Banjir yang masih menggenangi kawasan Desa Sadengrejo, Kecamatan Rejoso, Kabupaten Pasuruan, Selasa (15/1/2019) siang. (DUTA.CO/Abdul Aziz)

PASURUAN | duta.co – Intensitas hujan yang cukup tinggi di kawasan timur Kabupaten Pasuruan, sedikitnya ratusan rumah warga di 4 dusun di Desa Sadengrejo, Kecamatan Rejoso, Kabupaten Pasuruan tergenang banjir akibat luapan sungai di desa setempat, sejak Senin (14/1/2019) petang. Bahkan ketinggian air di jalan desa sudah mencapai 1,5 meter.

Banjir yang lama surut akibat pasca pembangunan akses Tol Gempol-Pasuruan (Gempas) ini, membuat jalur ekonomi lumpuh. Bahkan warga tak lagi beraktivitas seperti biasanya. Tak hanya itu, proses belajar mengajar di SDN Sadengrejo terpaksa diliburkan karena halaman sekolah tergenang banjir setinggi lutut orang dewasa.

Seorang warga, Taufiq (38), mengatakan, biasanya banjir cepat surut setelah terjadi seperti saat ini. “Kalau tahun-tahun lalu, banjir cepat surut karena belum dibangun tol. Tapi, sekarang susah surutnya. Jalan desa terendam. Juga rumah-rumah warga di 4 dusun ikut terendam banjir. Anak-anak terpaksa gak pergi sekolah khawatir keselamatannya,” ujarnya, Selasa (15/1/2019).

Salah satu tokoh pemuda Desa Sadengrejo, Hudan Dardiri menuturkan, persoalan banjir adalah hal teknis yang bisa dicarikan solusinya oleh pihak terkait. Namun selama ini tak pernah diperhatikan. “Kami atas nama warga hanya inginkan agar permasalahan banjir ini tak dibiarkan terus menerus setelah adanya pembangunan jalan tol itu. Paling tidak ada solusinya,” katanya.

Dijelaskannya, warga Desa Sadengrejo sudah kesal dengan kenyataan akibat banjir karena ingkar janji pelaksana proyek tol Gempas.”Tuntutan warga soal perbaikan pembuatan jalan terowongan, sungai diluruskan, box culvert pengairan diperdalam, perbaikan jalan desa, saluran irigasi dan TPT, serta ganti rugi rumah warga terdampak, belum ada realisasinya,” jelas Hudan.

Pihaknya mendesak pada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pasuruan carikan solusi agar warga tidak menjadi korban dampak banjir akibat pasca pembangunan proyek tol tersebut. Karena diakui Hudan, sebelum ada tol, banjir yang terjadi setelah hujan, cepat surut. “Kami inginkan pemerintah daerah juga peduli terhadap warga,” harap dia.

Sementara itu, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pasuruan, Bakti Jati Permana mengatakan, untuk banjir Sadengrejo, pihaknya sudah memberikan bantuan makanan bagi warga yang terdampak. “Kita juga koordinasi dengan pihak desa untuk mengatasi banjir yang kerap terjadi saat hujan,” ungkapnya.

Diakuinya, solusi untuk atasi banjir pihaknya sudah meminta pada pelaksana proyek PT Adhi Karya agar mendatangkan alat berat untuk mengeruk irigasi. “Kalau kami lihat memang tak ada saluran irigasi yang sesuai. Bahkan tidak ada bak kontrolnya. Kami sepakat soal tuntutan warga itu, karena kondisinya memang begitu dan harus ada solusi,” jelas Bakti. (dul)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.