
Akas Yekti Pulih Asih – Dosen Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan (FKes)
PENYAKIT yang disebabkan oleh mikroorganisme pathogen masih menjadi masalah utama bagi kesehatan masyarakat. Angka kesakitan dan kematian penyakit ini cukup tinggi serta berpotensi menimbulkan kejadian luar biasa (KLB).
Hal itu akan memberikan dampak kerugian ekonomi masyarakat tidak hanya di negara miskin akan tetapi berpotensi penyebaran penyakit yang ada juga terjadi di negara sedang berkembang maupun di negara maju.
Pada awalnya manusia berpendapat bahwa yang tergolong sebagai vektor apabila binatang yang dimaksud hanya merupakan pembawa pathogen tanpa hewan itu sendiri tertular penyakit yang dibawanya. Pada perkembangannya sebagian ahli sudah mengatakan bahwa binatang vektor tidak hanya sebagai pembawa pathogen akan tetapi pembawa tersebut juga berfungsi sebagai host.
Sehingga sekarang yang perlu menjadi perhatian adalah keberadaan hewan piaraan apabila kebersihan tidak terjaga maka secara otomatis hewan tersebut akan berfungsi sebagai vektor misal keberadaan anjing, kucing, burung, kelinci, bahkan berbagai jenis mamalia bisa menularkan penyakit-penyakit yang mematikan bagi manusia dan atau bahkan hewan piaraan jenis yang lain.
Penyakit tular Vektor, Zoonotik atau zoonoses merupakan penyakit menular melalui vektor dan atau binatang pembawa penyakit pada makluk hidup manusia, hewan maupun tanaman, 1 jenis vektor ini dapat menularkan beberapa penyakit.
Kebanyakan hubungan yang terjadi antara host dengan pathogen yang dibawa oleh vector adalah bersifat sebagai produsen artinya sebagai penghancur pada makluk hidup yang lain ( host dan seringkali menyebabkan kematian host)
Penyebutan Vektor seringkali dikaitkan dengan terjadinya penyebaran penyakit (mikroorganisme pathogen sebagai penyebab terutama penyakit menular) terhadap makluk hidup yang lain yaitu manusia, hewan dan bahkan tumbuhan.
Terkadang juga menyebabkan terjadinya efek bolak balik pada penularan penyakit meskipun yang jarang terjadi adalah penularan antara manusia dan tumbuhan dan atau sebaliknya dari tumbuhan ke manusia. Yang sering terjadi adalah penyakit timbal balik antara manusia dan hewan dengan perantara vektor, atau kadang-kadang disebut juga dengan carrier (pembawa penyakit).
Kadang-kadang vector secara sendiri bisa berperan sebagai penyakit pada manusia dan hewan lainya atau paling tidak menjadi penyebab hewan dan manusia mengalami kesakitan dan bahkan kematian.
Pada kenyataan sekarang dunia tidak hanya mengalami kesulitan berkaitan dengan keberadaan vektor berkait dengan kejadian sakit, macam penyakit. Kejadian luar biasa (KLB) apabila di bandingkan dengan tahun tahun sebelumnya tercatat selalu meningkat, imunitas manusia saat ini cenderung mengalami penurunan mengingat perilaku hidup dan pola konsumsi yang kurang baik terutama pada usia anak-anak dan usia remaja.
Di Indonesia jumlah dan keberadaan bahan pangan relatif bisa disediakan oleh alam. Seperti diketahui bersama bahwa manusia sebagai konsumen saat ini berkecenderungan mencari kemudahan pada saat mengkonsumsi makanan yang terjadi adalah kebiasaan mengkonsumsi makanan cepat saji atau instan dengan berbagai bahan additif. Pola hidup tidak beraturan bekerja melebihi batas kemampuan, perokok dan lain-lain.
Program pengendalian dan pemberantasan vektor secara global juga sudah diatur sedemikian rupa misalnya berupa sanitasi lingkungan, sanitasi rumah tinggal, tempat-tempat umum dan atau rumah sakit, hal itu harus dilakukan secara berkala dan terjadwal, mengingat rumah tinggal, tempat-tempat umum dan atau rumah sakit, merupakan sumber agent pathogen yang disebarkan vektor ke lingkungannya.
Namun Undang-Undang berkait dengan vektor, dikatakan bahwa manusia hanya boleh melakukan pengendalian saja mengingat cara pemberantasan yang dilakukan untuk vektor jenis tertentu diharus dilakukan mengggunakan cara, innovasi dan bahan tertentu sebagai bahan pemberantasan.
Sehingga sangat dimungkinkan terjadinya resistensi pada vektor yang diberantas maupun vektor lain terdampak sehingga kemungkinan besar akan menimbulkan resistensi F1 generasi vektor resisten.
Vektor akan tahan terhadap bahan yang digunakan untuk memberantasnya misalnya penggunaan pestisida, pada siklus berikutnya populasi vektor akan terus meningkat dan atau bahkan akan menimbulkan pencemaran lingkungan apabila bahan yang digunakan berlebihan.
Diharapkan pengendalian dan pemberantasan vektor di lingkungan harus dilakukan berdasarkan kehati-hatian, sehingga tidak berdampak terhadap lingkungan mengingat keberadaan vektor merupakan penyeimbang lingkungan yang terikat pada rantai dan jaring-jaring makanan dalam lingkungan ekologi. *







































