KULIAH : Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Jawa Timur, Suban Wahyudiono, ST, MM saat memberikan kuliah umum mengenai potensi bencana di Jatim. (duta.co/dedik ahmad)

MALANG | duta.co – Mahasiswa Perencanaan Wilayah dan Kota dari Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang menggelar kuliah umum penanganan bencana. Senin (18/11).

Menurut Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Timur, Suban Wahyudiono ST MM, bahwa berbagai potensi bencana mengintai Jawa Timur. Maka perlu kewaspadaan dan kerjasama semua pihak dalam mengantisipasi hal itu. Ia pun kemudian memaparkan beberapa kerusakan alam tersebut.

“Waspadai antara musim kemarau ke musim hujan ini berpotensi terjadi angin kencang yang sifatnya merusak. Kecepatannya bisa mencapai 45 km per jam,” ungkap Suban.

Kepala BPBD ini juga menuturkan, di Jawa Timur mulai Oktober kemarin terjadi kebakaran hutan di beberapa titik. Diantaranya di Gunung Arjuno, Bromo, Semeru hingga secara khusus mendatangkan helikopter untuk water bombing. Demikian juga untuk pemadaman hutan di Arjuno Welirang, serta juga di seputar Panderman.

“Luas keseluruhan hutan di Jawa Timur mencapai 1.360.000 hektar, sedangkan yang telah masuk laporan ke kami sudah 4 ribu hektar hutan yang terbakar,” ujar Suban.

“Angin ini juga patut diwaspadai di masa pancaroba. Terutama angin puting beliung, seperti di Batu itu yang membawah material tanah sehingga  masuk ke rumah-rumah membuat orang sesak nafas. Pengungsi di Batu sampai saat ini mencapai 1.357 orang,” papar Suban.

Ditempat lain, sekitar 270 orang diungsikan akibat puting beliung yang terjadi di tanggal 9 sampai tanggal 11 Oktober lalu. Ini terjadi di daerah Tuban, Bojonegoro, Lamongan, Mojokerto dan Madiun. Tapi yang paling parah itu di Bojonegoro. Lebih dari 1.300 rumah rusak, 45 rumah diantaranya rusak berat.

“Bencana ini kan tidak tahu kapan terjadinya tapi sifatnya ulang tahun. Ada yang ulang tahunnya tahunan, ada yang ulang tahunnya 5 tahun hingga 50 tahun, bahkan ribuan tahun seperti gunung yang di Gunung Sinabung yang 200 tahun baru aktif sekarang,” urai Suban.

Pihak BPBD pun dalam menghadapi berbagai bencana tersebut merubah sistem penanganan. Jika dulu responsif, sekarang preventif. Badan Penangulangan bencana juga membentuk KKN tematik. Dengan diarahkan ke desa-desa yang rawan potensi bencana. Sehingga bisa mengedukasi  masyarakat tentang kebencanaan dengan penanganannya.

BPBD Jatim mengakui sudah membentuk 612 desa tangguh bencana dari jumlah desa di Jawa Timur yang totalnya mencapai 8.501 desa dan kelurahan. Desa yang potensi tinggi rawan bencana sendiri mencapai 2.742 desa dan kelurahan.

“Kita baru punya 612 Desa tangguh bencana kita kembangkan terus tiap tahun bersama-sama dengan Pemerintah Daerah dan DPRD kabupaten kota,” kata Suban.

Kuliah Umum ini membahas penanganan pasca bencana gempa di Kabupaten Lombok Tengah dan tantangan menghadapi bencana di propinsi Jatim di masa yang akan datang. Hadir dalam kesempatan tersebut, Sekda Kab Lombok Tengah H. M Nursiah, S Sos, M Si.dah

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry