
SUABAYA | duta.co – Warga NU (Nahdlatul Ulama) berkabung! Minggu (01/3/26) kabar duka itu menyelimuti nahdliyin. Salah satu kader terbaiknya, Ketua Umum PP Fatayat NU yang juga sekaligus Ketua KPAI, Margaret Aliyatul Maimunah (Ning Liya), wafat.
“Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Kita kehilangan kader terbaik. Tugas panjenengan sudah selesai, kini kembali kepada Allah SWT, semoga seluruh amal baik diterima di sisi-Nya,” demikian kader NU, Jawa Timur grup WA nadliyin terpantuan duta.co, Minggu (01/3/26).

Seperti kita tahu, almarhumah meninggal dunia pada Ahad (1/3/2026) pukul 08.25 WIB setelah dirawat beberapa hari di RS Fatwamawati, Jakarta Selatan. Kabar wafatnya Ning liya istri KH Abdullah Masud, ini cepat menyebar di medsos. “Usai disholatkan di PBNU, diberangkatkan menuju pemakaman keluarga di Pesantren Mambaul Maarif, Denanyar, Jombang. Ini saya lagi menuju lokasi pemakaman,” tambah kader NU itu.
Ia dikenal sebagai wanita tangguh. Wanita yang lahir 11 Mei 1978 itu adalah salah satu keluarga pendiri NU dari jalur KH Bisri Syansuri, pendiri Pesantren Mambaul Ma’arif Denanyar, Jombang. Semasa hidupnya, dia dikenal sebagai aktivis. Dalam pandangan nahdliyin, Ning Liya atau Mbak Iyet (panggilan akrabnya) adalah perempuan Indonesia yang sukses mengambil peran sebagai arsitek perubahan di tengah tantangan zaman.
Pesannya: “Kita tidak bisa hanya menjadi penonton perubahan. Perempuan Muslim harus hadir sebagai pelaku, penggerak, dan penentu arah perubahan di lingkungannya,” jelasnya sebagaimana dikutip Antara saat dalam acara Penganugerahan Inspiring Moslem Women (IMW) 2026.
Semangatnya luar biasa. Itu terlihat dalam acara yang diselenggarakan Fatayat NU bersama Yayasan Compass Indonesiatama. Ini merupakan bagian dari peringatan Hari Lahir NU dan Fatayat NU 2026. Saat itu, Ning Liya menyoroti tantangan global mulai dari ketimpangan ekonomi, keterbatasan akses pendidikan, hingga kerentanan perempuan dalam kekerasan berbasis digital.
Karena itu, menurutnya, perempuan Muslim harus memiliki tiga kekuatan utama yakni intelektual, spiritual-moral, serta solidaritas dan kepemimpinan sosial. Menurutnya, kekuatan intelektual menjadikan perempuan mampu membaca zaman dan beradaptasi dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kekuatan spiritual-moral menjaga nilai dan akhlak di tengah derasnya arus informasi.
Sedangkan soal solidaritas dan kepemimpinan sosial, harus menjadikan perempuan mampu mengorganisasi kebaikan untuk kemaslahatan bersama. “Ketika perempuan berdaya, keluarga akan kuat. Ketika keluarga kuat, masyarakat kokoh. Dan ketika masyarakat kokoh, bangsa akan kuat,” tegasnya.
Lahir di Jombang (1978) Ning Liya adalah putri kedua pasangan KH Mohammad Faruq dan Hj Lilik Chodijah Aziz Bisri. Pendidikan dasarnya ditempuh di lingkungan pesantren. Ia nyantri di Pondok Pesantren Denanyar Jombang sejak tingkat SLTP hingga SLTA.
Selepas menamatkan pendidikan di MAN Denanyar, ia melanjutkan studi S1 di IAIN Sunan Ampel Surabaya dan menempuh pendidikan pascasarjana di Universitas Indonesia pada Program Studi Kajian Wanita pada 2009. Sejak remaja, jiwa organisasinya telah tumbuh. Ia aktif di OSIS, Pramuka, dan berbagai kegiatan pelajar.
Saat mahasiswa, ia dipercaya menjadi Ketua Korps PMII Putri (Kopri PMII) Rayon Adab (2000–2001), lalu Ketua Komisariat PMII Adab Cabang Surabaya Selatan (2001–2002). Di lingkungan IPPNU, ia pernah menjabat sebagai Sekretaris Umum (2006–2009) dan Ketua Umum (2009–2012).
Karier organisasinya berlanjut di Fatayat NU sebagai Wakil Koordinator Bidang Ekonomi (2009–2015) dan Sekretaris Umum (2015–2020), sebelum akhirnya dipercaya memimpin sebagai Ketua Umum PP Fatayat NU.
Komitmennya terhadap isu perempuan dan anak diwujudkan melalui perannya sebagai Komisioner KPAI periode 2017–2022 dan 2022–2027. Ia juga diketahui bergabung dengan Women Research Institute (WRI), lembaga yang fokus pada penelitian dan advokasi isu perempuan.
Selamat jalan Ning, semangat penjenengan telah terpatri menjadi motivasi kader-kader muda Fatayat NU. Laha al-fatihah. (din)





































