
Oleh Ayung Notonegoro, Peneliti dan Sejarawan Nahdlatul Ulama
ADA kesadaran baru ketika membaca buku kumpulan tulisan yang dieditori oleh Anthony Reid dan David Marr berjudul “Indonesia dan Masa Lalunya”. Buku ini membahas tentang bagaimana para tokoh perjuangan dahulu merekonstruksi nasionalisme bangsa Indonesia itu sendiri. Setidaknya dari dua artikel kesadaran itu saya dapatkan.
Pertama dari tulisan Anthony Reid sendiri yang berjudul “Jejak Nasionalis Indonesia Mencari Masa Lampaunya”. Kemudian, artikel dari Delian Noer yang berjudul “Yamin dan Hamka: Dua Jalan Menuju Identitas Indonesia”.
Dari dua artikel di atas, imajinasi tentang bangsa Indonesia di kalangan tokoh-tokoh pergerakan pra kemerdekaan tidaklah seragam. Imajinasi awal adalah tentang “Nasionalisme Hindia” yang dipopulerkan oleh Douwes Dekker yang menggambarkan tentang kesadaran bersama atas penjajahan bangsa Belanda. Pandangan ini, banyak ditolak oleh para tokoh pergerakan lainnya.
Alternatif pandangan tentang nasionalisme bangsa Indonesia itu, kemudian memunculkan tentang “nasionalisme Jawa” dan “nasionalisme Sumatera”. Keduanya mengungkapkan bagaimana dua pulau itu telah menyatukan kesadaran akan Nusantara di masa lampau. Jawa dengan Majapahit, Pajajaran hingga Mataram Islamnya. Sementara Sumatera dengan kebesaran Minangkabau di masa silam.
Diskursus tersebut semakin ramai dengan dua tokoh terkemuka yang mengajukan “titik nol” ke-Indonesia-an tersebut yang dipersonafikasi oleh M. Yamin dan Buya Hamka. Yamin mengajukan tesis tentang Majapahit dan sumpah palapa Gadjah Mada-nya, sedangkan Hamka menjadikan Islam sebagai titik tolak ke-Indonesia-annya.
Dari sedemikian panjang uraian kedua ahli tersebut, ada satu imaji ke-Indonesia-an yang luput dibaca oleh dua pakar di atas. Yakni, bagaimana imaji “orang-orang pesantren” yang kemudian termanifestasikan oleh Nahdlatul Ulama.
Bagaimana para muassis NU dahulu mengimajinasikan tentang Indonesia?
Imaji keindonesiaan dari kalangan pesantren dan NU tampaknya tidak terlepas dari Walisongo, para penyebar Islam di tanah Jawa yang kemudian pengaruhnya meluas ke seluruh Nusantara. Walisongon inilah yang kemudian menyatukan entitas yang kini termanifestasi dalam Indonesia.
NU dan Walisongo menjadi dua entitas yang begitu lekat. Simbol bintang sembilan dalam logo NU tak lain merepresentasikan dari Walisongo itu sendiri. Bahkan, dalam proses pendiriannya, inspirasi batiniyah para muasisnya juga merujuk pada Walisongo. Sebut saja cerita KH. As’ad Syamsul Arifin yang menceritakan tatkala musyawarah berdirinya NU ada seorang ulama yang menceritakan mimpi Sunan Ampel bertemu Nabi Muhammad untuk membawa Islam ke Nusantara sebagaimana dirujuknya dalam sebuah naskah kuno. Atau cerita KH. Abdul Wahab Chasbullah yang tirakat di makam Sunan Ampel untuk mencari petunjuk berdirinya NU.
Tidak hanya berhenti pada tataran inspirasi, Walisongo juga menjadi konsepsi tentang bagaimana merangkai sebuah cerita sejarah. Seperti halnya tulisan dari Kiai Wahab di majalah Swara Nahdlatoel Oelama (SNO), No. 1 Tahun I, Muharram 1346 H. Dalam tulisan berjudul “Khabar Perubahan Zaman” itu, Kiai Wahab menceritakan tentang sejarah ringkas “Indonesia”. Ia mengawalinya dari kiprah Syekh Maulana Ishaq yang kemudian dilanjutkan oleh para wali. Mulai dari Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Kalijogo, Sunan Bonang dan lain sebagainya.
Imaji keindonesiaan yang diawali dengan Walisongo itu sendiri, semakin kokoh tatkala Muktamar ke-11 NU di Banjarmasin (1936). Saat itu, terdapat pertanyaan dalam forum muktamar tentang status hukum dari penemuan mayat yang tanpa identitas. Apakah mayat tersebut dihukumi Islam?
Sembari merujuk dalam kitab Bugyatul Musytarsidin, keputusannya, mayit tersebut dihukumi sebagai jenazah orang Islam. Karena Nusantara saat itu, meski dikuasi oleh penjajah yang kafir, namun sejatinya dulunya pernah menjadi negara Islam (darul Islam) semasa Walisongo dan generasi penerusnya.
Lebih jauh ketika Indonesia sudah merdeka, inspirasi tentang Walisongo itu, tetap menjadi kredo berpikir tokoh-tokoh NU dalam merekonstruksi konstitusi. Baca misalnya tentang pidato Kiai Wahab dalam Majelis Konstituante. Dalam sidang tertanggal 25 September 1957, Kiai Wahab terlibat polemik dengan salah satu politisi Partai Gerinda (Gerakan Rakyat Indonesia), Atmodarminto. Kala itu, Kiai Wahab mengambil kisah Sunan Kalijogo dalam menyelesaikan konflik dalam tata kelola kenegaraan di masanya (baca: Tentang Dasar Negara Republik Indonesia dalam Konstituante, Jilid I, 1958).
Upaya untuk melekatkan Walisongo oleh tokoh-tokoh NU terhadap keindonesiaan itu, juga tampak dari bagaimana mengaitkan ketersambungan genealogis para tokoh bangsa dengan figur para wali tersebut. Jika melekatkan nasab para muassis NU dengan salah satu Walisongo itu, mungkin lumrah. Namun, dalam realitasnya, juga ada sejumlah tokoh nasional yang dikenal secara umum golongan sekuler, dilekatkan dengan nasab yang tersambung ke Walisongo.
Di antaranya adalah Dokter Soetomo. Tatkala tokoh pendiri Boedi Oetomo itu wafat, Berita Nahdlatoel Oelama besutan KH. Machfoed Shiddiq menuliskan obituarinya. Menariknya, dalam tulisan tersebut, disebutkan jika genealogis Dokter Soetomo tersambung hingga Sunan Giri.
Hal yang sama juga dilekatkan kepada Ir. Soekarno. Hal ini disampaikan oleh Kiai Wahab secara tertulis dalam pengantarnya dalam “Buku Petundjuk Mu’tamar ke-XXIII Partai Nahdlatul Ulama”. Dalam buku tersebut tertulis demikian:
“Demikianlah, achirnja kami berdo’a semoga Muktamar kita di Solo nanti bermanfaat bagi bangsa dan Negara serta Pemerintah Republik Indonesia jang dipimpin oleh P.J.M. Presiden H. A. Soekarno, salah seorang Putera keturunan Sunan Kalidjogo R. Sahid Lokodjeju alias Sunan Geseng, beliau adalah seorang wali diantara wali songo jang terbesar pengaruhnja dan terkuat djiwa kenasionalannja….”
Klaim dari Kiai Wahab tersebut, ternyata diafirmasi oleh Soekarno sendiri. Hal ini, misalnya, dapat kita baca dalam pidatonya saat dikukuhkan sebagai doktor honoris causa oleh Universitas Muhammadiyah Jakarta pada 3 Agustus 1965. Dalam pidato tersebut, Soekarno mengakui sebagai keturunan Sunan Kalijogo. Bahkan, ia kerap berziarah ke makam leluhurnya tersebut serta memprakarsai pemugaran makam Sunan Kalijogo.
Dalam pidato berjudul “Tauhid adalah Djiwaku” itu, Soekarno mengatakan demikian:
“… Sjukur alhamdulillah, saja ini adalah salah seorang turunan dari Sunan Kalidjogo itu…. Sunan Kalidjogo adalah seorang pahlawan kita Saudara-Saudara….”
Menarik kiranya untuk mengkajinya lebih mendalam bagaimana imajinasi tentang Walisongo ini merekonstruksi nasionalisme kita sebagai Nahdliyin dan santri, imajinasi kita tentang Indonesia. Seperti halnya kasus rasuah yang mutakhir menyangkut salah satu tokoh elite NU, apakah ada imaji sebagai “Brandal Lokajaya” dalam alam bawah sadarnya yang nanti akan mengantarkannya menjadi “Sunan Kalijogo”? Wallahu’alam!





































