AKP Sulman (kiri)
JAKARTA | duta.co – Setelah membuat heboh, mantan Kapolsek Pasirwangi AKP Sulman tiba-tiba mencabut pernyataan bahwa dia diminta untuk memenangkan pasangan 01 Jokowi-Ma’ruf dalam Pilpres 2019. Diduga Sulman melakukannya karena ada tekanan dari pihak-pihak tertentu.
“Saya kira dia ditekan. Bila tidak, dia pasti telah menyebarkan hoax dan bisa kena sanksi pidana,” kata Salman Alfirizi, warga Depok, Selasa malam. “Polisi bisa menjeratnya dengan pasal hoax, itu kalau polisi mau adil,” tambahnya.
Sama dengan Salman, Kordinator Hukum dan HAM Lokataru, Haris Azhar, juga mengaku heran dengan keputusan AKP Sulman. “Belum tahu (alasannya mencabut). Apa ya.. dia yang bikin pernyataan dia yang mencabut, ya saya kasih waktu ke dia aja dulu gimana-gimana-nya,” kata Haris saat dikonfirmasi, Selasa (2/4/2019).
Haris juga mengaku sudah mengonfirmasi Sulman terkait pencabutan pernyataannya tersebut. Dia juga mencari tahu apakah ada dugaan kekerasan ataupun intimidasi yang dialami Sulman sehingga memutuskan mencabut pernyataannya tersebut.
Namun, lanjut Haris, Sulman menyatakan tidak ada kekerasan yang dialaminya. “Kalau keterangan ke saya tidak ada kekerasan di Polda, cuma ya dia ketemu dengan banyak pejabat di polda dia memutuskan mencabut itu (pernyataannya),” jelasnya.
Sedangkan terkait bukti-bukti yang rencananya akan dilaporkan kepada Ombudsman pada Selasa (2/4) Haris mengaku belum memutuskan. Karena sebelumnya berencana melaporkan bersama Sulman. “Nanti kita lihat, karena sebenarnya saya dalam kapasitas mendampingi dia (Sulman) kan, gitu,” kata Haris.
Haris mengaku bisa saja meneruskan laporan terkait pengakuan Sulman sebelumnya kepada Ombudsman. Namun Haris lagi-lagi menyatakan masih mempertimbangkan. “Kalau pun saya lanjutin, apakah nanti diterima atau tidak dengan Ombudsman itu lain hal lagi,” kata Haris.
Mantan kapolsek Pasirwangi AKP Sulman Aziz mencabut pernyataan soal adanya pengerahan anggota kepolisian untuk memenangkan pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin. Padahal, awalnya Sulman begitu lancar mengungkapkan kekecewaannya mendapatkan instruksi dari kapolres Garut itu.
Melalui Haris Azhar, Sulman mengungkapkan kegelisahannya tersebut. Sulman dengan didampingi Haris Azhar menggelar konferensi pers di Jakarta pada Minggu 31 April 2019.
Haris Azhar mengatakan bahwa Sulman bukan sekali menceritakan perihal kegelisahannya tersebut. Ia sudah bercerita sejak sebulan lalu. “Dia cerita sudah sebulan lalu bahwa makin hari makin ada indikasi-indikasi soal bagaimana menggunakan polisi dalam memenangkan paslon (01),” cerita Haris.
Dia pun mengaku sudah memberikan masukan sebelumnya. Ia juga memberikan pertimbangan-pertimbangan apabila hal tersebut diungkapkan kepada publik.
“Sampai akhirnya dia memutuskan mau membuka itu, saya kasih beberapa pertimbangan-pertimbangan. Nah, sampai akhirnya dia mencoba mengontak beberapa media untuk membuka,” ujar Haris.
Kemudian jika memang keputusannya sudah bulat, Haris menyarankan agar persoalan ini dibuka di Jakarta. Karena juga bisa sekaligus melaporkan kepada Ombudsman. “Harusnya kan hari Selasa ini, tapi dipercepat hari Minggu. Ya sudah, saya mendadak bantu di hari Minggu. Bahwa kemudian Seninnya dia ke Polda (Jabar) terus berubah, ya, itu sudah di luar saya lagi,” ungkap Haris.
Keberangkatan Sulman ke Polda Jabar menurut Haris memang dalam rangka menghadap atas pemindahan tugasnya. Sebelumnya, Sulman yang menjabat Kapolsek Pasirwangi dimutasi menjadi Kepala Unit Seksi Pelanggaran Subdirektorat Penegakan Hukum Direktorat Lalu Lintas Polda Jawa Barat.
“Dia memang harus lapor ke Polda karena dimutasi, dia bertemu dengan banyak pejabat di polda, dia memutuskan mencabut itu. Ya, paham kan,” kata Haris menambahkan.
AKP Sulman telah mengakui kesalahan dan mencabut pernyataannya. Ia mengaku jika pengakuannya itu hanyalah emosi sesaat pascamutasi jabatan. Sulman kecewa setelah dicopot dari jabatan kapolsek.
“Sebetulnya itu saya sampaikan karena saya waktu itu emosi. Saya emosi telah dimutasi dari kapolsek ke Polda Jabar,’’ kata dia yang mengenakan seragam Polri dengan pangkat tiga balok emas di pundak.
Polda Jawa Barat membantah memaksa AKP Sulman menarik pernyataannya soal tudingan bahwa kapolres Garut mengerahkan jajarannya untuk mendukung capres 01. Kabid Humas Polda Jawa Barat Kombes Pol Trunoyudo Wisnu Andiko menceritakan bahwa kedatangan AKP Sulman Aziz ke Mapolda Jabar bukan lantaran dipanggil karena pernyataannya di media. Sulman datang lantaran harus menghadap karena jabatan barunya.
“Enggak (bukan dipanggil), kan hari Minggu di Jakarta. Senin pagi, beliau datang itu dalam rangka menghadap, membawa surat penghadapan bahwa yang bersangkutan siap bertugas pada jabatan yang baru,” kata Trunoyudo dalam sambungan telepon, Selasa (2/4/2019). (rpk)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.