Maria Lidwina Endang Suwarni usai dikukuhkan menjadi sarjana pendidikan di wisuda Unusa, Rabu (11/9/2019). DUTA/endang

SURABAYA | duta.co –  Maria Lidwina Endang Suwarni, menyandang gelar sarjana pendidikan dari Universitas Nahdlatul Ulama (Unusa) Surabaya, Rabu (11/9/2019). Maria diwisuda bersama 827 wisudawan lain dari berbagai program studi lainnya di Dyandra Convention Center Surabaya.

Usia lanjut nampaknya tidak membuatnya minder untuk menempuh pendidikan setinggi mungkin. Bahkan tidak takut bersaing dengan anak-anak muda.

“Saya senang, dapat ijazah dan lulus,” ujar kelahiran Semarang, 14 Maret 1950 itu usai dikukuhkan menjadi sarjana pendidikan oleh Rektor Unusa, Prof Dr Ir Achmad Jazidie,MEng.

Maria menempuh pendidikan S1 Program Studi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Kuliah empat tahun ditempuhnya dengan susah payah. Karena selama kuliah, dia harus minta antar anak sulungnya karena tidak bisa mengendarai motor.

Jika anaknya berhalangan, maka tidak ada cara lain selain naik-turun angkota minimal dua kali untuk menuju kampus.

“Kadang-kadang memang ada teman yang mengajak untuk bersama-sama,” katanya.

Karena itu ia bersyukur setelah dirinya akan diwisuda, sang anak dipindah bekerja ke luar kota.

“Saya tidak bisa membayangkan seandainya saya belum selesai kuliah, maka naik-turun angkota akan lebih sering lagi dalam usia yang sudah tak muda lagi,” kata ibu dari tiga anak dan lima cucu ini.

Disadarinya di usia ini, memang tidak ada lagi yang bisa dia diharapkan.

Karena insentif dari Pemkot Surabaya hanya diperuntukkan bagi guru-guru PAUD yang usianya masih muda. Bahkan ada yang tidak mendapatkannya.

“Tapi saya ingin memberi contoh bahwa tidak ada halangan untuk bisa mencapai gelar sarjana,” kata Maria yang mengaku menerima insentif tiap bulan hanya Rp 50 ribu dari pengelola PAUD di daerah  Manukan Kulon, Tandes, Surabaya.

Bagi Maria, apa yang telah dicapainya ini merupakan sebuah kebanggaan tersendiri.

Tapi katanya, dirinya tetap harus rendah diri dan tidak boleh sombong. Ia berharap dapat menjadi contoh untuk cucunya yang kini berjumlah lima orang.

“Cucu pertama saya juga akan diwisuda pada November mendatang. Usia dan fasilitas bukan halangan buat saya, apalagi anak-anak mendorong agar saya bisa menyelesaikan kuliah,” kata anggota tim Penggerak PKK Kelurahan Manukan ini.

Bukti dari sang anak mendorong kuliah adalah, uang kuliah yang dibayarkan merupakan bantuan dari ketiga anaknya. “Beruntung SPP yang kami bayar memperoleh subsidi dari Unusa terkait program Bunda PAUD, jadi kami tidak terlalu berat dalam membayar,” tuturnya.

Mengharap bantuan dari PAUD dimana Maria beraktivitas, rasanya juga tidak mungkin. “Saya bersama teman-teman di PAUD lebih menekankan pada kegiatan sosial, membantu sesama. Saya tetap berkomitmen untuk memajukan dan tetap setia di PAUD sebagai ladang amalan di dunia,” kata Maria yang juga aktif pada kegiatan sosial di gereja ini.

Apa kesannya kuliah di tengah mahasiswa yang dominan muslim? “Bagi saya tidak masalah, saya terbiasa berada dalam lingkungan yang berbeda-beda. Saya harus dapat menyesuaikan penampilan kebanyakan warga kampus,” kata Maria yang sebelum mengajar di PAUD bekerja sebagai karyawan ekspedisi bersama almarhum suaminya. ril/end

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry