Adi Feriyanto, salah satu dari sekian pekerja di PPO, Djarum OASIS Kretek Factory, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah sedang melakukan pekerjaannya, Rabu (19/11/2025). DUTA/ist

KUDUS | duta.co –  Adi Feriyanto adalah satu dari sekian pekerja di Djarum OASIS Kretek Factory,  Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Saat bertemu dengannya Rabu (19/11/2025), siang, dia sedang melakukan pekerjaannya. Tempat kerjanya di bagian belakang dari sekitar 11 hektar  lebih luas lokasi itu.

Dia bertugas menambahkan arang bubuk pada sampah rumah tangga yang diproses di mesin pencacah. Dia telaten menuang sedikit demi sedikit bubuk dari dalam karung goni ke sampah yang mengalir di mesin mencacah itu.

Dua tahun terakhir, dia bekerja di Pusat Pengolahan Organik (PPO) yang ada di OASIS itu.  Sebelumnya, Adi mengaku bekerja sebagai pengantar paket. “Di sini betah,” katanya.

Dia tidak menjawab ketika ditanya mengapa  betah kerja di tempat itu, padahal tempat kerjanya itu bagi sebagian besar orang, adalah tempat ‘kotor’ dan ‘bau’. Dia hanya mengaku betah. Nampaknya dia menikmati bau itu dengan hanya menggunakan pelindung  hidung dan mulut atau masker. Itu dia nikmati mulai pukul 07.00 hingga 15.00 WIB, enam hari dalam seminggu.

Adi dan beberapa temannya adalah pahlawan bagi lingkungan. Walau ada banyak alat canggih untuk mengolah sampah dapur atau organik di tempat itu, namun tangan mereka tetap jadi ujung tombak sampah dapur bisa jadi pupuk organik yang bermanfaat bagi lingkungan. Yang bermanfaat untuk kesuburan tanah dan  pertumbuhan pohon serta menjaga lingkungan tetap hijau. Serta bisa mengurangi penumpukan sampah dapur di tempat pembuangan akhir (TPA).

Proses mengolah sampah organik untuk dijadikan pupuk di PPO Djarum OASIS Kretek Factory, Kudus. DUTA/ist

Djarum OASIS Kretek Factory sendiri didirikan pada 2013. Selain sebagai pabrik terbesarnya Djarum yang memproduksi rokok kretek, tempat itu juga digunakan sebagai PPO pada 2018. PPO di tempat itu yang terbesar di Indonesia. Menggunakan sistem fermentasi, tempat itu bisa menghasilkan 50 ton sampah organik dari 100 ton bahan baku sampah dapur setiap harinya. Dengan standar Singapura dan Australia, pengolahan sampah dapur ini tidak menimbulkan bau di lingkungan sekitar dan tidak menghasilkan gas metan sehingga tidak mudah terbakar dan sangat ramah lingkungan.

Sampah dapur yang diolah di PPO itu diperoleh dari 408 mitra yang ada di seluruh Kota Kudus, mulai rumah tangga, hotel, restoran dan rumah sakit. Ada juga yang dari gabungan kelompok tani (Gapoktan).

Bahkan juga berasal dari dapur-dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menjadi pelaksana program Makan Bergizi Gratis (MBG). Sampah itu diangkut oleh 12 kendaraan sebagai kendaraan operasional. Dan tentunya sampah yang diangkut itu yang benar-benar sampah organik yang sudah dipilah oleh mitra.

Tidak semua masyarakat dan pelaku usaha di Kudus bergabung menjadi mitra PPO. Beruntung, Pemkab Kudus mendukung program ini. Secara tidak tertulis, Pemkab Kudus katanya tidak akan memberikan izin operasional restoran atau pelaku usaha kuliner jika tidak memilah sampah dan tidak menjadi mitra PPO.

Bahkan jika tidak memilah dan tidak bermitra dengan PPO maka tidak akan ada satupun pihak ketiga yang mengambil sampah dapurnya.

Supervisor Program Associate, Bakti Lingkungan Djarum Foundation, Timothy Ariel mengatakan PPO ini didirikan karena adanya keresahan akibat menumpuknya sampah dapur di tempat pembuangan akhir (TPA) Tanjungrejo. Di TPA itu, 70 persen yang dibuang adalah sampah dapur yang hanya dibuang begitu saja tanpa diolah dan dimanfaatkan.

“Dari sana, Djarum Foundation menginisiasi dibangun tempat pengolahan sampah, khususnya sampah organik. Hasilnya kini sudah banyak. Namun produksi itu belum mencapai kapasitas maksimal. Maksimalnya bisa menghasilkan 100 ton sampah organik, sekarang baru 50 ton selama 16 jam operasional,” ujarnya.

