
SURABAYA | duta.co – Sembilan program studi (prodi) Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) di tiga kampus swasta Surabaya, diluncurkan secara bersama, Sabtu (21/2/2026). Tiga kampus itu, Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa), Universitas Hang Tuah (UHT) dan Universitas Ciputra (UC).
Untuk Unusa ada dua prodi yakni Spesialis Paru dan Obgin, UC ada dua yakni Obgin dan Bedah sedangkan di UHT ada lima prodi yakni Obgin, Bedah, Kesehatan Anak, Jantung Pembuluh dan Anastesi.
Peluncuran ini menjadi sebuah komitmen bersama tiga kampus tersebut untuk mengabdi pada bangsa dan negara.
Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi di Kementerian Pendidikan Tinggi, Ilmu Pengetahuan dan Teknolog, Prof Khoirul Munadi mengatakan peluncuran ini sebagai bukti tindak lanjut dari program prioritas Presiden Prabowo untuk percepatan pemenuhan jumlah dokter spesialis.
“Setelah melakukan berbagai hal, maka di akhir 2025 kamu bisa membuka 160 prodi PPDS. Padahal targetnya hanya 148. Ada tambahan, bonus,” katanya saat hadir dalam peluncuran itu di Auditorium Unusa.
Untuk prodinya memang bermacam-macam. Disesuaikan dengan kebutuhan saat ini misalnya Obgin, Kesehatan Anak, Bedah, Anastesi dan banyak lainnya.
“Ini hasil kerjasama yang baik antar banyak pihak. kampus, Pemda, swasta, rumah sakit dan banyak lainnya,” ungkapnya.
Pembukaan prodi PPDS di kampus swasta yang memiliki fakultas kedokteran itu dikatakan Prof Khoirul menjadi salah satu terobosan agar distribusi yang selama ini menjadi isu utama bidang layanan kesehatan bisa diselesaikan.
Untuk sembilan prodi PPDS ini, ada dua kampus negeri yang menjadi pengampu atau pendamping. Yakni Universitas Airlangga (Unair) dan Universitas Negeri Solo (UNS). Unair khusus untuk prodi Obgin dan UNS untuk Paru.
Rektor Unair, Prof Muhammad Madyan mengatakan Unair melalui fakultas kedokterannya siap untuk menjadi pembina PPDS Obgin. Unair sudah menyiapkan segala hal untuk mendampingi FK yang baru membuka PPDS Obgin.
“Pembinaan mulai proses pembelajaran hingga praktiknya. Karena dokter itu yang dihadapi manusia jadi tidak boleh main-main. Unair akan terus mendampingi sehingga output-nya nanti bisa sesuai standar,” katanya.
Sementara peluncuran bersama PPDS ini, kata Prof Mohammad Nuh, Ketua Yayasan Rumah Sakit Islam Surabaya—yang menawungi Unusa– merupakan langkah strategis dan bersejarah dalam memperkuat kapasitas layanan kesehatan nasional.
Kolaborasi antara Fakultas Kedokteran Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya, Universitas Ciputra Surabaya, dan Universitas Hang Tuah Surabaya menunjukkan bahwa perguruan tinggi memiliki peran sentral dalam menjawab kebutuhan strategis bangsa.
“Kita menyadari bahwa Indonesia masih menghadapi kekurangan dokter spesialis di berbagai bidang penting, mulai dari kesehatan ibu dan anak, bedah, penyakit jantung, hingga perawatan intensif. Melalui pembukaan sembilan program PPDS ini, kami berkomitmen untuk mempercepat pemenuhan tenaga dokter spesialis yang kompeten, beretika, dan siap mengabdi di seluruh wilayah Indonesia,” katanya.
Disampaikan Nuh, kolaborasi ini bukan sekadar penambahan program pendidikan, tetapi sebuah gerakan bersama untuk memperkuat sistem kesehatan nasional. Dengan dukungan rumah sakit pendidikan dan jejaring layanan kesehatan, program ini dirancang untuk menghasilkan dokter spesialis yang unggul secara klinis, adaptif terhadap perkembangan teknologi medis, serta memiliki kepedulian sosial terhadap kebutuhan masyarakat.
“Inisiatif ini sejalan dengan agenda transformasi kesehatan nasional dan mendukung prioritas pembangunan sumber daya manusia unggul sebagaimana menjadi fokus Pemerintah. Saya berharap kolaborasi ini menjadi model sinergi antar institusi pendidikan kedokteran di Indonesia, sehingga akses layanan kesehatan berkualitas semakin merata dan masyarakat mendapatkan pelayanan terbaik,” katanya. ril/lis





































