TERPILIH : Project Leader Unusa, Fifi Khoirul Fitriyah (kanan) menunjukkan hasil karya bersama timnya untuk program Bengkel Numerasi yang didukung oleh Program INOVASI, Indonesia Australia, di Hotel JW Marriott Surabaya, Rabu (7/11). DUTA/endang

SURABAYA | duta.co –  Tim Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) memamerkan dan mempresentasikan hasil kerjasama dengan INOVASI, Rabu (7/11) di Hotel JW Marriott Surabaya.

INOVASI adalah sebuah program kemitraan antara pemerintah Australia dengan Indonesia untuk meningkatkan mutu pendidikan.

Unusa menampilkan Bengkel Numerasi yang selama ini menjadi program yang diajukan ke tim INOVASI.

Bengkel Numerasi ini dilakukan di beberapa sekolah di Lekok Pasuruan. Program ini menekankan pada tiga program unggulan.

Yakni manajemen berbasis sekola (MBS), pembelajaran numerasi berbasis pendekatan matematik realistik Indonesia (PMRI) serta fasilitator daerah untuk pembelajaran numerasi.

Tolak ukur keberhasilan program adalah meningkatnya hasil belajar siswa dalam bidang numerasi melalui pembelajaran matematika.

Karenanya program ini akan melibatkan peran KKG (Kelompok kerja guru) dan KKKS (Kelompok kerja kepala sekolah) untuk berdiskusi tentang masalah-masalah pembelajaran numerasi di dalam kelas.

Project Leader Unusa, Fifi Khoirul Fitriyah mengatakan Unusa menjadi salah satu dari 17 mitra yang terpilih secara nasional dari 400 proposal yang masuk ke Tim INOVASI.

“Perjuangannya cukup melelahkan. Awal proposal di Januari 2018 hingga tanda tangan diterima programnya September. Tapi kami puas dengan keberhasilan ini. Karena ini hibah pertama dari luar negeri,” ujar Fifi.

Unusa merupakan pemain baru dalam kompetisi ini, jika dibandingkan dengan kiprah universitas-universitas lainnya yang juga lolos seperti Unesa dan Uinsa.

“Hasil ini merupakan kerja keras dari tim Unusa,” jelasnya.

Program INOVASI ini resmi dilaunching. Sebanyak 17 tim dari Kalimantan Utara (Kaltara), Nusa Tenggara Timur (NTT), Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Jawa Timur dihadirkan.

Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Balitbang Kemendikbud, Mochammad Abduh PhD  mengatakan program INOVASI ini adalah kolaborasi yang sudah dibahas sejak lama, sejak 2016 lalu.

“Berdasarkan diskusi dan pertimbangan-pertimbangan muncullan usulan empat provinsi itu,” ujarnya.

Metode-metode yang diberikan 17 tim yang terpilih itu berbeda. Disesuaikan dengan cara pandang dan kearifan lokal setempat.

Karena diakui Abduh, kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan pusat belum tentu cocok diterapkan di semua daerah. Sehingga memang dibutuhkan cara-cara seperti ini.

“Permasalahan lokal harus diselesaikan dengan pendekatan lokal.

Seperti program INOVASI ini, masing-masing tim berbeda-beda metode pembelajarannya karena disesuaikan dengan kondisi masing-masing daerah,” tukasnya.

Direktur Program INOVASI Mark Heyward mengatakan kemitraan baru ini akan membantu memperluas kegiatan INOVASI di provinsi mitra.

Dan ini akan turut berkontribusi dalam menghasilkan bukti-bukti dan pendekatan yang efektif meningkatkan kemampuan literasi dan numerasi siswa SD/Ml.

“Program rintisan yang dilakukan melalui kemitraan ini juga menjadi bentuk upaya kami dalam memperluas jangkauan program dan juga agar semakin banyak bekerja dengan orang tua, masyarakat, dan tenaga kependidikan setempat,” tandasnya.  end

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.