Sampah dapur yang sudah diolah di PPO itu tidak diperjualbelikan. Selain dijadikan kompos untuk pembibitan tanaman yang juga ada di tempat itu, pupuk organik itu juga bisa diambil seluruh masyarakat Kudus dan sekitarnya, gratis.

Pupuk organik yang dihasikan di PPO ini dijadikan media tanam untuk pembibitan tanaman yang juga ada di lingkungan Djarum OASISI Kretek Factory, Kudus, Jawa Tengah. DUTA/ist

Perlu diketahui, di Djarum OASIS itu selain ada PPO juga ada pusat pembibitan tanaman (PPT). Di PPT itu dikembangkan aneka tanaman dari yang langka hingga tanaman buah seperti mangga, alpukat, pisang dan sebagainya.

Pembibitan itu dilakukan dari biji terutama yang tanaman buah. Dirawat dengan sangat baik dan prosedural hingga bisa menghasilkan bibit siap tanam yang berkualitas.

Dan sama seperti PPO, tanaman yang ada di PPT itu juga tidak diperjualbelikan.  Djarum sendiri punya program Trees for Life atau aksi tanam pohon di seluruh Indonesia. Pohon yang ditanam di program itu berasal dari PPT Djarum OASIS.

Hingga saat ini sudah 2,3 juta pohon trembesi tertanam di jalur Pantura Jawa, tol Trans Jawa Merak hingga Banyuwangi, serta di tol Trans Sumatera. Panjangnya kurang lebih 3.361 kilometer (KM). Juga telah ditanam 1.102.468 lebih pohon mangrove di Pantai Utara Jawa Tengah. Serta 103.400 lebih ragam jenis pohon telah ditanam di kawasan Gunung Muria.

“Sama seperti sampah organik, bibit tanaman di sini juga bisa diambil gratis. Organisasi, lembaga, PKK atau siapapun yang mau boleh meminta. Tentunya ada prosedur yang harus dilakukan,” kata Timothy.

BLDF Inisiasi Kudus Apik dan Resik (ASIK)

Setelah PPO ini berjalan dengan baik, Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF), bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus menginisiasi dibentuknya Kudus ASIK (Apik dan Resik).

Peluncuran Gerakan Kudus ASIK yang diinisiasi Bakti Lingkungan Djarum Foundation dan Pemkab Kudus. DUTA/ist

Kudus ASIK awalnya dicanangkan pada 2022 untuk meningkatkan kepedulian generasi muda khususnya, terhadap pentingnya pemilahan sampah yang berbasis digital.

Mutiara Diah Asmara selaku Director  Communications Djarum Foundation berharap Kudus ASIK bisa menjadi motivasi masyarakat Kudus. “Khususnya generasi muda untuk dapat berpartisipasi dalam memilah sampah demi menjaga lingkungannya tetap bersih,” ujarnya.

Pemkab Kudus sendiri mengaku Kudus ASIK  bisa menjadi motor penggerak dalam mendorong kesadaran warga. Apalagi program ini sejalan dengan rencana grand design pengelolaan sampah berkelanjutan di Kabupaten Kudus.

Sekretaris Daerah Kabupaten Kudus Revlisianto Subekti menegaskan program ini butuh keterlibatan seluruh elemen masyarakat untuk memilah sampah, sehingga bisa menjadi bagian dari keseharian. Program ini merupakan inisiatif dan menjadi langkah strategi dalam mewujudkan Kabupaten Kudus yang lebih bersih, sehat dan berkelanjutan.

“Optimalisasi pengelolaan sampah menjadi fokus utama kami, dan hal ini membutuhkan kerja sama berbagai pihak, sehingga dapat terus berkembang dan memberikan manfaat besar,” jelasnya.

“Dan saya mengapresiasi upaya BLDF yang terus menunjukkan komitmen luar biasa dalam menciptakan perubahan nyata sekaligus memberdayakan masyarakat Kudus,” tambahnya.

Bentuk Agen Asik

Untuk mendukung program Kudus ASIK ini, BLDF membentuk agen. Agen ini sebagai motivator, penggerak serta edukator terkait lingkungan, pengolahan sampah dan sebagainya. Semuanya untuk mendukung Kudus bebas sampah, hijau dan asri.

Agen Inisiator Kudus ASIK adalah Isman Ridhwansah selalu menyelipkan kampanye pilah dan olah sampah organik di setiap kegiatannya sebagai seorang chef dan inluencer. DUTA/ist

Salah satu Agen Inisiator Kudus ASIK adalah Isman Ridhwansah. Isman adalah influencer yang pernah mengikuti ajang pencarian bakat memasak, Master Chef season 7.

Ditunjuk sebagai Agen ASIK pada 2022 lalu, atau setahun setelah lepas dari ajang Master Chef. “Ditawari oleh Bakti Lingkungan Djarum Foundation untuk terlibat dalam program ini,” kata Isman.

