Warga Solok mengungsi.
SOLOK | duta.co – Indonesia dikepung bencana gempa bumi. Setelah gempa Talaud hingga Malang selatan, Kamis 28 Februari 2019, terjadi gempa lagi di Kabupaten Solok Selatan. Satu bangunan dan 10 orang luka tertimpa reruntuhan rumah yang rusak akibat gempa yang mengguncang Kabupaten Solok Selatan Kamis (28/2/2019). Dinas Kesehatan sudah membangun tenda darurat.
“Sementara ini yang baru kita data ada 10 orang mengalami luka,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Solok Selatan, Novirman, Kamis (28/2/2019).
Menurut Novirman, korban gempa berasal dari Kecamatan Sangir Balai Janggo dan Sangir Jujuhan.
“Korban dievakuasi ke lapangan terbuka untuk mendapatkan perawatan medis sementara. Kita juga sudah mendirikan tenda darurat untuk menampung korban,” jelas Novirman.
Sepanjang Kamis, Solok Selatan diguncang beberapa kali gempa tektonik. Dimulai dengan gempa 4,8 pada pukul 01.55.02 Wib. Lalu disusul gempa dengan magnitudo lebih besar, yakni 5,6 Skala Richter pada pukul 06.27 WIB.
Gempa ini bukan hanya dirasakan di pusat gempa, melainkan juga di berbagai daerah di Sumatera Barat dan Kerinci Jambi.
Sebelumnya gempa bumi tektonik dengan magnitudo 5,1 mengguncang Talaud, Sulawesi Utara, Rabu (27/02/2019) sekitar pukul 08:11 WITA. Menurut BMKG, episentrum gempa terletak pada koordinat 5,15 Lintang Utara (LU) dan 127,2 Bujur Timur (BT) atau 134 km arah timur laut Talaud pada kedalaman 122 km.
BMKG menyatakan bahwa hasil pemodelan terhadap gempa bumi ini tidak berpotensi tsunami.
Sebelumnya pada hari Selasa (19/02/2019) sekitar pukul 20:56 WITA, gempa besar dengan kekuatan 5,2 M juga pernah terjadi di lokasi yang berdekatan dengan sumber gempa itu. Tepatnya di titik 4 LU dan 1,28 BT pada kedalaman 62 km.
Kabupaten Kepulauan Talaud adalah salah satu kabupaten di Provinsi Sulawesi Utara, Indonesia dengan ibu kota Melonguane.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat pada 2016, sebanyak 86.759 jiwa warga di Talaud berisiko tinggi terhadap bencana gempa bumi. Potensi kerugian ekonomi dan fisik masing-masing diperkirakan mencapai Rp164,53 miliar dan Rp931,23 miliar.
BMKG juga meminta warga waspada atas adanya gempa dengan kekuatan Magnitudo 5,9 di Malang, Jawa Timur. Menurut BMKG, gempa yang terjadi di wilayah selatan Malang kerap berpotensi merusak.
“Mengingat adanya peningkatan aktivitas kegempaan di selatan Malang ini, masyarakat diimbau tetap waspada. Melihat catatan sejarah gempa di Jawa Timur, kawasan selatan Malang memang sudah sering kali terjadi gempa kuat dan merusak,” ujar Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG Daryono dalam keterangan tertulis, Selasa (19/2/2019).
Daryono menyebutkan catatan gempa yang kuat dan merusak di wilayah selatan Malang pernah terjadi pada 15 Agustus 1895, 20 November 1958, selanjutnya pada 1962 dan 1963, dan terakhir pada 4 Oktober 1972. (det/hud)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.