Ahok dan ibu angkatnya, (almh) Misribu, istri dari mantan Bupati Bone (alm) Andi Baso Amir. |IST

Bawa-Bawa Nama M Jusuf di Sidang Penistaan Agama

 

Ahok dan ibu angkatnya, (almh) Misribu, istri dari mantan Bupati Bone (alm) Andi Baso Amir. |IST

JAKARTA-Terdakwa kasus penistaan agama Basuki ‘Ahok’ Tjahaja Purnama didesak oleh masyarakat Sulawesi Selatan khususnya etnis Bugis untuk segera minta maaf. Hal itu lantaran saat membacakan nota keberatannya di dalam persidangan, Selasa (13/12) lalu, Ahok membawa-bawa nama suku Bugis serta nama Jenderal M Jusuf yang disebutnya sebagai saudara kandung ayah angkatnya, Andi Baso Amir.

Masyarakat Sulawesi Selatan khususnya Suku Bugis dibuat jengah oleh kalimat-kalimat pembelaan tersebut, saat kasus sidang penistaan agama masih bergulir. Senator asal Sulawesi Selatan AM Iqbal Parewangi berpendapat, Ahok harus segera minta maaf dan berjanji untuk berhenti mengusik kesabaran masyarakat.

“Semua ingin Indonesia damai dan Sulawesi Selatan itu Indonesia juga. Nilai-nilai agama dan budaya membuat orang ramah, tapi juga bisa buat orang marah. Dalam Islam ada ghirah dan jihad, sepadan dengan itu orang Sulawesi Selatan punya ‘siri na pacce’. ‘Siri na pacce’ menata keramahan, tapi jika diusik justru bisa memicu kemarahan. Jadi sebelum siri na pacce itu terusik lebih luas, Ahok perlu segera minta maaf,” ujar Iqbal di Jakarta, Jumat (16/12).

Permintaan maaf itu perlu dilakukan Ahok karena beberapa hal. Dalam sidang yang disaksikan secara langsung melalui siaran televisi itu, Ahok menceritakan dia adalah bagian keluarga besar muslim bernama Andi Baso Amir dan sudah diangkat sebagai anak oleh keluarga yang berasal dari Sulawesi Selatan itu. Andi Baso Amir adalah sosok terpandang masyarakat Sulsel yang juga mantan bupati Bone.

Ahok juga menambahkan bahwa ayah angkatnya itu adalah adik kandung dari almarhum mantan Pangab Jenderal Purnawirawan M Jusuf. Padahal, jika melihat silsilah keluarga besar ini, antara Jenderal M Jusuf dengan Andi Baso Amir adalah satu ayah namun berlainan ibu.

Penyebutan nama Jenderal M Jusuf ini, kemudian memunculkan reaksi di kalangan masyarakat Sulsel. Analis Komunikasi Politik dan Kebangsaan yang juga dosen FISIP Universitas Muhammadiyah Makassar Arqam Azikin mengatakan, sebagai terdakwa kasus penistaan agama, Ahok tidak perlu menyebut-nyebut suku Bugis dalam persidangannya.

Menurut Iqbal, Jenderal Jusuf itu tokoh panutan nasional kebanggaan Indonesia, apalagi orang Sulawesi Selatan. “Beliau berkarakter ‘lempu, tongeng, getting’, atau lurus dan jujur, bersih dan benar, juga tegas. Tidak mengalir darah penista dan pendusta dalam nadi beliau. Jenderal Jusuf nasionalis tulen sekaligus religius. Al Markaz al Islami yang megah di Makassar itu inisiatif beliau dan banyak lagi. Indonesia tahu semua itu. Maka wajar saja ketika Ahok yang didakwa menistakan Alquran itu menyebut-nyebut Jenderal Jusuf, spontan protes meluas,” kata Iqbal.

Keluarga M Jusuf Kerepotan

Anggota DPD RI ini mengatakan, keluarga Jenderal Jusuf pun sempat kerepotan melayani konfirmasi tentang hal yang di sampaikan kepada keponakannya, Andi Herry Iskandar itu. Iqbal mengatakan, tidak sedikit tokoh masyarakat Sulawesi Selatan, tokoh adat, tokoh pemuda, intelektual dan pendidik, budayawan, hingga orang awam protes dengan klaim Ahok tersebut.

“Saya termasuk diminta menyuarakan protes mereka. Karena itu, agama dan budaya merupakan pilar utama Indonesia. Maka jangan nistakan agama dan jangan kajili-jili mengusik budaya,” katanya.

Seperti diberitakan, dalam pembelaannya, Ahok sambil menangis menyebutkan bagaimana mungkin dia menista agama orang tua dan saudara-saudara angkatnya yang sangat ia sayangi. Ahok pun menyebutkan jika Andi Baso Amir adalah mantan Bupati Bone dan adik kandung Jenderal Purnawirawan M Jusuf.

Menanggapi hal itu, salah seorang deklarator Komite Perjuangan Penegakan Syariat Islam (KPPSI) Sulawesi Selatan Azwar Hasan menilai Ahok telah melakukan pembohongan. “Ahok berbohong mengatakan bahwa Andi Baso Amir saudara kandung Jenderal M Jusuf,” ujarnya, Kamis (15/12).

Menurut dia, Ahok telah melakukan kesalahan berikutnya dengan menyeret tokoh masyarakat Bugis yang menjadi panutan bagi warga Sulsel khususnya. Salah satu keponakan Jenderal Purnawiran M Jusuf, Andi Herry Iskandar, mengklarifikasi bahwa Andi Baso Amir memang bukan adik kandung Jenderal M Jusuf. Mantan Wakil Wali Kota Makassar ini menjelaskan, ayah Jenderal M Jusuf adalah H Andi Tappu, arung atau Raja Kajuara, Bone.

Andi Tappu memiliki beberapa orang istri, salah satunya adalah Andi Baba Petta Bunga. Dari pernikahannya ini lahirlah empat orang anak, yakni Jenderal Purn AM Jusuf (meninggal 2004), Petta Cipaung (meninggal sejak lama),  Andi Ishak (meninggal 1984), dan Andi Iskandar yang merupakan ayah Andi Heri (meninggal 1989).

Lalu Andi Tappu juga pernah menikah dengan Petta Sonna dan mempunyai seorang anak bernama: HA Baso Amir. Baso Amir inilah yang menjadi ayah angkat Ahok.

Karena lontaran pengakuan Ahok di persidangan itu pula, Herry selaku wakil keluarga besar Jendral M Jusuf di Makassar mengaku banyak dihubungi orang dan mempertanyakan hal itu. Mereka menyampaikan protes atas ucapan Ahok yang menyebuyt-nyebut nama Jenderal M Jusuf di persidangan itu. “Saya capek dan mulai terganggu dengan pertanyaan orang-orang mengenai hal itu,” kata Andi Herry Iskandar.

“Saya banyak sekali mendapat pertanyaan & protes atas ucapan sdr ahok mengenai Jend. Purn M. Jusuf dipersidangan. Seingat saya selama hidupnya Bpk. M. Jusuf tidak mengenal & tidak pernah sekalipun bertemu secara pribadi dgn sdr ahok, shg tidak bijaksana & berlebihan apabila menghubungkan antara sdr ahok dgn Bpk. M. Jusuf,” tulis Andi Herry panjang lebar dalam klarifikasinya. ful, rol, pos

Tinggalkan Balasan