Ary Andini, S.T., M.Si – Dosen Fakultas Kesehatan

DIABETES Mellitus merupakan salah satu penyakit metabolic yang bersifat kronis. Diabetes mellitus terdiri dari dua jenis yaitu DM tipe 1 dan DM tipe 2. Diabetes tipe 1 karena sel beta pankreas menghasilkan sedikit hormon insulin yang disebabkan oleh faktor keturunan dan autoimun.

Namun, Diabetes Mellitus tipe 2 pun bisa juga menyerang para remaja karena remaja termasuk dalam kelompok usia yang konsumtif sehingga cenderung untuk mengkonsumsi berbagai jenis kuliner tanpa mengikuti pola hidup sehat.

 Diabetes mellitus tipe 2 disebabkan oleh resistansi insulin akibat kurangnya menjaga gaya hidup sehat tetap seimbang. Pada umumnya penderita Diabetes mellitus berusia 40 tahun ke atas, namun tidak menutup kemungkinan juga menyerang usia remaja.

Diabetes yang menyerang remaja umumnya  Diabetes tipe 1 karena sel beta pankreas menghasilkan sedikit hormon insulin yang disebabkan oleh faktor keturunan dan autoimun.

Namun, Diabetes Mellitus tipe 2 pun bisa juga menyerang para remaja karena remaja termasuk dalam kelompok usia yang konsumtif sehingga cenderung untuk mengkonsumsi berbagai jenis kuliner tanpa mengikuti pola hidup sehat. Diabetes mellitus tipe 2 disebabkan oleh resistansi insulin akibat kurangnya menjaga gaya hidup sehat dan tetap seimbang.

Jumlah anak-anak yang terdiagnosis diabetes mellitus, terlepas dari jenis diabetes tersebut mengalami peningkatan setiap tahunnya di seluruh dunia. Hal ini telah menjadi masalah kesehatan utama di negara maju dan berkembang.

Kejadian diabetes tipe 2 pada anak-anak dan remaja cukup meningkat di seluruh dunia. Hal ini dapat menjadi hasil dari meningkatnya obesitas pada populasi ini sebagai bukti terbaru menunjukkan hubungan yang kuat antara obesitas dan perkembangan resistensi insulin pada awal masa dewasa.(WHO,1999)

Karena itu, dilakukanlah penelitian mengenai prevalensi resiko diabetes mellitus pada remaja dengan megambil lokasi di Kabupaten Sidoarjo pada 2017. Penelitian ini dilakukan oleh Ary Andini (dosen Prodi D-IV Analis Kesehatan).

Penelitian ini dilakukan bekerjasama dengan dokter spesialis ilmu penyakit dalam yaitu dr. Evi Sylvia Awwalia, Sp.PD (dosen Fakultas Kedokteran) untuk mengetahui jumlah resiko diabetes mellitus pada remaja usia 15-20 tahun.

Penentuan diagnosis normal dan resiko diabetes (pre-diabetes) menggunakan patokan diagnosis PERKENI (2016) yang menjelaskan diagnosis normal jika nilai kadar glukosa darah < 90 mg/dl dan diagnosis prediabetes jika nilai kadar glukosa darah antara  90-199 mg/dl.

Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan prevalensi resiko diabetes pada remaja di Sidoarjo sekitar 42% dengan rata-rata kadar glukosa 104,35±13,01 mg/dl. Prevalensi non-diabetes mellitus pada remaja sekitar 58% dengan rata-rata kadar glukosa 79,26 ± 7,01 mg/dl.

Adapun faktor resiko utama yang menyebabkan cukup tingginya resiko diabetes mellitus remaja di Kabupaten Sidoarjo adalah konsumsi fastfood  dengan prosentase 71%, dan dikuti dengan konsumsi kopi atau minuman instan sekitar 31%, serta kebiasan merokok sekitar 5%.

Peningkatan jumlah penderita Diabetes Mellitus  yang cukup signifikan di Indonesia sepatutnya mendapatkan perhatian serius dari pemerintah. *

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry