
SIDOARJO | duta.co – Sudah tiga minggu jembatan penghubung di lingkungan warga RW 01 Desa Tambak Cemandi putus. Namun, hingga kini belum ada perbaikan.
Meski beberapa waktu lalu sudah didatangi Wakil Bupati Sidoarjo, Hj. Mimik Idayana yang menjanjikan perbaikan akhir Oktober 2025, sampai saat ini belum juga ada tindakan di lapangan.
Ketua RW 01, Kasian (45), kepada duta.co di lokasi jembatan putus mengatakan, dirinya bersama warga telah bergotong royong membuat jembatan darurat.
“Bahkan salah satu pemilik kolam pancing ingin membangun jembatan, tapi tidak diperbolehkan oleh pihak kecamatan karena termasuk jalan kabupaten. Padahal sudah disumbang besi penyangga itu, mas, yang sekarang kami fungsikan,” ujar Kasian.
Masih kata Kasian, robohnya jembatan ini membuat perekonomian warga sangat terpuruk. Pemasukan masyarakat, mulai dari jasa cabut duri hingga warung bakar ikan, menurun drastis.
“Sehingga saya sangat berharap kepada pemerintah daerah untuk secepatnya membangun jembatan yang roboh ini. Kalau bisa jangan sampai bulan 11, karena biasanya di pertengahan bulan ada air rob besar. Kalau tidak segera ditangani, tambak-tambak di sekitar jembatan bisa tenggelam dan rumah warga kebanjiran,” terangnya.
“Janji Bu Wabup akhir Oktober, namun sampai sekarang tanggal 23 belum ada alat-alat atau pihak pemenang tender yang datang ke sini. Jadi saya mohon, tolong Bu Wabup, segera dibangun jembatan kami,” lanjutnya.
Pihak RW bersama warga dan pemilik kolam pemancingan berinisiatif swadaya membuat jembatan darurat sementara dari bambu, supaya masyarakat dapat beraktivitas dan perekonomian tidak semakin hancur. “Tapi jembatan darurat ini hanya bisa dilintasi kendaraan roda dua, tidak bisa roda empat,” pungkas Kasian.

Akses Terputus, Warga Terbebani!
Salah satu warga, Bu Rokilah (35), yang sehari-hari mencari penghasilan dari jasa mencabut duri ikan bandeng, juga menyampaikan keluh kesahnya karena jembatan tak kunjung dibangun.
“Kami semua di sini, khususnya yang sebelah timur jembatan yang putus, sangat terdampak. Penghasilan cabut duri menurun drastis karena tidak ada pengunjung yang mancing. Biasanya mereka mancing lalu bawa ikan untuk dicabut durinya. Sekarang karena jembatan putus, pemancing jadi malas datang karena mobil tidak bisa masuk,” ujarnya.
“Sehari biasanya bisa dapat Rp50 ribu sampai Rp100 ribu, itu pun sesepi-sepinya. Itupun jasa untuk satu ekor ikan 3 ribu perak. Sekarang benar-benar sepi, warung juga tidak ada pembeli,” tambahnya.
Wanita yang sudah 10 tahun bekerja sebagai pencabut duri itu berharap jembatan segera dibangun tanpa harus menunggu akhir Oktober.
“Biar ekonomi bisa pulih, warung dan pemancing jalan lagi, terutama para pelaku jasa cabut duri ikan,” pungkas Bu Rokilah.
Terpisah, warga lainnya, Bu Wafdah, juga mengaku kesulitan air bersih sejak jembatan putus.
“Biasanya kan bisa ambil air pakai tangki, sekarang susah. Kasihan warga, harus bolak-balik bawa galon untuk mandi, cuci baju, dan masak. Jadi pengeluaran makin besar tiap hari,” ujarnya.
Hal itu dibenarkan oleh Bu Iin, pemilik warung kopi setempat. “Warung jadi sepi, biasanya ada pemancing yang mampir, sekarang tidak ada sama sekali. Yang paling utama memang air, setelah jembatan putus warga di sebelah timur kesulitan air,” ujarnya. (loe)




































