasi (diartikan), namun bagi kami tidak pas. Mungkin terbawa suasana atau euforia waktu itu. Intinya kami sangat menyayangkan,” ungkap Gama.
Calon presiden nomor urut 01 Joko Widodo (Jokowi) menghadiri kampanye deklarasi dukungan Forum Alumni Jawa Timur untuk dirinya di Kota Surabaya. Dalam acara itu, Jokowi diteriaki ‘jancuk’ oleh para pendukungnya.
Hal itu terjadi seusai deklarasi dukungan Forum Alumni Jawa Timur untuk Jokowi di Tugu Pahlawan, Jl Pahlawan, Kota Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (2/2/2019). (ud/det)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.