Oleh: Eny Zuhrotin Nasyiah, SE,MAk, CPA*

TANTANGAN dunia pendidikan kini semakin berat dengan datang dan berkembangnya teknologi yang semakin besar. Seluruh peserta didik adalah generasi millenial yang mempunyai gaya hidup, perilaku, dan wawasan serta cita-cita yang berbeda dengan generasi para pendidik yang hampir semuanya kelahiran abad silam. Ini adalah tantangan yang sangat besar karena perbedaan paradigma antara generasi pendidik (guru dan dosen) dengan para peserta didik yaitu siswa dan mahasiswa.

Perbedaan ini dipengaruhi oleh kehadiran teknologi baru yaitu teknologi 4G dan 5G yang harus ditanamkan kebenak seluruh peserta didik agar menjadi manusia yang mampu mengikuti perkembangan teknologi dan mampu memanfaatkan untuk kehidupannya. Hal ini penting mengingat para pakar banyak yang meyakini akan muncul puluhan jenis pekerjaan yang segera hilang digantikan oleh teknologi baru atau lapangan pekerjaan yang biasanya padat karya tidak lagi memerlukan karyawan dalam jumlah besar karena berbagai bentuk efisiensi akibat kehadiran teknologi baru. Bahkan menurut beberapa pakar meyakini bahwa 10 sampai 15 tahun ke depan universitas di Amerika akan hilang paling tidak setengah dari jumlah yang ada karena munculnya inovasi seperti  MOOCs (Massive online open courses).

Menyadari hal itu, maka segenap institusi pendidikan baik tingkat dasar, menengah, dan perguruan tinggi harus berbenah. Jika mengandalkan cara bekerja lama atau BAU (buisnees as usual) pasti akan tersisih dan dampaknya peserta didik tidak akan dapat mengikuti perkembangan tekhnologi yang ada. Dunia pendidikan harus berbenah mempersiapkan mental dan keahlian peserta didik dari segala aspek kehidupan seperti tuntutan era milenial. Setidaknya terdapat 4 poin yang harus menjadi acuan dalam pendidikan seperti dilansir dan banyak disitasi dari enGauge 21 Centry Skill.

Pertama, generasi milenial harus dipersiapkan dan dibimbing agar mempunyai kemampuan atau paling tidak harus paham literasi digital (digital-age-literacy) artinya peserta didik harus dipersiapkan, dikenalkan sampai paham dengan teknologi digital sehingga mereka benar-benar dapat memanfaatkan teknologi digital dalam kehidupan sehari-hari termasuk kelebihan dan kelemahan teknologi ini.Tanpa literasi yang baik peserta didik akan ketinggalan dalam memanfaatkan dan mengejar kemajuan zaman.

Kedua, peserta didik harus didorong untuk selalu berusaha dan mencari sesuatu yang baru yang berguna bagi kehidupan atau inventif thinking. Invention atau menemukan sesuatu yang baru sangat terbuka luas di era teknologi digital ini buktinya banyak generasi milenial yang menemukan start up yang sangat berguna tidak hanya untuk dirinya sendiri namun juga untuk masyarakat luas. Untuk itu peserta didik harus dibimbing ke arah kesadaran bahwa menggunakan atau memanfaatkan teknologi digital adalah mutlak baginya.

Ketiga, setiap peserta didik harus didorong untuk move on dari belajar dengan pola lama atau hanya sebatas bangku sekolah dan bangku kuliah dalam mencari ilmu kearah sikap dan perilaku yang selalu berpikir out of the box agar mempunyai produktivitas yang tinggi (high productivity).

Keempat, peserta didik harus dipersiapkan, dilatih, dan dibimbing untuk memiliki kemampuan dan ketrampilan dalam bidang komunikasi tingkat tinggi (high communication). Komunikasi adalah salah satu aspek terpenting dalam menentukan sukses tidaknya dalam menjalani kehidupan di era digital termasuk pelayanan kepada masyarakat baik di tingkat regional, nasional, maupun internasional.

Jadi, konsep pendidikan yang sangat cocok dan penting untuk segera dilakukan oleh seluruh institusi pendidikan terutama pendidikan tinggi adalah program pre-employement. Universitas harus benar-benar mempersiapkan mahasiswa sehingga siap diterima pasar kerja atau mempunyai usaha sendiri tanpa memerlukan pelatihan kerja karena pelatihan kerja sudah dilakukan di bangku kuliah. Siapa pun yang mendapat amanah memimipin perguruan tinggi harus mempunyai pemahaman yang baik tentang tuntutan era millenial. Bagaimana akan mempersiapkan alumni yang sukses kalau manajemen tidak jauh-jauh hari mempersiapkan diri sesuai dengan tuntutan zaman. Program pembelajaran termasuk kurikulum harus membumi, mengacu ke perkembangan teknologi sesuai dengan disiplin ilmu yang ada tanpa meninggalkan ketentuan yang berlaku.

Dengan kata lain semua kurikulum harus mengacu pada perkembangan teknologi. Pengelola perguruan tinggi harus menyadari bahwa generasi millenial ditandai dengan high mobile, apps-dependant, dan always connected. Artinya peserta didik sekarang ini mempunyai kecepatan yang tinggi dalam hal apapun dan sangat bergantung atau apps-dependant artinya hampir semua kehidupannya tergantung pada aplikasi yang tersedia dalam teknologi digital dan saling berhubungan satu sama lain termasuk akses mencari data dan perpustakaan secara mudah. Kemudahan akses mencari data ini akan merubah pandangan lama bahwa ”antara pengajar dan peserta didik perbedaannya adalah pengajar lebih dahulu belajarnya daripada peserta didik.” sekarang bisa saja peserta didik terlebih dahulu tahu tentang kekinian ilmu. Maka dengan kondisi demikian pengajarpun harus mengasah kemampuannya untuk bisa  menyesuaikan dengan perilaku peserta didik karena untuk membendung tekhnologi ini sudah sangat tidak mungkin. Ketika pengajar memberikan pertanyaan untuk diskusi kelas, siswa/mahasiswa secepat kilat mencari jawaban di internet, namun sayangnya hal ini sering tidak disadari oleh siswa bahwa jawaban di internet membutuhkan pemahaman lebih lanjut dengan bepikir kritis dan mengeksplore lebih dalam dari setiap informasi yang telah diunduhnya.

Sekali lagi kehadiran tekhnologi memudahkan namun jangan menjadikan ketergantungan, terlebih dalam ranah pendidikan yang bervisi menciptakan generasi kritis dan berintegritas. Manfaatkanlah tekhnologi secara bertanggungjawab sehingga cita-cita mulia pendidikan nasional  (Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 3) yaitu  untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab tidak akan tercabut dari akarnya. Maka sekarang peran pendidik lebih ditingkatkan pada sisi pemindahan nilai (transfer of value) bukan semata-mata pemindahan pengetahuan (transfer of knowledge).

*Penulis adalah Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Malang.

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry