LARI : Para peserta lari maraton bersiap mmulai lari. Kesiapan fisik sangat perlu diperhatikan pelari sebelum turun. (duta.co/dok)

Meninggalnya dua pelari peserta Surabaya Maraton 2019 menimbulkan tanda tanya. Seberapa berbahayaah ikut lari maraton. Inginnya sehat, tapi kalau tidak dipersiapkan matang lebih dini, bisa berakibat sebaliknya.

Berdasarkan penelitian terbaru, ternyata mengikuti perlombaan lari maraton terbukti dapat membahayakan kerja jantung. Karena itu, saran para ahli menyebutkan, perlu tubuh yang prima dan latihan yang intensif sebelum menjalankannya.

Berolahraga lari santai seperti joging sangat baik bagi jantung dan pembuluh darah. Namun, tidak demikian halnya dengan olahraga yang lebih berat, seperti maraton. Studi baru menunjukkan, ikut lomba lari maraton dapat membahayakan jantung Anda serta meningkatkan tekanan darah dan menimbulkan kekakuan pada pembuluh aorta.

Tetapi makin sehat dan terlatih saat menjalankan lari maraton, maka efek tekanan dan kerusakan terhadap jantung akan berkurang. “Butuh latihan yang intensif. Bukan berarti maraton itu berbahaya atau tidak boleh melakukan lari maraton,” kata Dr Eric Larose, seorang profesor di Universitas Laval dan peneliti di Quebec Foundation for Health

Research di Quebec City, Kanada seperti dikutip laman healthday.com. Larose dijadwalkan mempresentasikan temuan ini pada Canadian Cardiovascular Congress 2010. Untuk penelitian ini Larose dan sejumlah koleganya mengumpulkan 20 pelari amatir yang sehat, usia rata-rata mereka sekitar 45 tahun.

Para pelari ini berencana untuk mengikuti perlombaan lari maraton dalam waktu sekitar enam sampai delapan minggu lagi sebelum studi berlangsung. Para peneliti mengevaluasi kebugaran pelari dengan menjalankan tes treadmill yang digunakan untuk mengukur daya tahan aerobik dan konsumsi oksigen dalam tubuh mereka. Tes tersebut disebut VO2 max.

Mereka juga melakukan tes darah dan pemindaian jantung menggunakan magnetic resonance imaging (MRI) sebelum perlombaan, tak lama setelah balapan, dan tiga bulan kemudian. Para peneliti menemukan perubahan segera setelah balapan di ventrikel kiri –bilik utama jantung biasa memompa darah– yang terbagi menjadi 17 segmen.

“Sekitar 53 persen dari segmen tersebut mengalami penurunan fungsi selama maraton,” kata Larose. “Fungsi menurun mungkin akibat peradangan karena tenaga yang diforsir,” tambahnya.

Tetapi, lanjut dia, segmen dalam bilik jantung yang bersebelahan akan mengendur, kompensasi untuk segmen yang tidak berfungsi dengan baik. Meskipun mengakibatkan penurunan fungsi segmen dalam bilik jantung, Larose menemukan fakta bahwa kemampuan jantung dalam memompa darah tidak berubah.

“Secara keseluruhan, jantung mampu memompa cukup darah selama perlombaan,” katanya. Karena itu, kebugaran seorang pelari, dapat memberikan efek positif bagi ventrikel kiri. “(Kalau pelari sehat) hanya satu bagian segmen yang tidak berfungsi,” katanya, “Itu juga akibat (daya tahan aerobik) yang bagus.

Pelari yang kurang terlatih dan yang memiliki skor VO2 max rendah, lebih mungkin mengalami dehidrasi dan menderita kerusakan segmen jantung yang lebih besar,” lanjut Larose.

Hasil penelitian ini menunjukkan, skor terbaik daya tahan aerobik seorang pelari melalui pengukuran VO2 max sebaiknya di atas 50. Namun, Larose menegaskan bahwa penelitian ini terlalu singkat untuk menyimpulkan bahwa skor tersebut sebagai patokan.

“Terlepas dari nilai VO2 max, ketika kita pindai ulang dengan MRI, semuanya akan kembali normal. Itu terjadi tiga bulan setelah maraton. Meskipun bukan berarti dibutuhkan waktu tiga bulan untuk jantung kembali pulih,” tandasnya.

“Penelitian ini memang berskala kecil, tapi dilakukan dengan baik,” kata Dr Ori Ben-Yehuda, direktur unit perawatan penyakit koroner dan seorang profesor di University of California San Diego, Amerika Serikat, yang telah meneliti topik ini juga.

“Studi ini menimbulkan keprihatinan, tetapi juga menenteramkan. Bahkan mereka (pelari) dengan kerusakan jantung (saat maraton) tetap sehat setelah tiga bulan,” tambahnya. “Jadi yang bisa disimpulkan, jika Anda dalam kondisi sangat sehat, menjalankan olahraga memiliki manfaat jangka panjang dan juga risiko jangka pendek,” kata Ben- Yehuda.

“Sangat sulit untuk menentukan yang ini aman dan yang itu tidak bagi seorang pelari. Satu hal yang jelas, semakin sering Anda latihan, semakin menurun efek yang ditimbulkan (olahraga),” tuturnya.

Larose setuju, semua orang harus mengambil pelajaran dan melihat secara lebih jelas hasil penelitian ini. Jika ingin mengikuti lomba lari maraton, rencanakan jauh-jauh hari dan berlatihlah secara rutin. Anda tidak mungkin menyediakan waktu satu bulan sebelum kegiatan berlangsung.

“Pedoman kasarnya, jika Anda sudah merasa siap mengikuti maraton, Anda harus menyediakan waktu tiga bulan penuh untuk latihan,” kata Larose.

“Lakukan latihan pendek dan panjang secara bergantian,” tukasnya. “Cari jadwal pelatihan yang baik, biasanya banyak terdapat di buku-buku olahraga dan di internet, serta tetap berkomitmen dengan itu,” kata Larose.

Jantung sendiri adalah organ unik, terletak di tengah atau pusat dari tubuh manusia sebagai pompa untuk menyalurkan darah ke seluruh tubuh dari otak hingga ujung jari kaki manusia. Karena sifatnya sebagai pompa, maka jantung memiliki otot sebagai komponen utama.

Jantung juga memerlukan nutrisi dari darah untuk memenuhi energi saat memompa, hal ini dipenuhi dari pembuluh darah yang disebut arteri koroner. Pada orang dengan kondisi jantung yang sehat dan usia muda, memang tidak ada halangan untuk melakukan olahraga apa pun.

Bahkan hal ini adalah suatu keharusan karena akan melatih jantung untuk bekerja dengan baik, memperbaiki sirkulasi dengan menurunkan kolesterol sehingga tidak menumpuk di dinding pembuluh darah, memperbaiki sensitivitas insulin sehingga memperlambat munculnya penyakit kencing manis serta banyak efek baik lainnya. Sementara pada orang yang telah memiliki gangguan jantung perlu perubahan pola olahraga.

Pada prinsipnya, olahraga yang dianjurkan adalah yang bersifat continuous, rhythmical, interval, progressive, dan endurance (CRIPE) seperti olahraga yang disarankan pada penderita kencing manis. Jenis olahraga ini antara lain renang, joging, atau lari treadmill dengan intensitas sedang. Sementara olahraga yang tidak dianjurkan adalah yang bersifat eksplosif seperti tenis, badminton, dan sayangnya juga termasuk angkat berat. (*)

 

 

 

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.