Para pembicara Charm Girl’s Talk yang digelar Charm Indonesia, kemarin. DUTA/ist

SURABAYA | duta.co – Usia menarche (pertama kali menstruasi) semakin lama semakin dini. Dari beberapa penelitian mengungkapkan, sebelumnya menarche dialami anak perempuan di usia 11 hingga 14 tahun, tapi saat ini justru banyak dialami anak usia 9 hingga 11 tahun.

Semakin dini usia menarche dikatakan Ahli Gizi, Beta Sindiana karena perubahan gaya hidup dan pola makan. Saat ini banyak anak makan yang tinggi kalori dan lemak tapi rendah mikronutrien.

“Sukanya makan junk food. Ingatbya ada korelasi antara frekuensi konsumsi junk food dengan usia menarche,” ujarnya dalam acara webinar girl’s talk yang digelar Charm Indonesia, Kamis (12/11/2020).

Dikatakan Beta, ada banyak risiko yang nantinya dialami anak-anak yang mengalami menarche di usia dini. Risiko itu ketika mereka tumbuh dewasa dan berkaitan dengan kesehatan reproduksinya. Karena itu, peran orang tua sangat penting untuk memberikan makanan bergizi seimbang pada anak perempuannya sebelum memasuki masa menstruasi. “Makan tiga kali sehari dengan gizi seimbang, berolahraga dan sebagainya,” tandas Beta.

Perwakilan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) Poppy Dwi Puspita mengakui, sampai saat ini masalah menstruasi masih tabu dibicarakan. Padahal hal itu sangat penting, namun karena tidak dipahami akhirnya tidak tersentuh dan tidak terjelaskan dengan baik.

“Anak jadi tidak mendapatkan informasi yang jelas dan tepat. Jadinya masalah menstruasi, masalah kesehatan reproduksi, terabaikan,” tukasnya.

Karena itu kata Poppy, untuk mempersiapkan anak perempuan bisa menghadapi kejadian emas kedua dalam hidupnya, harus ada peran serta orang tua, guru dan sekolah untuk memberikan edukasi yang kuat agar anak bisa memahami menstruasi dengan benar.

Kepala BKKBN Pusat, Harto Wardoyo mengatakan terkait menstruasi menjadi hal unik dan penting. Karena ternyata banyak hal yang tidak diketahui masyarakat. Selain masa-masa emas, ada risiko-risiko yang harus ditanggung para perempuan yang memasuki masa menstruasi salah satunya infeksi.

“Saya yang juga sebagai dokter kandungan merasa perlu memberikan edukasi itu, karena ternyata banyak kasus terkait kesehatan reproduksi,” tukasnya.

Karena itu, Charm Indonesia  merasa perlu menyediakan aplikasi khusus bagi para remaja putri yang akan dan sudah memasuki masa menstruasi untuk bisa mengakses segala informasi terkait kesehatan reproduksi atau menstruasi.

 “Charm sebagai salah satu pembalut yang disukai masyarakat memiliki tanggung jawab tidak hanya untuk inovasi dan pengembangan produk, tetapi juga tanggung jawab sosial untuk menjadi pionir dalam mengedukasi masalah menstruasi di Indonesia,” jelas Yuji Ishii, President Director PT Uni-Charm Indonesia Tbk. end/ril

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry