
SURABAYA | duta.co – KH Luthfi Bashori, tokoh muda NU yang sering disebut NU Garis Lurus, menilai, bahwa, pemakzulan Ketua Umum PBNU, KH Yahya Staquf adalah sebuah keharusan. Kalau tidak, bisa berdosa, karena terkait dengan syariat.
“Segala sesuatu itu ada penyebabnya. Ini kan langkah organisatoris. Kalau sampai Rais Aam atau jajaran syuriyah PBNU melakukan pemakzulan, itu karena dianggap (bahwa) Ketua Umum sudah melakukan pelanggaran berat. Dengan begitu, pasti tidak akan ada yang menganjurkan islah,” tegas Gus Luthfi panggilan akrabnya dalam podcast khusus bersama KH Idrus Romli, terlihat duta.co, Minggu (14/12/25).
KH Idrus terus bertanya: Apakah keputusan syuriyah atau Rais Aam yang memakzulkan (Ketua Umum PBNU) itu boleh atau bahkan wajib secara syar’i? “Kalau secara syar’i, karena pelanggarannya itu terkait dengan syariat, maka, hukumnya wajib. Artinya kalau syuriyah dalam hal ini Rais Aam tidak memakzulkan, berarti akan menanggung dosa. Itu betul,” tegasnya dalam video berdurasi 7 menit lebih ini.
Gus Luthfi kemudian memberi contoh, sikap sukut atau diam. “Kalau sampai sukut saja terhadap kemungkaran, dan ini masalah akidah, ya tentu, dosa. Kan kullukum ra’in wa kullukum mas’ulun an ra’iyyatihi. Setiap kalian itu penanggungjawab,” terangnya.
KH Idrus kemudian menyinggung soal pelanggaran beberapa waktu lalu, di mana PBNU mengadakan acara AKN (Akademi Kepemimpinan Nasional) NU yang dibesut tanggal 5 Agustus 2025 lalu di Jakarta dengan mengundang tokoh akademisi pendukung Israel, Peter Berkowitz.
“Itu menyakitkan hati umat Islam. Bagaimana tidak, umat Islam berbondong-bondong menyumbang harta, mendoakan Palestina, kok tiba-tiba ada tokoh kita pro sama Israel. Itu kan sangat menyakitkan. Mengundang itu sama saja dengan pro. Kan begitu,” tegas Gus Luthfi.
Menurutnya, itu Ihânah (penghinaan) terhadap umat Islam. “Dari sini sudah seharusnya Rais Aam memakzulkan. Apalagi warga Palestina marah betul kepada Ketua Umum PBNU. Kenapa kita yang dianiya, tiba-tiba ketua umum ke tempat musuh. Kan sangat menyakitkan. Naudzubillahi min dzalik,” terangnya.
Kalau kiai sepuh menganjurkan islah bagaimana? “Saya kira kalau tahu yang sebenarnya, dan ada info yang benar-benar paham, Insyallah kiai sepuh tidak bakalan mendukung tokoh yang pro Israel. Gak bakalan. Beliau (sesepuh NU) itu hari-harinya ngajar kitab, tidak mengukuti medsos, andai dijelaskan tidak akan menganjurkan islah.”
“Islah itu dilakukan bila mana urusannya bukan masalah syariat. Misalnya soal kepemimpinan yang tidak terkait dengan syariat Allah. Mungkin saja bisa islah. Walau pun demikian, Rais Aam itu pimpinan tertinggi organisasi, itulah NU. Bukan mustasyar. Kalau di pemerintahan Rais Aam itu presiden, sedangkan mustasyar itu Dewan Pertimbangan Agung atau Watimpres. Jadi sarannya tidak mengikat,” pungkas Gus Luthfi. (mky,net)






































