
(Merawat Ukhuwah sebagai Amanah Para Muassis Menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama ke-35)
Oleh: Abdur Rahman El Syarif*
ADA satu pertanyaan yang patut kita renungkan menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama ke-35.
Jika kelak seluruh kepengurusan berganti, seluruh jabatan berakhir, dan seluruh dinamika kontestasi menjadi bagian dari sejarah, apa sesungguhnya warisan yang harus tetap tinggal di rumah besar Nahdlatul Ulama?
Apakah kemenangan satu kelompok? Apakah nama seorang pemimpin? Ataukah sesuatu yang jauh lebih berharga daripada semua itu? Sejarah Nahdlatul Ulama telah memberikan jawabannya dengan sangat jelas.
Warisan terbesar para kiai bukanlah jabatan, melainkan persaudaraan. Jabatan selalu berganti. Kepemimpinan berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya. Tetapi ukhuwah Nahdliyah tetap menjadi tali yang menyambungkan seluruh mata rantai perjuangan sejak NU didirikan pada tahun 1926 hingga memasuki abad keduanya.
Barangkali inilah mengapa para muassis lebih banyak dikenang karena akhlaknya daripada karena kekuasaannya. Mereka bukan hanya mewariskan kitab-kitab, fatwa-fatwa, atau keputusan-keputusan organisasi. Mereka juga mewariskan cara hidup bersama di tengah perbedaan.
Salah satu teladan yang begitu indah adalah kisah Hadratus Syekh KH. Hasyim Asy’ari dan Wakil Rais Akbar KH. Faqih Mas Kumambang mengenai penggunaan kentongan sebagai penanda masuknya waktu salat. Keduanya memiliki pandangan fiqih yang berbeda. Hadratus Syekh berpandangan bahwa penggunaan kentongan tidak dapat dibenarkan, sedangkan KH. Faqih Mas Kumambang membolehkan penggunaannya. Perbedaan itu bahkan pernah tersaji di ruang publik melalui tulisan mereka pada surat kabar.
Namun yang membuat keduanya dikenang bukanlah perbedaan hukumnya. Yang dikenang adalah kebesaran hati mereka.
Hadratus Syekh tidak memaksakan seluruh kiai mengikuti pendapatnya. Beliau justru mengumpulkan para kiai kampung di Jombang dan memberikan kebebasan kepada mereka untuk mengikuti pendapat yang diyakininya.
Sebaliknya, ketika KH. Faqih Mas Kumambang mengundang Hadratus Syekh memberikan tausiyah Maulid Nabi di Gresik, beliau meminta seluruh pengurus masjid dan langgar menurunkan kentongan selama Hadratus Syekh berada di sana.
Beliau tidak mengubah pendapat fiqihnya. Tetapi beliau mendahulukan adab daripada ego. Betapa indah pelajaran itu. Perbedaan pandangan tidak menghapus penghormatan. Perbedaan ijtihad tidak memutus persaudaraan.
Mungkin inilah salah satu alasan mengapa NU mampu bertahan lebih dari satu abad. Ia tidak dibangun oleh keseragaman pendapat, tetapi oleh kebesaran hati para ulama dalam mengelola perbedaan.
Teladan serupa dapat kita lihat pada hubungan KH. Wahab Chasbullah dengan Hadratus Syekh KH. Hasyim Asy’ari.
KH. Wahab dikenal sebagai sosok yang dinamis, komunikatif, dan sangat piawai membaca perubahan zaman. Beliau sering menjadi jembatan antara dunia pesantren dan dinamika sosial-politik yang berkembang. Sementara Hadratus Syekh dikenal lebih tenang, mendalam, dan sangat hati-hati dalam mengambil keputusan.
Dua karakter yang berbeda. Dua pendekatan yang tidak selalu sama. Namun keduanya dipersatukan oleh tujuan yang sama: menjaga agama, menjaga umat, dan menjaga jam’iyah.
Mereka membuktikan bahwa harmoni tidak lahir karena semua orang berpikir sama, tetapi karena semua orang bersedia menempatkan kepentingan organisasi di atas kepentingan pribadi.
Pelajaran itu terus diwariskan oleh generasi berikutnya. Para kiai sepuh dahulu sering berbeda dalam forum bahtsul masail. Perdebatan ilmiah berlangsung dengan argumentasi yang tajam, masing-masing menyampaikan dalil dan pendapat ulama secara terbuka. Namun ketika forum ditutup, mereka kembali duduk bersama, menikmati secangkir kopi, saling bercanda, dan tetap memanggil satu sama lain dengan penuh takzim.
Yang diperdebatkan adalah persoalan. Yang dijaga adalah persaudaraan. Tradisi seperti inilah yang menjadikan NU bukan hanya besar sebagai organisasi, tetapi juga kokoh sebagai keluarga.
Dalam tradisi pesantren bahkan dikenal satu ungkapan yang sangat sederhana tetapi mendalam: “Beda pendapat jangan sampai beda hati.” Ungkapan itu bukan sekadar nasihat. Ia adalah cara hidup yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Hari ini, ketika Muktamar semakin dekat, pesan itu terasa semakin relevan. Perbedaan pilihan adalah sesuatu yang wajar. Mendukung calon tertentu juga merupakan hak setiap muktamirin. Namun pilihan tidak boleh menghapus penghormatan. Kompetisi tidak boleh mengikis ukhuwah.
Sebab pada akhirnya, siapa pun yang terpilih akan memimpin rumah yang sama. Rumah itu bernama Nahdlatul Ulama. Rumah yang dibangun dengan doa para ulama. Rumah yang disiram dengan air mata perjuangan para santri. Rumah yang ditegakkan bukan oleh kekuatan satu tokoh, melainkan oleh keikhlasan ribuan kiai yang mengabdikan hidupnya tanpa berharap dikenang.
Karena itu, yang harus dijaga bukan hanya hasil Muktamar. Yang lebih penting adalah suasana batin setelah Muktamar. Apakah warga NU masih saling menyapa? Apakah para kiai masih saling berkunjung? Apakah para santri tetap memandang sesama Nahdliyin sebagai saudara?
Jika jawabannya “ya”, maka sesungguhnya NU telah menang, siapa pun yang nanti memimpin. Sebaliknya, bila persaudaraan retak hanya karena perbedaan pilihan, maka kemenangan organisasi akan kehilangan makna.
Dalam khazanah tasawuf, para salik diajarkan bahwa perjalanan menuju Allah tidak selalu melalui jalan yang sama. Ada yang menempuh jalan ilmu, ada yang memperbanyak zikir, ada yang memperdalam khidmah kepada umat. Jalannya berbeda, tetapi tujuan mereka satu.
Bukankah NU sejak awal juga dibangun di atas semangat yang demikian? Para kiai boleh berbeda pendekatan. Para pengurus boleh berbeda strategi. Para muktamirin boleh berbeda pilihan. Tetapi tujuan mereka harus tetap sama, yakni menjaga marwah Nahdlatul Ulama sebagai jam’iyah diniyah yang mengabdi kepada agama, bangsa, dan kemanusiaan.
Mungkin karena itulah para muassis tidak pernah meninggalkan warisan berupa kelompok-kelompok yang saling berhadapan. Yang mereka tinggalkan adalah jalinan persaudaraan yang mampu menyatukan berbagai perbedaan. Persaudaraan itulah yang membuat NU tetap tegak ketika menghadapi penjajahan. Persaudaraan itulah yang menjaga NU melewati berbagai pergantian zaman. Dan persaudaraan itu pulalah yang kini berada di tangan kita untuk diwariskan kepada generasi berikutnya.
Menjelang Muktamar ke-35, marilah kita kembali membuka lembar-lembar sejarah para kiai. Bukan untuk mencari siapa yang paling kuat, melainkan untuk menemukan kembali apa yang paling mereka jaga.
Jawabannya bukanlah jabatan. Bukan pula kemenangan. Melainkan persaudaraan. Karena sesungguhnya, jabatan hanya akan dikenang dalam berita dan dokumen organisasi. Kemenangan hanya akan tercatat dalam sejarah kepengurusan. Tetapi persaudaraan akan hidup di dalam hati, diwariskan dari satu generasi Nahdliyin kepada generasi berikutnya.
Itulah warisan terbesar para kiai.
Warisan yang tidak tertulis dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga, tetapi tertanam kuat dalam akhlak para muassis. Warisan yang tidak dapat diperebutkan oleh siapa pun, tetapi hanya dapat dijaga bersama.
Dan jika ada satu amanah yang patut kita bawa memasuki abad kedua Nahdlatul Ulama, maka amanah itu adalah memastikan bahwa setiap perbedaan tetap berujung pada pelukan persaudaraan, bukan pada jurang perpecahan.
Sebab pada akhirnya, warisan terbesar para kiai bukanlah siapa yang memimpin Nahdlatul Ulama, melainkan bagaimana Nahdlatul Ulama tetap menjadi rumah yang teduh bagi seluruh warganya.
Wallahu A’lamu Bi Ash-Shawab
Jakarta, 7 Juli 2026
*Abdur Rahman El Syarif adalah Anggota Lajnah Pengkajian dan Penelitian Turots dan Sanad Thariqah Idarah Aliyah JATMAN



































