Syafa’ani saat diwawancarai sebuah stasiun televisi usai pengukuhan maba baru di Dyandra Convention Center, Senin (16/9). DUTA/endang  

SURABAYA | duta.co – Syifa’ani Maulidah Zakiyah Rosyid menjadi mahasiswa baru (maba) Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) termuda.

Ani, panggilan akrab cewek asal Mojokerto ini dikukuhkan sebagai mahasiswa Fakultas Kedokteran (FK),  Senin (16/9) bersama 1.700 maba lainnya oleh Rektor Prof Dr Ir Achmad Jazidie, MEng.

Biasanya anak lain, masuk kuliah di usia 17 hingga 18 tahun. Tapi Ani mengawali kuliahnya di usia 15 tahun. Cewek kelahiran 12 Mei 2004 ini memang tergolong berprestasi.

Saat masuk sekolah dasar, usianya masih lima tahun. Di bangku Madrasah Tsanawiyah (MTs)  Pondok Pesantren Amanatul Ummah Pacet Mojokerto, hanya ditempuhnya dalam waktu dua tahun.

Begitu pun dengan saat di bangku  Madrasah Aliyah (MA) di pondok pesantren yang sama, ditempuhnya dalam waktu dua tahun. “Alhamdulillah, senang bisa masuk kuliah,” ujar anak pertama pasangan Sulaiman Rosyid dan Anggit K Galih ini.

Sejak kecil, Ani mengaku terobsesi menjadi dokter. Karena dia setiap hari melihat ayahnya Sulaiman Rosyid melakukan aktivitas sebagai dokter di Mojokerto. “Suka kalau lihat ayah praktik. Membantu banyak orang supaya bisa sembuh,” ungkapnya.

Dari sana, Ani mengaku memacu diri. Walau tidak begitu rajin belajar, namun tekadnya sangat kuat untuk bisa menjadi yang terdepan. “Suka matematika, yang lain (pelajaran lain, red) biasa-biasa saja,” tukasnya.

Ani mengaku mendaftar di FK Unusa karena sebelumnya dia ingin menempuh pendidikan dokter di Jerman. Namun, karena di Jerman, pendidikan dokter harus ditempuhnya dalam jangka waktu lama yakni delapan tahun, Ani membatalkannya.

“Kasihan orang tua. Saya sudah mondok lama, jauh dari orang tua, masak ya mau kuliah yang lama dan jauh dari orang tua lagi. Karena batal itu, saya tidak ikut UTBK (ujian tulis berbasis komputer) sebagai syarat daftar SBMPTN. Jadinya ke Unusa saja, karena FK-nya bagus,” jelasnya.

Dalam pengukuhan maba 2019/2020, Unusa menghadirkan Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Dardak. Emil memberikan kuliah perdana pada maba Unusa dari berbagai fakultas yang ada.

Dalam kesempatan itu, Emil berharap, daerah-daerah di Jawa Timur yang masih banyak permasalahan yang dihadapi, bisa dijadikan laboratorium bagi para mahasiswa Unusa khususnya.

“Jadikan Jawa Timur ini sebagai tempat untuk belajar sambil praktik. Kalau di Unusa sendiri, kami ingin mereka fokus memberdayakan ekonomi pesantren melalui program one pesantren one product (OPOP),” tukas Emil.

Pengukuhan maba baru ini juga dihadiri Ketua Yayasan Rumah Sakit Islam Surabaya (Yarsis) Prof Mohammad Nuh, DEA dan jajaran rektorat dan pejabat Unusa lainnya. end

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry