Keterangan foto net

SURABAYA | duta.co – HUT (Hari Ulang Tahun) Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) ke-75 tahun ini (2020), memang tak segebyar tahun lalu. Di tengah pandemi Covid-19, maka, berhentilah lomba-lomba tingkat RT-RW dan lain sebagainya.

Menariknya, di tengah ‘sepi’ ini, Kamis (13/8/2020), warganet dibuat kaget. Netizen kembali disasar video pendek, kurang dari 3 menit, tepatnya 02 menit 44 detik. Isinya cukup menggetarkan. Puisi bertajuk ‘Republik Kebingugan’ karya seni santri Ponpes Gontor yang dibacakan di acara Panggung Gembira 692, tahun lalu.

Meski sudah tahun lalu, isi puisi ini serasa baru dibuat.  Narasi pendek tersebut menggambarkan awal mula negeri kita sampai kondisi sekarang yang kebingungan. Padahal, asal mula negeri kita dibangun dengan pasak, pilar dan atap yang kokoh.

Pasaknya dibangun ulama dan auliya. Pilarnya ditumpangi kiai dan santrinya. Atapnya disangah oleh cendekia,” begitu awal bait puisi yang dibacakan para santri Gontor.

“Tapi, detik ini semua telah berbeda. Ulama-ulama jadi tersangka. Kiai dan santri diintai gerak-geriknya. Pendapat cedikia tak lagi diterima. Demikianlah Republik Kebingungan,” lanjut puisi yang dibaca bersama oleh kelompok santri tersebut.

“Kedholiman dianggap keadilan. Kebatilan dianggap kebenaran. Kekacauan dianggap kedamaian. Beginilah prilaku dan tingkah kita. Ketika diajak memilih pemimpin seiman, kita malah berujar: weleh yang penting makan, bukan iman. Kalau ada orang busana modis, kita berkomentar: wuuh mirip artis. Tapi, kala seorang dai berdakwah ke pelosok, dengan sinis kita berbisik, seet jangan-jangan dia teroris,” lanjutnya.

“Ketika ada yang menista Alquran kita pada bilang, sudah lah biarkan. Ketika bendera Tauhid dikibarkan kita berseru: tangkap, penjarakan. Saat anak band menyanyi tak karuan, rame-rame kita berseru, ayo mari saksikan. Namun ketika berjuta umat menuntut keadilan, mengumandangkan takbir kita lantang berseru: gagalkan dan bubarkan.”

“Kita mencerca maling dengan penuh kedengkian, kenapa bukan kita yang maling. Kita menolak pemusnahan dengan merancang pemusnahan-pemusnahan. Kita membenci pembuat dosa besar dengan cara persyetan, cukupppp, woowww republic kebingungaaaaaaaan…..”

Video pembacaan puisi ini sudah dinggah channel Mabsus AF  pada 6 Okt 2019, 9 bulan setelah berlangsung. Komentarnya lucu-lucu. @feri sefter129 memberikan catatan:  “Bergetarrrr..mendidih rasanya yaa Alloh..negaraku kiniii..”. @Gusward Dani: Indonesia yg sekarang, sangat jauuuuh hh dari Indonesia yg dahulu,, Dimanakah wahai pahlawan ku”.

Ada juga yang mewanti-wanti. Seperti tanggapan @Darmawan Batara:  Hati2 nak… nanti di cap radikal dan anti NKRI. @Abd Syakir komentar pendek. “Merinding”. @Media Reman:

“Itu terakhir ada polisi yg datang, mau diapain ya?? Semoga tidak ditangkap”. @raisyah azka:

“Walau sudah 9 bulan (saat itu red.) vidio ini Sangat terasa kenyataanya dlm kehidupan saat ini,” begitu komentar netizen usai melihat video tersebut. (mky)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry