YOGYAKARTA | duta.co – Warga Nahdlatul Ulama (NU) Daerah Istimewa Yogyakarta didorong mengambil peran dalam rantai pasok penyelenggaraan haji dan umrah nasional. Hal itu disampaikan Direktur Jenderal Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah (PE2HU) Kementerian Haji dan Umrah, Jaenal Effendi, dalam Diskusi Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah bersama Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DIY di Yogyakarta, Rabu (15/7).

Jaenal mengatakan penyelenggaraan ibadah haji yang setiap tahun melibatkan sekitar 221 ribu jemaah Indonesia memiliki perputaran ekonomi yang besar. Potensi tersebut perlu dimanfaatkan agar memberi nilai tambah bagi masyarakat melalui keterlibatan pelaku usaha, koperasi, pesantren, dan UMKM dalam memenuhi kebutuhan penyelenggaraan haji dan umrah.

“Warga NU memiliki modal besar untuk menjadi bagian dari rantai pasok haji dan umrah. Kita ingin manfaat penyelenggaraan haji tidak berhenti pada aspek ibadah, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi masyarakat,” jelasnya.

Menurut Jaenal, Kementerian Haji dan Umrah mengembangkan tiga pilar kesuksesan penyelenggaraan haji, yakni sukses ritual, sukses ekosistem ekonomi, dan sukses peradaban. Ketiga pilar tersebut harus berjalan beriringan agar penyelenggaraan haji mampu menghasilkan manfaat yang lebih luas bagi bangsa.

“Haji bukan hanya sukses dalam pelaksanaan ibadah, tetapi juga harus mampu menciptakan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat Indonesia serta menghadirkan kemajuan peradaban,” tegasnya.

Ia menjelaskan peluang usaha dalam ekosistem ekonomi haji dan umrah terbuka di berbagai sektor, mulai dari penyediaan makanan dan bumbu masakan khas Indonesia, makanan siap saji, pakaian dan perlengkapan ibadah, produk kerajinan tangan, suvenir, hingga komoditas peternakan dan perkebunan yang dibutuhkan dalam penyelenggaraan haji dan umrah.

Dalam kesempatan itu, Jaenal juga memperkenalkan filosofi Jamak Taksir sebagai pendekatan membangun ekonomi umat. Menurutnya, pelaku usaha perlu berani keluar dari pola lama (out of the box) dan mengedepankan kolaborasi dibandingkan persaingan agar mampu membangun kekuatan ekonomi bersama.

DIY dinilai memiliki potensi besar melalui kekuatan UMKM, industri kreatif, produk berbasis pesantren, kerajinan, dan kuliner lokal. Potensi tersebut perlu dipetakan dan dikonsolidasikan agar mampu memenuhi kebutuhan penyelenggaraan haji dan umrah sekaligus memperluas manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Karena itu, Kanwil Kementerian Haji dan Umrah DIY bersama Lembaga Perekonomian PWNU DIY dan pemerintah daerah didorong melakukan pendataan potensi ekonomi, komoditas unggulan, serta kapasitas UMKM. Langkah tersebut diharapkan memperkuat rantai pasok haji dan umrah sekaligus membuka peluang bagi lebih banyak produk lokal menembus pasar penyelenggaraan haji dan umrah. (hji)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry