Suku Tengger tetap mematuhi protokol kesehatan sesuai anjuran para sesepuh dan terutama ucapan dari Dukun. (DUTA.CO/Abdul)

PASURUAN | duta.co – Salah satu tradisi turun temurun warga Suku Tengger di Desa/Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan, yakni ritual Karo, tetap digelar meski di tengah Pandemi Covid-19. Namun acara ritual ini tetap menerapkan protokol kesehatan sesuai dengan anjuran pemerintah selama ini.

Meski tak seperti tahun sebelumnya, ritual dilaksanakan berbeda. Bahkan warga patuhi apa yang dianjurkan oleh dukun untuk memakai masker, cuci tangan dengan sabun di air mengalir dan jaga jarak. Mereka datang berdoa sesuai dengan keyakinan Hindu Tengger, meminta agar Virus Corona hilang di muka bumi.

Ratusan warga dari Brang Kulon dari 14 desa, wajib mencuci tangan dan diberi hand sanitizer serta harus bermasker dan menjaga jarak, juga tak berkerumun saat memasuki Pendopo. Mereka pun bergiliran memasuki acara. Tak hanya itu, para penari Sodor, hanya diberi kesempatan tampil selama 10 menit untuk tiap peserta.

Menurut Dukun Brang Kulon, Eko Warnoto mengatakan, ritual Karo merupakan tradisi yang harus dilaksanakan oleh Suku Tengger. “Ritual Karo sebagi wujud rasa syukur kehadirat Tuhan YME atas terciptanya cikal bakal manusia harapannya mudah-mudahan pandemi covid segera berlalu,” paparnya.

Karo dilaksanakan memasuki bulan kedua Kalender Tengger atau dua bulan pasca upacara Yadnya Kasada. Upacara ini didahului dengan tradisi Mblara, yang menampilkan Tari Sodor, tarian yang dibuka terlebih dulu oleh para sesepuh Suku Tengger. Tiap penari, membawa tongkat Bambu Wuluh berjumlah 12.

Jumlah 12 menandakan 12 bulan dengan diiringi alat musik Gamelan Jawa. Meski demikian sebuah tarian disakralkan masyarakat Suku Tengger yang menggambarkan hubungan suami istri leluhur Suku Tengger, sebagai cikal bakal manusia di lereng Gunung Bromo. Yakni adanya Roro Anteng dan Joko Seger. (dul)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry