dr Ainul Rofiq, SpAn KIC – Dosen Fakultas Kedokteran (FK)

MENURUT website resmi WHO hingga Maret 2021 telah tercatat kasus positif COVID-19 hingga 120 juta kasus di seluruh dunia. Coronavirus-19 atau SARS-CoV-2 adalah infeksi virus yang menyerang organ pernafasan manusia.

Sejatinya tubuh telah memiliki fungsi pertahanannya sendiri yakni antibodi. Secara sederhana cara kerja antibodi adalah dengan menghambat kinerja virus dengan merusak struktur-struktur protein penyusunnya. Namun, diperlukan sebuah antibodi yang spesifik terhadap virus tersebut.

Salah satu jenis antibodi yang cukup penting adalah antibodi netralisasi atau dalam Bahasa Inggris disebut Neutralization Antibody (Nabs). Antibodi netralisasi memegang peran penting dalam pembersihan virus dan telah diketahui merupakan kunci produk imun untuk melindungi dan melawan penyakit menular khususnya virus.

Info Lebih Lengkap Buka Website Resmi Unusa

Netralisasi pada virus merupakan proses gagalnya infeksi virus akibat adanya antibodi yang mengikat antigen virus, sehingga virus tidak bisa menempel pada sel sel reseptor tubuh. Tindakan vaksinasi pada dasarnya adalah dilakukan untuk membentuk antibodi yang mampu menetralisasi antigen dari virus.

Studi mengenai Corona Virus ini sebenarnya sudah ada sejak tahun 2003, dimana agen penyebab COVID-19 ini di identifikasi sebagai betacorona-virus dengan susunan gen yang dekat dengan SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome) dari China.

Hal ini lah yang digunakan oleh para ilmuwan untuk mengembangkan vaksin COVID-19. Di Indonesia sendiri sejak 13 Januari 2021 vaksin pertama COVID-19 telah diberikan, kemudian disusul dengan daftar prioritas penerima vaksin diantaranya SDM kesehatan, petugas publik, lansia, kemudian masyarakat awam.

Menurut penelitian Wang di China, pasien COVID-19 yang masih dalam perawatan dan pasien COVID-19 yang sudah sembuh, telah berhasil membentuk antibodi netralisasi hingga hari ke-30 sampai hari ke-41 pasca diagnosis sembuh dari COVID-19.

Kemudian muncul pertanyaan, bagaimana dengan tubuh sehat yang diberi vaksin COVID-19? Apakah tubuh sehat tersebut dapat membentuk antibodi netralisasi yang sama seperti tubuh yang pernah terinfeksi virus COVID-19 secara langsung?

Sebuah penelitian yang dilakukan Martin dari Vaccine Research Center, National Institute of Allergy and Infectious Disease USA menjelaskan bahwa 8 dari 10 dewasa sehat yang diberi vaksin SARS, terdeteksi dapat membentuk antibodi netralisasi yang spesifik setelah pemberian vaksin pertama.

Kemudian respon antibodi netralisasi mencapai puncak pada minggu ke-8 hingga ke-12 dan terus menunjukkan angka positif hingga minggu ke-32. Selanjutnya kadar antibodi netralisasi mencapai jumlah maksimalnya 2 minggu setelah vaksinasi ke-2, dan mulai menurun pada minggu ke-4.

Di Indonesia sendiri masih belum diketahui apakah teori yang sama juga dapat diaplikasikan dikarenakan penelitian kadar antibodi netralisasi pada individu sehat pasca vaksinasi COVID-19 masih jarang dilakukan. Tentu saja untuk menjawab hal tersebut memerlukan penelitian lebih lanjut. *

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry