TALI ASIH : Wali Kota Malang Drs H Sutiaji memberikan tali asih pada mantan Kalapas kelas 1 Malang Farid Junaedi. (duta.co/dedik ahmad)

MALANG | duta.co -Berpengalaman membina narapidana, lantaran pernah menjadi ustadz di Lapas Lowokwaru Malang, Walikota Malang Drs H Sutiaji berpesan agar pendekatan terhadap napi dan tahanan harus mengedepankan pendekatan ilahiah. Karena hal tersebut sudah terbukti perubahan keberhasilannya, melalaui penerapan program pesantren yang telah dilakukan lembaga pemasyarakatan ini.

Hal diatas disampaikan Wali Kota Malang Drs H Sutiaji  pada acara Pengantar Tugas dan Perkenalan Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas 1 Malang, Kamis (03/01/’19) di aula Lapas Lowokwaru Malang.

Menurutnya, Lapas semestinya sebagai wahana untuk muhasabah memperbaiki diri para penghuninya, “Maka melalui pendekatan ilahia yang telah terbukti keberhasilannya. Seperti yang telah diterapkan oleh Lapas Lowokwaru ini dengan pesantren At-Taubahnya,” ungkapnya.

Serah terima jabatan Kalapas kelas 1 Malang, dari sebelumnya Farid Junaedi dimutasi ke Jambi, digantikan Yudi Suseno yang pernah bertugas di Nusakambangan dan Lapas Salemba. Farid sendiri terhitung hanya 8 bulan menjabat Kalapas Lowokwaru Malang  dari 11 April 2018 hingga 03 Januari 2019.

Namun dari waktu yang singkat tersebut, banyak menorehkan prestasi pembinaan. Diantaranya, menerapkan program pesantren, dimana warga binaan yang beragama Islam diajak melakukan berbagai ibadah, mulai bangun tidur sampai tidur kembali semuanya dalam rangkaian ibadah dan bak pesantren pada umumnya.

Wali Kota Malang yang biasa dipanggil Pak Ji menuturkan, Allah telah menciptakan segalanya berpasangan, ada siang malang, ada datang ada pergi, termasuk juga pergantian Kalapas yang lama Farid Junaedi digantikan Yudi Suseno.

Pak Ji menceritakan, bahwa sebelum menjadi Walikota, ia telah lama menjadi guru ngaji di Lapas Lowokwaru. “Paling berkesan, bertemu salah satu narapidana yang diputus bersalah membunuh, padahal waktu itu ia cuma mendatangi orang yang minta tolong karena ditusuk seseorang. Jadi jangan selalu menganggap tampak dhohirnya saja.” Wejang Sutiaji. (dah)

 

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.