Oleh: dr. Handayani
Dekan dan Dosen Fakultas Kedokteran

TUBERKULOSIS (TBC) masih menjadi salah satu masalah kesehatan utama di Indonesia. Di sisi lain, jumlah penderita diabetes mellitus (DM) juga terus meningkat. Kedua penyakit ini ternyata memiliki hubungan yang erat — dan ketika keduanya terjadi bersamaan, risikonya menjadi jauh lebih besar.

Mengapa Penderita Diabetes Rentan Terkena TBC?

Diabetes dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh. Gula darah yang tinggi membuat sel-sel pertahanan tubuh tidak bekerja optimal dalam melawan infeksi, termasuk kuman Mycobacterium tuberculosis, penyebab TBC.

Akibatnya, penderita diabetes lebih mudah terinfeksi TBC dan lebih berisiko mengalami kekambuhan setelah sembuh.
Bahkan, penelitian menunjukkan bahwa orang dengan diabetes memiliki risiko 2–3 kali lebih besar untuk terkena TBC dibandingkan mereka yang tidak menderita diabetes.

Dampak Ganda yang Berbahaya

Ketika TBC dan diabetes terjadi bersamaan, keduanya saling memperburuk kondisi:
• TBC lebih sulit sembuh karena respon imun tubuh melemah.
• Obat TBC dapat memengaruhi kontrol gula darah, sehingga diabetes lebih sulit dikendalikan.
• Kemungkinan komplikasi meningkat, seperti kerusakan hati akibat interaksi obat atau penurunan berat badan yang berlebihan.

Oleh karena itu, penderita diabetes yang batuk lebih dari dua minggu, berat badan turun, atau berkeringat malam hari perlu segera memeriksakan dahak untuk TBC.
Bagaimana Menghadapinya?

• Kendalikan gula darah dengan baik.
Pola makan sehat, olahraga teratur, dan minum obat sesuai anjuran dokter sangat penting agar imunitas tetap kuat.

• Lakukan pemeriksaan rutin.
Penderita diabetes sebaiknya skrining TBC secara berkala, terutama jika ada gejala batuk lama, demam, atau mudah lelah.

• Patuh minum obat TBC sampai tuntas.
Jangan menghentikan pengobatan sebelum waktunya, walau sudah merasa lebih baik.

• Perhatikan efek samping obat.
Beberapa obat TBC bisa menaikkan gula darah, sehingga perlu penyesuaian terapi diabetes oleh dokter.

• Jaga asupan gizi dan istirahat cukup.
Makanan bergizi seimbang membantu daya tahan tubuh melawan infeksi.

Konsultasi ke Mana?

Pasien dengan diabetes yang dicurigai TBC sebaiknya berkonsultasi ke Puskesmas atau dokter penyakit dalam, terutama yang memiliki klinik TBC-DM.
Biasanya dilakukan pemeriksaan dahak, rontgen dada, serta evaluasi kadar gula darah.

Jika ditemukan TBC, pengobatan akan diberikan secara gratis melalui Program Nasional Pengendalian TBC (DOTS), dan pengelolaan diabetes tetap dilakukan bersama dokter spesialis Pulmolologi dengan spesialis Penyakit Dalam.

Pesan Penutup

TBC dan diabetes adalah dua penyakit kronik yang bisa dikendalikan bila ditangani dengan tepat. Jangan menunda pemeriksaan bila ada gejala mencurigakan.
Dengan pengobatan yang teratur, pola hidup sehat, dan dukungan keluarga, penderita TBC-DM tetap dapat menjalani hidup produktif dan berkualitas. *

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry