Catatan Pinggir
Dr. ROMADLON SUKARDI, MM*

SERIUS! Ancaman krisis pangan global dan ketidakpastian ekonomi dunia, Jawa Timur bisa tampil sebagai kekuatan baru ketahanan pangan nasional melalui kepemimpinan Gubernur Khofifah Indar Parawansa yang wat, wet, sat set, empatik, transformatif, dan visioner; menghadirkan pembangunan peternakan modern berbasis kesehatan hewan, perlindungan peternak rakyat, stabilitas pangan, serta kolaborasi berkelanjutan yang tidak hanya menjaga ketersediaan hewan kurban tetap aman dan sehat, tetapi juga mengangkat martabat desa sebagai pusat pertumbuhan ekonomi masa depan menuju Indonesia Emas 2045.

Di tengah dunia yang sedang menghadapi ancaman krisis pangan global, ketidakpastian rantai pasok, perubahan iklim, serta meningkatnya kekhawatiran terhadap keamanan pangan dan kesehatan hewan, Jawa Timur justru tampil dengan wajah optimisme, ketangguhan, dan kesiapan yang mengesankan. Dari sentra ternak rakyat di Desa Semutan Pomahan, Bojonegoro, Gubernur Khofifah Indar Parawansa memperlihatkan bahwa kepemimpinan modern tidak cukup hanya berbicara dari podium-podium formal, tetapi harus hadir langsung di tengah kandang rakyat, menyapa peternak, memeriksa kesehatan ternak, memastikan distribusi berjalan aman, dan menjaga denyut ekonomi masyarakat tetap bergerak.

Inilah model kepemimpinan wat, wet, sat set yang selama ini melekat kuat pada sosok Khofifah: cepat membaca persoalan, cepat mengambil keputusan, cepat bergerak di lapangan, tetapi tetap penuh empati dan keberpihakan kepada rakyat kecil. Ketika jutaan masyarakat bersiap menyambut Idul Adha, Khofifah tidak hanya memastikan hewan kurban tersedia dan sehat, tetapi juga memastikan para peternak memperoleh manfaat ekonomi yang optimal dari momentum tersebut. Di titik inilah kepemimpinan transformatif bertemu dengan kemanusiaan.

Peninjauan langsung ke sentra peternakan sapi di Bojonegoro sejatinya bukan sekadar agenda seremonial tahunan, melainkan bagian dari arsitektur besar pembangunan ketahanan pangan dan peternakan Jawa Timur yang berkelanjutan. Pengawasan kesehatan hewan, vaksinasi PMK gratis, penguatan biosecurity, pengendalian lalu lintas ternak, hingga penguatan Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH) menunjukkan bahwa Jawa Timur sedang membangun tata kelola peternakan modern berbasis keamanan pangan, kesehatan masyarakat, dan perlindungan ekonomi rakyat.

Apa yang dilakukan Khofifah hari ini sesungguhnya sangat relevan dengan agenda besar Nawa Bhakti Satya, khususnya Jatim Sejahtera, Jatim Kerja, Jatim Berkah, dan Jatim Agro, yang menempatkan sektor pangan dan peternakan sebagai fondasi strategis pembangunan daerah. Bahkan dalam perspektif global, langkah Jawa Timur ini juga sangat selaras dengan tujuan besar Sustainable Development Goals (SDGs), terutama tujuan tanpa kemiskinan, tanpa kelaparan, pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, konsumsi berkelanjutan, serta kemitraan pembangunan.

Yang menarik, pembangunan peternakan di Jawa Timur tidak lagi berjalan dengan pola lama yang konvensional dan parsial. Di bawah kepemimpinan Khofifah, sektor peternakan mulai bergerak menuju ekosistem modern yang lebih futuristik, terintegrasi, dan berbasis kolaborasi lintas sektor. Pemerintah hadir bukan hanya sebagai regulator, tetapi juga fasilitator, akselerator, sekaligus pelindung bagi peternak rakyat agar mampu naik kelas dan memiliki daya saing nasional bahkan internasional.

Ketika permintaan hewan kurban dari Jabodetabek hingga Kalimantan terus meningkat, Jawa Timur membuktikan dirinya bukan sekadar pemasok ternak, tetapi telah menjadi pusat gravitasi ekonomi peternakan nasional. Dan keberhasilan itu tidak lahir secara instan. Ia dibangun dari kerja panjang berupa penguatan populasi ternak, vaksinasi masif, pembinaan peternak, pengawasan kesehatan hewan, hingga keberanian menjaga stabilitas sektor pangan secara konsisten.

Lebih dari itu, ada sisi human interest yang begitu kuat dari perjalanan ini. Di balik puluhan sapi jenis Simental, Limosin, dan PO yang siap dikirim ke berbagai daerah, terdapat harapan hidup ribuan peternak kecil yang menggantungkan masa depan keluarganya pada sektor peternakan. Ketika harga ternak membaik dan penjualan meningkat, maka sesungguhnya yang ikut tumbuh bukan hanya ekonomi desa, tetapi juga optimisme sosial masyarakat akar rumput.

Kehadiran Khofifah di tengah peternak menghadirkan energi psikologis yang luar biasa. Bagi masyarakat desa, perhatian pemimpin bukan hanya soal kebijakan, tetapi juga soal rasa dihargai, didengar, dan ditemani dalam perjuangan hidup mereka. Itulah sebabnya, kehadiran seorang gubernur di kandang ternak sering kali memiliki dampak moral yang jauh lebih besar daripada sekadar kunjungan formal.

Hari ini Jawa Timur sedang memperlihatkan kepada Indonesia bahwa pembangunan modern tidak harus meninggalkan desa. Justru dari desa, dari kandang rakyat, dari peternak kecil, lahir fondasi besar ketahanan pangan nasional. Dan di tangan kepemimpinan Khofifah Indar Parawansa, Jawa Timur terus bergerak menjadi provinsi yang tidak hanya kuat secara ekonomi, tetapi juga kokoh secara sosial, sehat secara pangan, dan berkelas dunia dalam tata kelola pembangunan berkelanjutan menuju Indonesia Emas 2045. Wallahu A’lamu Bisshawab.

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry