SURABAYA | duta.co – Wakil Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Prof HM Mas’ud Said MM PhD menekankan pentingnya “spiritualitas modern” yang berdasarkan berbagai riset global justru membuat Indonesia berada dalam peringkat teratas sebagai negara paling bahagia dengan tingkat kesejahteraan menyeluruh (flourishing).

“Berdasarkan riset terbaru Universitas Harvard, salah satu universitas top dunia yang berkolaborasi dengan Baylor University, dan lembaga ritet ternama dunia Gallup, yang secara mengejutkan Indonesia menempati peringkat teratas sebagai negara paling bahagia di dunia dengan indikator kesejahteraan menyeluruh yakni kesehatan, makna hidup, karakter/relasi sosial, dan ketahanan finansial,” katanya di Surabaya, Selasa malam.

Saat mengisi kegiatan “Ramadhan Cendekia: di Kantor PW ISNU Jatim, Prof Mas’ud Said yang juga mantan Ketua PW ISNU Jatim itu memaparkan riset bertajuk “Global Flourishing Study” yang mengkaji lebih dari 203.000 responden di 22 negara dalam periode riset selama 3 tahun (2022-2024), lalu dipublikasikan dalam jurnal “Nature Mental Health” pada Mei 2025 yang dilaporkan oleh Dr Bryron Johnson.

“Kok bisa ya. Hasilnya menunjukkan bahwa Indonesia menduduki peringkat teratas, dengan skor perkembangan sebesar 8,3. Diikuti oleh Israel (7,87), Filipina (7,71), Meksiko (7,64), dan Polandia (7,55). Temuan baru adalah rata-rata negara barat, negara maju kurang bahagia, banyak masalah kemanusiaan. Riset ini menyimpulkan bahwa harta dan ekonomi bukan segala-galanya,” katanya.

Hal itu, katanya, juga tertuang dalam Al-Qur’an Surat Al An’am-ayat-32 yang berbunyi : “Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan permainan. Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, kalau mereka mengetahui.”

“Banyak negara maju memang mencatat skor tinggi dalam hal keamanan finansial, ekonomi, namun justru rendah dalam aspek makna hidup, hubungan sosial, dan karakter pro-sosial. Jadi, dunia sekarang rupanya mumet karena terlalu sibuk mengejar harta, zonder moral, dan tertipu terhadap fata morgana materialisme,” katanya.

Menurut dia, nilai-nilai Asia yang dikembangkan Indonesia dan negara Asia lainnya itu disebabkan oleh kedekatan Indonesia dengan nilai-nilai Islam yang dekat dengan NU, yakni Rahmatan lil Alamin atau nilai-nilai agama yang bukan sebatas ritual atau ibadah di masjid, namun berbasis nilai-nilai kemanusiaan (pelayanan/pengabdian Masyarakat) yang bisa disebut sebagai “spiritualitas modern”.

“Spiritualitas modern itu dicontohkan dalam riset World Giving Index yang dilakukan oleh Charity Aid Foundation pada tahun 2023- 2024 tentang bangsa yang suka charity, suka memberi, suka sedekah. Bantuan itu bukan hanya uang, tapi bisa uang, menolong orang, bantuan barang dan waktu luang. Suka menolong atau gotong royong itu khas Jawa, khas Madura, khas Bali, khas Sulawesi, atau khas Indonesia,” katanya.

Dampak positif charity atau manfaat sedekah secara finansial, adalah sedekah itu membuat kaya. “Kita bisa saja tidak percaya, ternyata tokoh dunia yang kaya seperti Bill Gates, Warren Buffett, Azim Premji, Charles Franceis Feeney, dan Mark Zuckerberg, justru semakin kaya setelah menjadi dermawan,” katanya.

Bill Gates menjadi salah satu crazy rich dunia yang paling dermawan. Bos Microsoft ini tercatat telah menyumbangkan hartanya hingga US$27 miliar. Indeks kedermawanannya mencapai 32 persen, sedang Warren Buffett (CEO Berkshire Hathaway) juga menjadi filantropis yang paling dermawan. Ia telah menyumbang 21,5 miliar dolar AS. Indeks kedermawanannya mencapai 35 persen.

Lain lagi dengan orang terkaya dunia asal India Azim Premji yang menjadi filantropis dunia. Ia tercatat sudah menyumbangkan kekayaan 8 miliar dolar AS dengan total kedermawanan mencapai 50 persen, karena perusahaan konsultan IT asal India itu juga mendirikan yayasan sosial bernama Azim Premji Foundation. Yayasan sosialnya fokus pada pendidikan dan IT di India. Selain itu, Azim Premji juga mendirikan universitas nirlaba buat pelatihan guru-guru.

“Juga banyak yang tak mengira kalau Charles Franceis Feeney mampu menyumbangkan hartanya melebihi apa yang dimilikinya sekarang. Total sumbangannya mencapai 6,3 miliar dolar AS dalam seumur hidup, namun jumlah hartanya saat ini jauh dari angka tersebut. Indeks kedermawannnya lebih dari 100 persen. Charles mendirikan Feeney Foundation yang menyumbang untuk pendidikan, penelitian, kesehatan, serta hak asasi manusia,” katanya.

Tokoh dunia yang juga di luar dugaan adalah bos Facebook Mark Zuckerberg, yang juga dijuluki sebagai filantropi paling dermawan dunia. Ia diketahui menyumbang 1,9 miliar dolar AS untuk badan amal yang dibuatnya Chan Zuckerberg Foundation. Sebelumnya, Mark juga pernah dinobatkan sebagai crazy rich muda paling dermawan di Amerika Serikat setelah menyumbang 990 juta dolar AS pada 2014.

Sementara itu, mengenai kesehatan di Indonesia itu pun terkait dengan manfaat puasa yang dalam riset dunia modern juga telah dibuktikan para ahli bahwa kesehatan merupakan dampak dari kehebatan puasa. Adalah Yoshinori Ohsumi ilmuwan dari University of Tokyo Jepang yang meneliti mafaat puasa dengan seksama yang menerima Hadiah Nobel Fisiologi dan Kedokteran pada tahun 2016, karena meneliti manfaat puasa.

“Autofagi (autophagy) adalah proses alami tubuh untuk membuang sel-sel yang rusak dan tidak berfungsi, sekaligus menggantinya dengan sel-sel baru yang sehat. Itu karena Puasa. Mekanisme ini meningkatkan kemampuan sel tubuh untuk melawan racun penyebab penyakit dan menjaga organ tubuh tetap berfungsi dengan baik, karena Puasa. Kita telah menyiksa badan kita bertahun-tahun, sehingga ada bagian badan yang rusak, karena itu perlu regenerasi sel. Berkat autofagi, berkat puasa, bermanfaat bagi kesehatan,” katanya.

Hal yang sama juga ditegaskan Sekretaris Lembaga Kesehatan (LK) PWNU Jatim DR dr Achmad Firdaus Sani Sp.N(K) FINS dalam “Ngaji Kentong Ramadhan 1447 H” PWNU Jatim di Aula I PWNU Jatim (3/3). “Puasa itu menurunkan kadar glukosa, sedang otak tetap memerlukan energi, tapi puasa justru tidak menurunkan otak, karena glukosa yang turun justru memecah lemak menjadi lemak bebas dalam darah yang disebut keton, nah keton inilah yang menjadi energi baru untuk otak,” katanya. (*/isnu)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry