HOAX : Pengasuh Ponpes MFM dan Ketua Jamaah Salawat Musa As saat memberikan klarifikasi saat acara salawat di halaman pondok (FT/Nanang Priyo)

KEDIRI | datu.co – Hati-hati! Semakin mendekati coblosan, isu politik kian sadis, dan bisa saja dikemas dengan berbagai model. Bukan tidak mungkin dengan isu-isu agama. Hari ini, kabar hoax itu menimpa Pengasuh Ponpes Miftahul Falahil Mubtadiin (MFM), Muhammad Romli Sholeh, Ketua Jamaah Salawat Thariqah Akmaliyah Sholihiyah (Musa As).

Beredar di kalangan warga Nahdlatul Ulama (NU) Kediri, Jawa Timur dan sejumlah media sosial, bahwa Jamaah Salawat Thariqah Akmaliyah Sholihiyah (Musa As) yang berpusat di Dusun Pulosari, Desa Sukosari, Kecamatan Kasembon Kabupaten Malang, merupakan kelompok sesat dan pendukung 212 serta jaringan Front Pembela Islam (FPI).

Lebih ironis, kabar ini tersebar sampai luar negeri, hingga sejumlah alumni pondok dan para tokoh agama meminta klarifikasi langsung kepada Gus Rom, sapaan akrab sosok ulama dikenal memiliki ribuan jamaah.

“Saya nyatakan kabar tersebut tidak benar, hoax. Hari ini (tadi malam, red) saya membuat klarifikasi atas kabar telah beredar,” tegasnya di hadapan ratusan jamaah saat acara salawatan di halaman ponpes, Kamis (07/03/2019).

Hebatnya, acara dihadiri Kepala Kesbangpolinmas Pemkab Kediri, Satirin, perwakilan Kodim 0809 Kediri, sejumlah tokoh agama dan masyarakat ini, juga dihadiri masyarakat yang tinggal di sekitar ponpes.

“Siapa yang menyuruh datang ke acara salawat? Apa benar saya ini memberikan ajaran sesat? Kabarnya para Muspika Kepung, MUI, Pengurus NU dan kabarnya juga akan dibahas di PBNU,” terangnya.

Dalam klarifikasinya di sela-sela acara salawatan, Gus Rom menyampaikan bahwa pengajian digelar beberapa waktu lalu di Desa Kebonrejo, Kecamatan Kepung, Kabupaten Kediri, telah dimanfaatkan sejumlah oknum untuk memojokkan dirinya.

Bahkan diduga ada sekelompok orang yang terorganisir telah menyebarkan kabar bohong dan kini viral di media sosial. Kabar bohong itu di antaranya, dirinya mengatakan kiamat sudah dekat, meminta jamaah menjual semua aset yang dimiliki untuk bekal di akhirat kemudian diserahkan ke pondok.

Para jamaah ini (katanya) juga diminta bermukim dan melaksanakan salat lima waktu di pondok. Kemudian saat Bulan Ramadan nanti akan terjadi huru-hara atau perang, jamaah diminta membeli pedang kepada dirinya seharga Rp1 juta.

“Katanya, bagi jamaah yang tidak mampu beli pedang, diharapkan menyiapkan senjata di rumah masing-masing. Kabar ini jelas meresahkan jamaah saya dan warga masyarakat di Kabupaten Kediri, Malang dan sejumlah kota lainnya,” tegas Gus Rom.

Berharap Oknum Datang ke Pondok

Soal tuduhan FPI lantaran ada bendera tauhid, juga tidak benar. Bahwa sebelum marak bendera Tauhid, jelasnya, di setiap acara kami selalu mengibarkan bendera tersebut. “Kenapa justru sekarang dipermasalahkan, atas data darimana kami bergabung dengan kelompok Aksi 212 dan FPI?,” tegasnya.

Kemudian dirinya juga ditunding menyampaikan fatwa, akan terjadi kemarau panjang selama tiga tauhn berturut-turut mulai tahun ini. Kemudian jamaah diminta menyetor gabah 5 kuintal ke pondok dan membuat Gus Rom merasa sedih, ada pengakuan wali santri bahwa tangan anaknya akan dipotong jika terbukti terjadi paceklik untuk dimakan.

“Makanya ada sejumlah wali santri datang ke pondok dengan beragam alasan,  berujung mengajak anaknya boyong dari pondok. Karena muncul kabar, ada pengakuan santri kelas 5 SD, diminta memotong tangan adiknya untuk dimakan bila terbukti terjadi pakceklik. Astaghfirullah!” terusnya.

Atas beredarnya kabar hoax ini, Gus Rom menyatakan bahwa dirinya memilih bersabar dan meminta pihak-pihak atau lembaga resmi telah menulis, membahas dan menyebarkan kabar ini untuk tabayyun bersama dirinya.

Usai memberikan klarifikasi dipenghujung acara salawat, ditutup dengan doa bersama dan berharap Allah swt memberikan hukuman kepada penyebar hoax ini.

“Monggo datang ke pondok, kita duduk bersama dan jangan menyebarkan kabar hoax sebelum melakukan klarifikasi. Apa tujuan mereka, saya sendiri tidak paham karena selama ini saya menjalankan amanah abah saya, almarhum KH Sholeh Saefuddin,” imbuhnya. (nng)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.