Sebagai Agen ASIK, Isman memiliki tugas untuk menyuarakan tentang program Kudus ASIK. Utamanya tentang olah dan pilah sampah melalui media sosial yang dimiliki serta di berbagai kegiatan offline yang dia lakukan. Kampanye ini dia tujukan untuk emak-emak dan ibu rumah tangga yang ada di Kudus.

Sebagai seorang master chef, Isman selama ini membuat konten media sosial yang ada kaitannya dengan memasak. “Kegiatan memasak itu selalu nyampah (menghasilkan banyak sampah, red). Pasti banyak sampah dari dapur yang dihasilkan. Begitu ditawari jadi Agen ASIK saya langsung mau, bersedia. Nah sambil masak itulah saya selipkan kampanye olah pilah sampah,” jelasnya.

“Biasanya saya edukasi mengolah sampah dapur yang masih bisa dijadikan makanan. Misal kulit jeruk, yang biasanya langsung dibuang, tapi bisa dijadikan manisan dan sebagainya,” tambahnya.

Apa yang dilakukan Isman ini melalui media sosialnya @ismanmci7 itu diharapkan bisa menginspirasi emak-emak untuk peduli akan lingkungan,” tuturnya.

Walau kata Isman apa yang dilakukannya itu tidaklah mudah. Pertama kali menjadi Agen ASIK, dia sempat mengalami penurunan follower di IG-nya. Tapi itu tidak membuatnya patah semangat.

Apalagi, dia berasal dari daerah bantaran sungai yang membuatnya terbiasa dengan permasalahan sampah dan banjir. Sehingga tekatnya kuat untuk mengatasi masalah lingkungan ini. “Saya semakin yakin bisa menginfluen masyarakat karena ada dukungan dari Djarum Foundation. Jadi ada kesempatan dan saatnya memang kita harus terlibat,” tukasnya.

Dari komitmen dan kepedulian, akhirnya di 2024 lalu follower di IG-nya kembali naik. Dan kenaikan itu organik tanpa rekayasa.  “Alhamdulillah, follower saya sudah mulai peduli. Itu dibuktikan dengan seringnya mereka membagi kegiatan olah pilah sampah di lingkungan tempat tinggalnya,” tukasnya.

Ke depan Isman mengaku akan terus berkomitmen peduli akan lingkungan terutama sampah. Nantinya Ridhwan akan turun ke tempat pelaku usaha kuliner di Kudus untuk sharing tentang pengolahan limbahnya.

“Target saya begitu, agar nanti pelaku usaha kuliner itu lebih paham, sadar dan peduli. Contoh pengusaha ketela goreng. Selama ini kulit ketelanya mereka buang ala kadarnya. Nanti kalau saya turun ke tempat mereka akan saya ajak untuk mengolah kulitnya. Sehingga sampah dapur itu bisa berkurang di Kudus ini,” tuturnya.

Pelaku Usaha Kuliner jadi Mitra

Untuk mewujudkan Kudus ASIK ini, BLDF juga mengajak pelaku usaha kuliner di Kudus untuk menjadi mitra. Seperti dijelaskan sebelumnya, mitra ini harus bisa memilah sampah sesuai dengan jenisnya, basah, kering, plastik dan sebagainya.

Sampah basah atau sampah dapur atau organik, nantinya akan diambil oleh tim PPO untuk dibawa ke pusat pengolahan yang ada di Djarum OASIS. Jika pelaku usaha tidak menjadi mitra, maka tidak akan ada satupun petugas pengangkut sampah yang akan membawa sampah mereka.

Dan Deputy Program Manager Bakti Lingkungan Djarum Foundation, Redi Prasetyo memberikan apresiasi atas komitmen para mitra untuk  memilah sampah. “Kami berharap mitra yang terlibat akan terus bertambah sehingga sampah organik di Kabupaten Kudus dapat terolah dengan baik,” ungkap Redi.

Salah satu mitra PPO adalah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Glantengan. Kerjasama ini sudah dilakukan sejak pertengahan September 2025 lalu.

Hal itu dibenarkan Kepala SPPG Glantengan, Muhammad Ilham Fikriyanto . Diakui Ilham kerjasama ini dilakukan untuk  mengurangi tumpukan sampah organik setelah memasak menu untuk Makan Bergizi Gratis (MBG). Dan ketika ditawari, pihaknya langsung menyetujui untuk menjadi mitra. “Kami harus memilah sampah dan itu akhirnya jadi kebiasaan,” katanya.

Tim PPO setiap hari datang ke tempat SPPG Glantengan. Yang diambil hanya sampah organik yang sudah dipilah.

Setiap hari SPPG itu menyetor sekitar 20 kilogram hingga 30 kilogram sampah organik yang terdiri dari sampah sisa nasi, lauk-pauk, dan sayuran. *endanglismari

 

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry