
SIDOARJO | duta.co – Hari raya Idul Adha (kurban) 1447 H atau 2026 M sudah dalam hitungan hari. Tekad mewujudkan prosesi kurban yang benar dan sehat, serta ‘menghormati’ hewan kurban, terus dilakukan. Secara syariat benar, secara harfiah juga harus sehat.
“Karena itu, kita gelar pelatihan Juleha (Juru Sembelih Halal). Bukan hanya bagaimana kita menyembelih hewan kurban dengan benar, tetapi, sekalius tasyaruf (menyalurkannya) dengan benar secara fikh,” demikian disampaikan Anggara Pribadi, Kaur Kesra Desa Sidorejo, Krian, Sidoarjo kepada duta.co, Kamis (14/5/26).
Di Desa Sidorejo, katanya, ada puluhan masjid yang menyebar di 14 RW (Rukun Warga). Jumlah hewan kurban semakin tahun semakin meningkat. Ada satu masjid yang sudah menghimpun 9 sapi dengan puluhan kambing.
“Secara kualitas prosesi penyembelihan kurban juga semakin bagus, baik secara syari maupun secara fisik. Hampir semua masjid sudah membentuk panitia, dan sekarang kita gelar pelatihan juru sembelihnya,” katanya.
Tahun ini, desa bekerjasama dengan Dewan Perwakilan Wilayah (DPW) Juleha Jawa Timur. “Setiap RW bisa mengirimkan 3 perwakilan, khususnya mereka yang bakal menangani kurban. Harapannya secara kualitas penyembelihan hewan kurban benar — baik secara syari maupun secara perlakuan — terhadap hewan kurban,” tegas Hery Sucipto Achmadi ST, Kades Sidorejo.
Sementara drh Bayu, dalam rapat di Masjid Al Ikhlas RW 10, mewanti-wanti kepada seluruh panitia, agar memperhatikan kesehatan hewan kurban. Belajar dari kasus keracunan MBG (Makan Bergizi Gratis) yang menimpa siswa Surabaya, ternyata, itu gegara kurangnya perhatian kepada hewan yang sedang sakit.
“Mohon kepada panitia, kalau ada hewan sakit, laporkan. Pun bagi tukang sembelih, kalau ada hewan mencret jangan disembelih. Itu suhunya sangat panas, dan dagingnya berpotensi mengandung racun,” tegasnya. (mky)




































