Oleh Maswan

Berbicara santri, tentu tidak pernah lepas dari perbincangan pondok pesantren. Berbicara pondok pesantren, tidak lepas berbicara tentang ulama atau kiai yang menjadi pengasuhnya. Peran serta para ulama dan kiai pengasuh pondok pesantren, saat mengusir penjajah tidak pernah surut. Para kiai mempunyai pasukan yang ikhlas melakukan jihat fii sabilillah, pasukan berani mati yang disebut santri.

Tekait keberadaan santri, di pondok pesatren kiai menjadi panutan dan ajarannya menjadi mutiara hikmah bagi santri-santrinya. Setiap tutur kata kiai diterima dengan sami’na waatho’na (didengarkan dan ditaati). Kalau kiai menyuruh santri berperang, maka semuanya bergerak maju ke medan perang, tanpa terkecuali.

Perjuangan santri tidak berhenti saat melawan penjajah. Pasca kemerdekaan pun peran santri dalam mengisi kemerdekan tidak pernah surut. Peran serta santri dalam mendidik generasi untuk membentengi nilai-nilai keagamaan, nilai-nilai moral dan etika kebangsaan tidak pernah surut, melalui kelompok belajar mengaji secara nonformal. Bekal ilmu pengetahuan dan ilmu diniyyah yang diperoleh dari pondok pesantren melalui proses pembelajaran melalui kitab-kitab kuning yang disampaikan oleh kiai.

Adanya para santri yang sudah menuntaskan pendidikan di pondok pesantren, pulang ke daerah untuk menjadi guru-guru ngaji, memimpin langgar,  pondok, musala atau masjid hampir merata di seluruh pelosok tanah air ini. Semua guru ngaji yang asalnya santri dari berbagai pondok pesantren di Indonesia, adalah pejuang-pejuang pengisi kemerdekaan yang ikhlas dan santun.

Mereka dengan tekun menanamkan nilai-nilai keimanan, peribadatan, muamalah kepada generasi yang agamis dan menjunjung nilai-nilai budaya Indonesia. Keberadaan santri yang mempunyai kontribusi besar dalam bidang diniyah ini, bisa disebut sebagai rahmatal lil alamin bagi Inonesia.

Pondok pesantren yang didirikan oleh para ulama, terutama ualam-ulama yang berfaham ahlussunnah yang dibingkai pada wadah organisasi Nahdlatul Ulama (NU), mempunyai peran besar dalam membangun Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Kiai dan santri menjadi pilar penegak kebangsaan berbasis nilai keagamaan, melalui wadah pondok pesantren.

Menurut Haedari, H Amin, (2007:3) bahwa, “Pondok Pesantren adalah lembaga pendidikan Islam tertua yang merupakan produk budaya Indonesia. Keberadaan pesantren di Indonesia dimulai sejak Islam masuk negeri ini dengan mengadopsi sistem pendidikan keagamaan yang sebenarnya telah lama berkembang sebelum kedatangan Islam. Sebagai lembaga pendidikan yang telah lama berurat akar di negeri ini, pondok pesantren diakui memiliki andil yang sangat besar terhadap perjalanan sejarah bangsa.

 

Hari Santri Nasional

Andil yang jelas terlihat dari produk pondok pesantren adalah mampu mencetak santri-santri, yang mampu meneruskan perjuangan para ambiya, aulia dan para ulama. Mereka para alumni pesantren (santri), sebagai penyambung lidah para kiai untuk penyebaran ajaran agama di setiap pelosok desa di Indonesia. Dalam membangun manusia yang beriman dan bertaqwa, santri mempunyai andil besar. Keberadaan santri lulusan pondok pesantren yang berfaham alhussunnah wal jamaah, adalah sebagai benteng pertahanan Islam radikal yang berposisi sebagai teroris.

Dalam mengapresiasi peran santri yang begitu besar terhadap bangsa ini, maka tidak salah kalau Presiden Joko Widodo memberi penghargaan kepada santri dengan ketetapan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional. Ketetapan tersebut, dilakukan pada tanggal 22 Oktober 2015 tahun lalu.

Dalam pidato kepresidenan, Presiden Joko Widodo saat meresmikan Hari Santri Nasional yang dilakukan di Masjid Istiqlal Jakarta, menjelaskan bahwa sejarah mencatat antara jiwa religius keislaman dan semangat nasionalisme-kebangsaan tidak untuk dipertentangkan. “Melainkan menyatu menjadi semangat merebut dan mempertahankan kemerdekaan,” tutur dia.

Dengan mewarisi semangat ini, Jokowi berharap para santri masa kini dan masa depan, baik yang di pesantren maupun di luar pesantren, dan seluruh anak bangsa, dapat selalu memperkuat jiwa religius keislaman dan sekaligus juga jiwa nasionalisme-kebangsaan.

Selanjutnya, Presiden Jokowi sempat mengenang jasa para santri terdahulu yang ikut memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. ‎”Sejarah mencatat, para santri telah mewakafkan hidupnya untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia dan mewujudkan cita-cita kemerdekaan tersebut,” ucap Jokowi di lokasi, Jakarta, Liputan6.com, (Kamis 22/10/2015).

Jokowi menjelaskan, para santri dengan caranya masing-masing bergabung dengan seluruh elemen bangsa yang lain untuk melawan penjajah, menyusun kekuatan di daerah-daerah terpencil, mengatur strategi, dan mengajarkan kesadaran tentang arti kemerdekaan.

 

Penulis adalah Dosen UNISNU Jepara, Pengurus Lajnah Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU) Jepara (periode 2012-2015), Kandidat Doktor Unnes

BAGIKAN

Tinggalkan Balasan